Separuh dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur masuk kategori “relatif tertinggal”: levelnya rendah, laju pertumbuhannya pun di bawah rata-rata. Hanya delapan wilayah yang memiliki level tinggi sekaligus laju pertumbuhan cepat. Setiap daerah punya versi ceritanya sendiri tentang kenapa ia tumbuh, adaya yang tumbuh karena ada investasi baru, bandara yang diperluas, atau sekadar “kerja keras dari masyarakatnya”.
Anggapan umum, dan kenapa itu terlalu sederhana
Banyak yang beranggapan bahwa daerah dengan PDRB besar pasti juga tumbuh cepat, dan daerah kecil otomatis tertinggal. Faktanya tidak sesederhana itu. Ada daerah dengan ekonomi besar yang justru melambat karena sudah mendekati titik jenuh, ada pula daerah kecil yang ternyata tumbuh jauh lebih cepat dari rata-rata justru karena mulai dari basis yang rendah. Karena “besar” dan “cepat” adalah dua hal yang berbeda.
Memetakan 38 wilayah dalam satu peta yang sama
Untuk menjawab ini secara adil, kita dapata memakai dua alat ukur yang saling melengkapi.
Yang pertama adalah tipologi Klassen cara mengelompokkan wilayah berdasarkan dua sumbu: seberapa tinggi level PDRB per kapita dan seberapa cepat laju pertumbuhannya. Hasilnya empat kuadran:
- “Maju & Tumbuh Cepat” (level tinggi, tumbuh cepat)
- “Maju tapi Tumbuh Lambat/Tertekan” (level tinggi, melambat)
- “Berkembang Cepat” (level masih rendah tapi tumbuh cepat), dan
- “Relatif Tertinggal” (level rendah, tumbuh lambat).
Yang kedua adalah matriks Boston (adaptasi dari kerangka BCG yang biasa dipakai menilai portofolio bisnis) ” di sini sumbunya diganti jadi pangsa ekonomi wilayah terhadap total Jawa Timur, dibandingkan laju pertumbuhannya. Wilayah dengan pangsa besar dan tumbuh cepat disebut “Star“; pangsa kecil tapi tumbuh cepat disebut “Question Mark“; sisanya yang tumbuh di bawah rata-rata disebut “Dog”.
Dua alat ini sengaja dipakai bersamaan karena masing-masing punya blind spot sendiri dan seperti akan terlihat di gambar.

Klub Juara
Dari 38 kabupaten/kota, distribusinya berdasar tipologi Klassen (data PDRB per kapita 2023) tergambar dalam peta berikut:

Empat kelompok yang terbentuk:
- 8 wilayah (21%) masuk “Maju & Tumbuh Cepat” klub paling diinginkan, isinya Kota Surabaya, Kota Malang, Kota Batu, Kota Kediri, Kabupaten Sidoarjo, Bojonegoro, Mojokerto, dan Pasuruan.
- 19 wilayah (50%)” separuh dari seluruh Jawa Timur” masuk “Relatif Tertinggal”
- 9 wilayah (24%) masuk “Berkembang Cepat” levelnya masih rendah, tapi laju pertumbuhannya di atas rata-rata kandidat yang layak diawasi untuk lima-sepuluh tahun ke depan.
- Sisanya, 2 wilayah” Gresik dan Kota Madiun” masuk “Maju tapi Tumbuh Lambat/Tertekan”: levelnya sudah tinggi, tapi pertumbuhannya melambat, pola klasik ekonomi yang sudah matang dan mulai kehabisan ruang untuk berakselerasi.
Separuh Jawa Timur, dengan kata lain, belum menemukan kombinasi antara level ekonomi yang tinggi dan momentum pertumbuhan yang kuat. Ini bukan berarti separuh wilayah itu “gagal” secara matematis, basis ekonomi yang rendah semestinya justru membuat laju pertumbuhan lebih mudah tinggi (efek basis rendah: kenaikan kecil secara absolut sudah terlihat besar secara persentase). Yang benar-benar sulit bagi wilayah-wilayah ini bukan mengejar laju pertumbuhan, melainkan mengejar level kesejahteraannya” jarak menuju keluar dari kategori “tertinggal” tetap panjang, bahkan kalau tumbuh di atas rata-rata sekalipun, karena titik berangkatnya jauh di bawah. Ini menegaskan bahwa masuk ke klub “Maju & Tumbuh Cepat” bukan hal yang otomatis terjadi seiring waktu — butuh pertumbuhan tinggi yang bertahan lama, bukan sekali lonjakan.
