Sabtu, Juli 25, 2026
spot_img
BerandaSurabayaDibalik peremajaan pagar mall di Surabaya. Krisis ekonomi jilid-2?

Dibalik peremajaan pagar mall di Surabaya. Krisis ekonomi jilid-2?

Pemandangan tidak biasa menghiasi sejumlah mal ternama di Surabaya beberapa pekan terakhir. Pengelola memasang pagar besi tinggi di area luar bangunan.

Foto dan video fenomena ini viral di TikTok serta X (Twitter). Netizen pun melontarkan beragam spekulasi liar. Banyak orang mengaitkannya dengan isu sensitif: krisis ekonomi, sepinya pembeli, penurunan daya beli kelas menengah, hingga kepanikan isu keamanan.

Namun, apakah persepsi krisis di media sosial ini sesuai dengan realita ekonomi Kota Pahlawan? Mari kita uji isu ini menggunakan data resmi Kota Surabaya Dalam Angka 2026 terbitan BPS Kota Surabaya dan klarifikasi faktual di lapangan.

Data BPS: Ritel Melambat, Sektor Kuliner Justru Melesat

Narasi paling populer mengklaim bahwa pemagaran mal terjadi karena pelemahan ekonomi. Namun, data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Surabaya membuktikan hal sebaliknya.

Perekonomian Surabaya secara keseluruhan tumbuh 5,87% pada 2025. Angka ini melanjutkan tren positif sejak 2021 (4,29%), 2022 (6,51%), 2023 (5,70%), dan 2024 (5,76%).

Jika kita membedah dua sektor utama di dalam mal:

  • Perdagangan Eceran (Ritel): Tumbuh 3,34% pada 2025. Angka ini memang melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun angkanya tetap positif, bukan minus.

  • Akomodasi dan Makan Minum (F&B/Kuliner): Tumbuh pesat sebesar 8,30% pada 2025. Sektor ini melaju lebih cepat daripada pertumbuhan ekonomi kota secara umum.

Analisis:

Sektor ritel konvensional memang mengalami perlambatan pertumbuhan. Meski begitu, sektor kuliner dan rekreasi justru melonjak tajam. Warga Surabaya tetap membelanjakan uang mereka untuk makan di luar, nongkrong di kafe, dan mencari hiburan—aktivitas yang sebagian besar tetap berlangsung di dalam mal.

Pola Belanja Warga: Porsi Non-Makanan Terus Naik

Isu penurunan daya beli biasanya terlihat jelas dari pola pengeluaran rumah tangga. Data BPS hasil Susenas Maret 2025 mencatat rata-rata pengeluaran warga Surabaya mencapai Rp2.905.004 per bulan, dengan rincian:

  • Bukan Makanan: Rp1.759.084 per bulan (60,55%)

  • Makanan: Rp1.145.921 per bulan (39,45%)

Porsi belanja Bukan Makanan ini naik dari angka 59,21% pada tahun 2024. Selain itu, porsi terbesar di kelompok makanan adalah Makanan dan Minuman Jadi (makan di luar/kafe) sebesar Rp437.732 per bulan. Angka ini jauh melampaui belanja bahan mentah seperti beras atau sayuran.

Teori Hukum Engel: Semakin sejahtera suatu masyarakat, semakin besar porsi pengeluarannya untuk kelompok non-makanan (hiburan, rekreasi, dan gaya hidup).

Peningkatan porsi non-makanan ini membuktikan bahwa warga Surabaya masih memiliki anggaran sisa (discretionary income) untuk hiburan. Narasi bahwa “daya beli hancur” tidak terbukti secara statistik.

3. Klarifikasi Pengelola: Murni Soal Keamanan dan Tata Ruang

Pemasangan pagar besi tinggi ini juga memicu trauma kolektif. Sebagian warga mengaitkan pembatas fisik ini dengan barikade pengamanan darurat saat Kerusuhan Mei 1998.

Namun, mengaitkan pagar mal dengan krisis sosial ’98 adalah asumsi yang salah alamat. Pihak pengelola mal utama (Pakuwon Group) membeberkan tiga alasan teknis di balik pemagaran ini:

  1. Keselamatan Pejalan Kaki: Pembukaan jalan baru (Radial Road) di kawasan Surabaya Barat meningkatkan volume kendaraan. Pengelola memasang pagar untuk mencegah penyeberang jalan dan ojek online memotong jalur sembarangan.

  2. Efisiensi Pengamanan: Pagar permanen di pusat kota jauh lebih rapi dan efisien daripada bongkar-pasang barikade portabel saat ada kegiatan publik.

  3. Peremajaan Aset: Pengelola mengganti pagar lama di empat mal besar secara serentak (Pakuwon Mall, Tunjungan Plaza, Royal Plaza, dan Pakuwon City Mall).

Proyek peremajaan serentak inilah yang menciptakan efek visual mendadak di media sosial, padahal pemicunya murni perawatan rutin kawasan.

4. Generasi Digital dan Pergeseran Fungsi Mal

Lalu, mengapa sebagian lorong toko di mal terasa lebih sepi?

  • Perilaku Belanja Gen Z dan Milenial: Sebanyak 1,13 juta jiwa (37,6%) penduduk Surabaya berusia 15–39 tahun. Kelompok muda ini terbiasa membeli pakaian, elektronik, dan kosmetik secara daring (e-commerce).

  • Transformasi Mal: Mal tidak lagi menjadi tempat utama untuk membeli barang fisik. Warga kini menjadikan mal sebagai experience center—tempat berkumpul, bersosialisasi, dan menikmati kuliner.

Jangan Terjebak Kepanikan Digital

Pagar tinggi di luar mal memang mencolok dan mudah memicu spekulasi di media sosial. Namun, menjadikannya bukti penurunan daya beli atau krisis sosial adalah kesimpulan yang keliru.

Data BPS menunjukkan ekonomi Surabaya tetap tumbuh solid sebesar 5,87%. Pengeluaran gaya hidup warga tetap tinggi, dan sektor kuliner terus bertumbuh pesat. Perekonomian Surabaya tidak sedang lumpuh; kota ini hanya sedang bertransformasi ke arah ekonomi digital dan berbasis pengalaman.

Sumber Data

  • Kota Surabaya Dalam Angka 2026, BPS Kota Surabaya.

  • Data Susenas Maret 2025 & PDRB 2025 (angka sementara BPS).

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments