Sidoarjo, Gresik, dan Kota Malang selama ini identik dengan kawasan ekonomi terkuat di Jawa Timur. PDRB per kapita mereka berada di kelompok tertinggi provinsi, didukung kawasan industri besar dan akses logistik strategis di Gerbangkertosusila.
Namun ketika data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) 38 kabupaten/kota dibandingkan antara 2015 dan 2025, gambarnya berubah drastis. Sidoarjo kini menempati peringkat pertama TPT tertinggi di Jawa Timur, Gresik naik ke peringkat ketiga, sementara Kota Malang tetap bertahan di posisi kedua. Wilayah yang dikenal paling makmur justru menjadi wilayah dengan tekanan pasar kerja terbesar.
Coba tebak, kalau penulis menyebut nama Sidoarjo dan Gresik, gambaran apa yang muncul di kepala kalian? Kawasan industri padat, pergudangan, akses tol menuju Surabaya, dekat pelabuhan, dan lokasi favorit investasi manufaktur?
Secara ekonomi, kedua kota itu sangat menjanjikan. Asumsi itu memang masuk akal, karena PDRB per kapita kedua wilayah ini termasuk yang tertinggi di Jawa Timur. Lalu, apakah kedua daerah itu otomatis memiliki pasar kerja yang sehat?
Jawabannya: tidak
Menurut, data TPT, seluruh 38 kabupaten/kota dibandingkan antara 2015 dan 2025, justru beberapa wilayah paling makmur muncul sebagai daerah dengan tingkat pengangguran tertinggi. Bukan daerah yang selama ini dikenal tertinggal secara ekonomi.
Lihat chart dibawah ini.

Dari sana terlihat, bahwa perubahan terbesar selama satu dekade bukan selalu kenaikan absolut tingkat pengangguran, melainkan perubahan posisi relatif dibanding kabupaten/kota lain.
Sidoarjo bergeser dari peringkat 6 menjadi peringkat 1. Gresik naik dari peringkat 9 menjadi peringkat 3. Bangkalan bergerak dari peringkat 14 ke peringkat 4. Kabupaten Malang naik dari peringkat 15 ke peringkat 5. Kota Probolinggo mencatat lompatan terbesar, dari peringkat 22 menjadi peringkat 6.
Berbeda dengan wilayah-wilayah tersebut, Kota Malang tetap, berada di peringkat kedua sejak 2015 dan tetap bertahan di kelompok TPT tertinggi hingga 2025. Artinya, persoalan pasar kerjanya bersifat kronis, bukan fenomena baru.
Mengapa Waktunya Terasa Kontraintuitif
Yang membuat temuan ini menarik adalah konteks waktunya. Tahun 2025 justru menjadi tahun dengan nilai ekspor tertinggi Jawa Timur, mencapai sekitar US$30,4 miliar, naik dari US$25,8 miliar pada 2024. Sementara itu, kuartal pertama 2026 mencatat ekspor sekitar US$6,07 miliar, dengan ekspor nonmigas tetap mendominasi.
Rekor ekspor tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan nilai perdagangan tidak otomatis diterjemahkan menjadi penyerapan tenaga kerja yang lebih baik. Hubungan keduanya tidak selalu searah, terutama ketika peningkatan produktivitas, otomatisasi, efisiensi produksi, maupun restrukturisasi industri ikut berperan. Data dalam artikel ini menunjukkan keduanya terjadi pada periode yang sama, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat.
Kesimpulan utama analisis ini sederhana, bahwa kemakmuran suatu daerah tidak selalu berarti pasar kerjanya sehat.