Matriks Boston mempertegas pola ini dengan lebih ekstrem: dari 38 wilayah,hanya satu Kota Surabaya” yang masuk kuadran Star, pangsa ekonomi besar (24,4% dari total PDRB Jawa Timur) sekaligus tumbuh di atas rata-rata provinsi. Sisanya terbagi hampir rata antara “Question Mark” (pangsa masih kecil tapi tumbuh cepat) kandidat “Star” (masa depan) dan “Dog” (pangsa kecil, pertumbuhan di bawah rata-rata).
Pelajaran Penting
Bagian paling instruktif dari analisis ini bukan angka mana yang paling besar, tapi kapan dua metode saling bertentangan. Kota Kediri adalah contohnya: berdasar tipologi Klassen (memakai PDRB per kapita), Kota Kediri masuk klub elite “Maju & Tumbuh Cepat”. Tapi berdasar matriks Boston (memakai PDRB total), Kota Kediri justru jatuh ke kuadran” pertumbuhan total di bawah rata-rata provinsi.
Hal ini bukan kesalahan data. Ini adalah konsekuensi dari basis populasi yang kecil: PDRB per kapita Kota Kediri terangkat tinggi bukan semata karena ekonominya melejit, tapi juga karena jumlah penduduknya sedikit dibagi ke ekonomi yang di dalamnya ada satu industri besar (rokok kretek). Pelajarannya, per kapita dan total adalah dua cerita yang sama-sama valid, tapi bisa menunjuk pemenang yang berbeda, tergantung sudut pandang mana yang dipakai.
Pola geografis
Delapan wilayah di kuadran “Maju & Tumbuh Cepat” tidak tersebar acak. Kecuali Bojonegoro (didorong sektor pertambangan dan migas) dan trio kota (Surabaya, Malang – Batu yang bertetangga langsung), sisanya” Sidoarjo, Mojokerto, Pasuruan” adalah sabuk industri yang mengelilingi Surabaya. Ini konsisten dengan data struktur ekonomi propinsi: sektor Industri Pengolahan adalah kontributor PDRB terbesar Jawa Timur dan tumbuh dengan nilai tercepat di antara sektor-sektor besar sepanjang 2015-2025.
Kenapa justru kawasan ini yang terangkat? Pola semacam ini secara umum dikenali di kawasan industri mana pun sebagai efek aglomerasi: kedekatan dengan pelabuhan utama (Tanjung Perak), jaringan tol yang menghubungkan langsung ke Surabaya, dan rantai pasok antarpabrik yang saling menopang biasanya jadi pendorong utama kenapa investasi industri mengelompok, bukan menyebar merata. Artikel ini belum menguji secara statistik apakah faktor-faktor itu yang benar-benar berperan di Jawa Timur” karena pertanyaan ini akan dijawab lebih rinci lewat analisis spasial di artikel mendatang” tapi pola geografisnya sendiri sudah cukup jelas untuk dicatat sebagai petunjuk awal.
Konsentrasi ini punya sisi lain: Gresik, yang juga bagian dari sabuk industri sama, justru masuk kuadran “Tumbuh Lambat tapi Sejahtera” sudah mencapai level ekonomi tinggi, tapi momentumnya melandai, pola khas kawasan industri matang yang butuh lompatan baru (transformasi sektor, bukan sekadar ekspansi kapasitas) untuk kembali berakselerasi.
Bagaimana dengan sisi manusianya? Saat laju pertumbuhan disandingkan dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), polanya membelah, 38 wilayah jadi empat kelompok yang hampir merata jumlahnya: sembilan wilayah tumbuh cepat dan IPM-nya tinggi (kombinasi ideal), delapan tumbuh cepat tapi IPM-nya masih di bawah rata-rata (pertumbuhan ekonomi mendahului kualitas manusia), sembilan sejahtera tapi tumbuh lambat, dan dua belas” kelompok terbesar” tumbuh lambat dan IPM-nya rendah. Bojonegoro adalah contoh nyata kelompok “tumbuh cepat tapi IPM rendah”: laju pertumbuhan PDRB per kapitanya termasuk yang tertinggi di Jawa Timur, tapi capaian pembangunan manusianya belum mengejar kecepatan ekonominya sinyal bahwa pertumbuhan berbasis sumber daya alam tidak otomatis diterjemahkan jadi kualitas hidup yang setara.
