Mana yang Lebih Berhasil: Surabaya Zamannya Bu Risma, atau Pak Eri?
Pertanyaan ini hampir pasti pernah mampir di lini masa sosial mediamu, atau setidaknya jadi obrolan hangat warga Surabaya pas lagi cangkrukan.
Ada warga yang merindukan masa-masa Surabaya gencar dandan—taman-taman mekar, pedestrian kinclong, dan Bu Risma wira-wiri di jalan. Tapi tak sedikit juga yang membela era Eri Cahyadi. Di eranya, Pemkot menyederhanakan program kesehatan dan pendidikan: warga cukup menunjukkan KTP untuk berobat gratis lewat UHC 100%, serta menikmati beasiswa sekolah hingga kuliah secara masif.
Tapi kalau kita mau flashback sedikit lebih jauh ke era Bambang DH, obrolannya makin menarik.
Sebenarnya, mana yang lebih hebat? Jika kita membedah data APBD 20 tahun terakhir, jawabannya sederhana: tidak ada yang lebih hebat. Ketiganya hanya membagi tugas di waktu yang berbeda.
Ibarat membangun sebuah rumah, begini perjalanan tiga ‘arsitek’ dalam membentuk Kota Pahlawan:
Tiga Era Pemimpin dan Peran Strategisnya
1. Era Bambang DH (2002–2010): Sang Arsitek & Pembuat Pondasi
Memimpin di awal era pasca-Reformasi, Bambang Dwi Hartono menghadapi keterbatasan anggaran dan birokrasi konvensional. Ibarat membangun rumah, fokus utamanya saat itu bukan mengecat tembok, melainkan membeli tanah dan membuat pondasi yang kokoh.
-
Penyelamatan Aset Raksasa: Pemkot merebut kembali ribuan hektar lahan fasum/fassos dan tanah daerah yang sempat terancam lepas. Pemkot kelak menyulap lahan-lahan ini menjadi taman kota dan bozem penampung banjir.
-
Pelopor e-Government: Pada 2002–2003, Surabaya nekat memangkas lelang kertas manual dengan meluncurkan sistem lelang elektronik (e-Procurement) pertama di Indonesia untuk menutup celah korupsi.
-
Cetak Biru Jalan Utama: Bambang DH memulai proses panjang pembebasan lahan untuk jalan arteri penting seperti Jalur MERR (Middle East Ring Road) dan Frontage Road A. Yani.
Karakter Era Ini: Pembangunannya tidak kasat mata karena tim bekerja di balik layar (hukum dan sistem). Namun tanpa era ini, pembangunan di era berikutnya tidak akan memiliki lahan dan sistem yang siap.
2. Era Tri Rismaharini (2010–2020): Sang Desainer & Penata Wajah Kota
Sistem anggaran yang sudah terkunci rapi dan aset tanah yang siap pakai memudahkan Tri Rismaharini mengeksekusi wajah luar kota secara dramatis. Ibarat rumah yang sudah punya pondasi, era Risma adalah era memasang atap indah, merawat taman, dan mengecat dinding dengan megah.
-
Revolusi Fisik Visual: Bu Risma membangun puluhan taman ikonik (Taman Bungkul, Harmoni), memasang pedestrian ber-granit, serta menanam jutaan vegetasi. Langkah ini mengubah citra Surabaya dari kota gersang menjadi kota hijau berkelas internasional.
-
Penanganan Masalah Ikonik: Wali kota menutup kawasan lokalisasi Dolly dan mentransformasi fungsi bangunannya menjadi fasilitas publik serta sentra UMKM.
-
Infrastruktur Makro: Bu Risma menyelesaikan pembangunan Frontage Road A. Yani dan memperbanyak rumah pompa utama untuk menekan banjir kota.
Karakter Era Ini: Pembangunannya bersifat SANGAT VISUAL (Hard Infrastructure). Mata warga langsung melihat efeknya, wisatawan merasakannya, dan media nasional maupun internasional menyorotinya secara masif.
3. Era Eri Cahyadi (2021–Sekarang): Sang Manajer & Pelindung Penghuni Rumah
Menjabat tepat saat krisis pandemi COVID-19 melanda pada 2021, Eri Cahyadi harus memutar kemudi anggaran. Ibarat rumah yang sudah bagus dan hijau, era Eri berfokus memastikan dapur penghuninya terisi dan seluruh keluarga terjamin kesehatannya.
-
Jaringan Pengaman Sosial (Soft Infrastructure): Eri Cahyadi meningkatkan jaringan pengaman sosial yang dulu terbatas menjadi Universal Health Coverage (UHC) 100%—warga cukup menunjukkan KTP Surabaya—serta menaikkan kuota beasiswa pendidikan hingga berlipat ganda.
-
Pembangunan Mikro Masuk Kampung: Proyek fisik tidak lagi berfokus di jalan protokol pusat kota saja, melainkan masuk ke gang-gang pemukiman: pembenahan drainase kampung (box culvert), Rutilahu (Rumah Tidak Layak Huni), dan renovasi Sentra Wisata Kuliner (SWK).
-
Digitalisasi Layanan: Pemkot menghubungkan aduan warga secara langsung melalui aplikasi WargaKu.
Karakter Era Ini: Pembangunannya bersifat LANGSUNG KE KANTONG WARGA. Dampaknya mungkin kurang estetik jika warga memfotonya untuk media sosial, tetapi warga sangat merasakannya saat sedang sakit atau butuh bantuan sekolah.
Perbandingan Pembangunan Surabaya Antar-Era
| Indikator | Era Bambang DH | Era Rismaharini | Era Eri Cahyadi |
| Ibarat Rumah | Membangun Pondasi & Pipa | Mengecat & Menata Taman | Mengisi Dapur & Merawat Penghuni |
| Kapasitas APBD | Rp 1,1 T – Rp 3,5 T | Rp 4,1 T – Rp 9,8 T | Rp 9,8 T – Rp 12,7 T |
| Alokasi Utama | Penyelamatan Aset & Sistem e-Gov | Taman, Pedestrian, & Jalan Protokol | Berobat Gratis (UHC), Beasiswa, & Saluran Kampung |
| Sifat Dampak | Di Balik Layar (Sistemik) | Sangat Visual (Estetika Kota) | Terasa di Dompet & Layanan Dasar |
Kesimpulan: Masing-Masing Era Saling Melengkapi
Membandingkan kehebatan ketiga pimpinan ini secara sepintas tentu kurang adil. Surabaya hari ini berdiri atas hasil pembangunan yang berkesinambungan.
Tanpa Bambang DH yang merebut aset dan membuat sistem digital, Bu Risma tidak akan punya lahan untuk membangun taman-taman cantiknya. Dan tanpa kota rapi yang ditinggalkan Bu Risma, Eri Cahyadi tidak akan punya ruang fiskal yang cukup untuk menggratiskan biaya berobat dan sekolah bagi jutaan warga Surabaya.
Pembangunan Surabaya tidak pernah mundur—ia hanya bertransformasi sesuai kebutuhan paling mendesak warganya pada masa itu.
Ditulis oleh: Teguh Andoria


