Empat bulan setelah merger bersejarah senilai Rp104 triliun antara PT XL Axiata Tbk (EXCL) dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) resmi beroperasi pada 16 April 2025, realitas finansial XLSmart justru menampilkan gambaran yang kontras dengan proyeksi optimis yang dilontarkan sebelumnya. Alih-alih menciptakan entitas telekomunikasi yang lebih kuat dan efisien, semester pertama 2025 mencatat kerugian mencengangkan sebesar Rp1,22 triliun sebuah penurunan drastis dari keuntungan Rp1 triliun yang diraih XL Axiata pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ironi ini menjadi lebih pahit ketika mengingat bahwa merger ini dirancang untuk menghasilkan sinergi prapajak senilai USD 300-400 juta per tahun, dengan proyeksi pendapatan proforma mencapai Rp45,8 triliun dan margin EBITDA 49%. Namun realitas berkata lain: meskipun pendapatan XLSmart tumbuh 11,98% menjadi Rp19,09 triliun, beban operasional yang melonjak drastis justru menenggelamkan perusahaan dalam kerugian yang dalam.
Kerugian Rp1,22 triliun XLSmart pada semester pertama 2025 bukan indikator kegagalan merger, melainkan cerminan kompleksitas proses integrasi yang memerlukan waktu dan investasi substansial. Eskalasi biaya operasional yang terjadi merupakan konsekuensi logis dari penggabungan dua entitas besar dengan sistem, budaya, dan infrastruktur yang berbeda.
Kunci keberhasilan merger ini terletak pada kemampuan manajemen untuk mengelola proses integrasi secara sistematis sambil mempertahankan fokus pada realisasi sinergi jangka menengah. Pengalaman merger sukses di industri telekomunikasi menunjukkan bahwa periode 2-3 tahun pertama pasca-merger seringkali ditandai dengan tekanan finansial sebelum mulai menuai hasil optimal.
Bagi industri telekomunikasi Indonesia, kasus XLSmart menjadi pembelajaran berharga tentang pentingnya perencanaan integrasi yang matang, ekspektasi yang realistis, dan komitmen jangka panjang dari seluruh stakeholder. Dalam jangka panjang, konsolidasi industri ini diharapkan akan menciptakan struktur pasar yang lebih sehat dan mendorong inovasi layanan digital yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia.
Analisis mendalam terhadap struktur biaya XLSmart mengungkap akar masalah sesungguhnya di balik kerugian triliunan ini. Data finansial semester pertama 2025 menunjukkan eskalasi biaya yang sistematis dan masif di hampir seluruh lini operasional.

Beban penyusutan menjadi penyumbang terbesar kerugian dengan lonjakan 20,59% dari Rp6,06 triliun menjadi Rp7,31 triliun. Peningkatan ini mencerminkan dampak langsung dari konsolidasi aset infrastruktur kedua perusahaan, dimana XLSmart harus mengakui depresiasi atas total aset gabungan yang nilainya jauh lebih besar dari sebelumnya.
Biaya infrastruktur mengalami kenaikan 21,9% menjadi Rp5,36 triliun, menunjukkan kompleksitas integrasi jaringan yang ternyata lebih mahal dari perkiraan awal. Proses penggabungan spektrum frekuensi 152 MHz (90 MHz dari XL dan 62 MHz dari Smartfren) serta optimalisasi 14.000-20.000 site jaringan ternyata memerlukan investasi infrastruktur yang masif.
Yang paling mengejutkan adalah lonjakan biaya interkoneksi dan beban langsung lainnya sebesar 33,80% menjadi Rp2,12 triliun. Peningkatan ini mengindikasikan kesulitan teknis dalam mengintegrasikan sistem operasional kedua perusahaan, yang berimplikasi pada biaya operasional harian yang lebih tinggi dari proyeksi.
Biaya keuangan juga meningkat 21,25% menjadi Rp1,87 triliun, mencerminkan beban bunga dari struktur pembiayaan merger dan kemungkinan refinancing yang diperlukan untuk mendanai proses integrasi.
Kegagalan merealisasikan sinergi dalam semester pertama pasca-merger bukanlah fenomena yang jarang dalam industri telekomunikasi. Penelitian akademis menunjukkan bahwa integrasi pasca-merger memerlukan periode yang panjang dan mahal sebelum sinergi dapat terwujud, dengan banyak perusahaan mengalami penurunan kinerja di fase awal integrasi.