Apa artinya untuk Anda ?
Untuk investor atau pelaku bisnis: jangan berhenti di satu angka pertumbuhan saja. Karena, daerah yang terlihat “tumbuh cepat” di satu metrik (per kapita) bisa jadi biasa-biasa saja di metrik lain (total), seperti kasus Kota Kediri di atas. Tiga langkah praktis dari pola ini:
- Cari wilayah Berkembang Cepat yang bertetangga langsung dengan wilayah Maju & Tumbuh Cepat” ini kandidat paling realistis untuk ikut terangkat sabuk pertumbuhan yang sudah terbukti, dibanding wilayah “Berkembang Cepat” yang lokasinya terisolasi dari kawasan mapan mana pun.
- Bedakan pertumbuhan berbasis satu komoditas dari pertumbuhan berbasis industri terdiversifikasi Bojonegoro (migas) dan sabuk industri Surabaya sama-sama “tumbuh cepat”, tapi profil risikonya jauh berbeda” yang pertama rentan terhadap siklus harga komoditas, yang kedua lebih terdiversifikasi.
- Jangan simpulkan dari satu tahun data.Posisi kuadran adalah potret satu titik waktu (lihat bagian Keterbatasan); konsistensi tren 3-5 tahun jauh lebih informatif untuk keputusan ekspansi jangka panjang.
Untuk pemerintah daerah: berada di kuadran “Berkembang Cepat” (level rendah, tumbuh cepat) status yang disandang sembilan wilayah adalah posisi paling strategis untuk kebijakan proaktif. Momentum sedang ada; pertanyaannya adalah apakah infrastruktur dan tata kelola disiapkan agar momentum itu tidak berhenti sebelum levelnya benar-benar naik kelas. Sebaliknya, dua wilayah di kuadran “Maju tapi Tumbuh Lambat” Gresik dan Kota Madiun” menghadapi tantangan berbeda: bukan soal mengejar, tapi soal menemukan sumber pertumbuhan baru sebelum stagnasi jadi permanen.
Untuk daerah lain di Indonesia (bukan hanya Jawa Timur): pola ini separuh wilayah tertinggal secara struktural, klub juara yang sangat kecil dan cenderung mengelompok secara geografis, serta hasil yang berbeda tergantung definisi pertumbuhan yang dipakai kemungkinan besar bukan fenomena eksklusif Jawa Timur. Ini pertanyaan metodologis yang sama relevannya diajukan di propinsi mana pun di Indonesia: apakah “daerah tercepat tumbuh” yang sering dikutip di media benar-benar demikian, atau hanya menang karena definisi pertumbuhan yang kebetulan dipakai?
Pertumbuhan daerah, pada akhirnya, bukan soal siapa yang paling cepat di satu titik waktu melainkan siapa yang mampu menjaga momentum itu cukup lama sampai benar-benar mengubah struktur ekonominya, dari sekadar tumbuh menjadi naik kelas.
Keterbatasan
Tiga catatan kejujuran metodologis. Pertama, ambang batas rata-rata yang memisahkan kuadran di sini dihitung dari rata-rata tidak tertimbang 38 wilayah bukan rata-rata resmi provinsi yang seharusnya ditimbang oleh jumlah penduduk atau besaran PDRB. Ini pilihan yang membuat setiap wilayah, besar atau kecil, mendapat bobot analitis yang sama, tapi berarti angka di artikel ini tidak selalu identik dengan angka pertumbuhan resmi propinsi. Kedua, klasifikasi ini adalah potret satu titik waktu (data 2023)” posisi kuadran sebuah wilayah bisa berubah di tahun-tahun mendatang, terutama bagi wilayah di kuadran “Berkembang Cepat” yang secara definisi sedang dalam masa transisi. Ketiga, korelasi geografis (klub elite mengelompok di sabuk industri Surabaya) bukan bukti hubungan sebab-akibat langsung” artikel mendatang di seri ini akan membedah lebih jauh apakah kedekatan itu benar-benar menular secara statistik lewat analisis spasial.
—
Artikel ini adalah bagian dari seri Anatomy of Indonesia pembahasan lebih lengkap soal pertumbuhan ekonomi daerah, termasuk indeks komposit ei360 Regional Prosperity Index dan simulasi skenario kebijakan
ditulis oleh: Teguh Andoria