Dalam kasus XLSmart, kompleksitas integrasi tampak jauh lebih menantang dari perkiraan manajemen. Penggabungan dua budaya korporat yang berbeda, sistem IT yang heterogen, dan proses bisnis yang belum seragam memerlukan investasi tambahan yang signifikan. CEO XLSmart Rajeev Sethi sendiri mengakui bahwa perusahaan harus fokus pada penyelesaian proses merger sambil menghadapi intensitas kompetisi yang semakin ketat.
Studi kasus merger telekomunikasi di Indonesia menunjukkan bahwa bahkan merger yang sukses seperti Indosat Ooredoo-Hutchison memerlukan 9 kuarter untuk menyelesaikan rencana integrasi* dan baru mulai menunjukkan hasil optimal setelah periode tersebut. Ini menunjukkan bahwa ekspektasi sinergi jangka pendek pada merger XLSmart mungkin terlalu optimis.
Kerugian XLSmart terjadi di tengah *transformasi struktural industri telekomunikasi Indonesia yang sedang mengalami konsolidasi masif. Dari empat pemain utama, kini tersisa tiga operator besar: Telkomsel, Indosat Ooredoo Hutchison, dan XLSmart. Meskipun konsolidasi ini secara teoritis akan menciptakan lingkungan persaingan yang lebih sehat, realitas menunjukkan bahwa fase transisi justru menimbulkan tekanan finansial yang berat.
Persaingan harga yang masih intens tetap menjadi tantangan utama. Data menunjukkan bahwa ARPU (Average Revenue Per User) Indonesia masih berkisar di Rp34.000-36.000 (USD 2,7-2,9), relatif stagnan dalam lima tahun terakhir meskipun penetrasi internet terus meningkat. Kondisi ini memaksa operator untuk bergantung pada efisiensi operasional daripada kenaikan tarif untuk meningkatkan profitabilitas.
Perbandingan dengan Merger Sukses, Pelajaran dari Indosat
Kontras yang mencolok terlihat ketika membandingkan kinerja awal XLSmart dengan merger Indosat Ooredoo-Hutchison yang diselesaikan pada 2022. Merger Indosat berhasil menghasilkan peningkatan pendapatan 48,9% YoY dan EBITDA Rp19,468.7 miliar, dengan realisasi sinergi yang berjalan mulus dan bahkan lebih cepat dari jadwal.
Perbedaan mendasar terletak pada persiapan dan eksekusi integrasi. Indosat menggunakan teknologi Multi-Operator Core Networks (MOCN) untuk mempercepat integrasi jaringan dan memiliki rencana integrasi 9-kuarter yang detail dan terukur. Sebaliknya, XLSmart tampaknya menghadapi tantangan yang lebih kompleks dalam mengintegrasikan infrastruktur dan sistem operasional.
Meskipun semester pertama 2025 menunjukkan kinerja yang mengecewakan, potensi sinergi jangka menengah XLSmart tetap signifikan. Penelitian valuasi menunjukkan bahwa merger ini berpotensi menghasilkan nilai sinergi Rp3,7 triliun pada 2025 melalui optimalisasi biaya operasional dan peningkatan efisiensi.
Manajemen XLSmart menargetkan penghematan biaya melalui dekomisi 20-30% dari total sites yang overlap, optimalisasi saluran distribusi, dan efisiensi G&A serta marketing. Dengan total spektrum 152 MHz dan basis pelanggan 94,5 juta, XLSmart memiliki posisi strategis untuk menjadi pemain kedua setelah Telkomsel.
Bagi investor, kerugian semester pertama ini menyoroti pentingnya perspektif jangka panjang dalam mengevaluasi merger telekomunikasi. Axiata Group, sebagai pemegang saham mayoritas, perlu mempertahankan komitmen finansial untuk mendukung proses integrasi yang memerlukan waktu dan investasi tambahan.
Pelanggan diharapkan tetap dapat menikmati layanan yang tidak terinterupsi meskipun terjadi proses integrasi yang kompleks. Komitmen manajemen untuk mempertahankan tiga brand (XL, Smartfren, dan Axis) dapat membantu menjaga loyalitas pelanggan selama periode transisi.
Bagi regulator, hasil ini menggarisbawahi pentingnya monitoring ketat terhadap dampak merger terhadap kualitas layanan dan kompetisi pasar. Kementerian Komunikasi dan Digital telah menetapkan kewajiban peningkatan kecepatan unduh hingga 16% pada 2029 sebagai bagian dari persetujuan merger.


