Pernyataan pakar energi Universitas Indonesia (UI) Iwa Garniwa tentang potensi insentif perpajakan baterai berbasis nikel dalam menurunkan harga mobil listrik bukanlah sekadar wacana akademis. Berdasarkan riset mendalam, kebijakan ini dapat menjadi game changer bagi akselerasi adopsi kendaraan listrik di Indonesia, dengan dampak ekonomi yang signifikan terhadap industri otomotif nasional.
Indonesia memiliki posisi unik dalam ekosistem global kendaraan listrik. Dengan cadangan nikel terbesar dunia mencapai 55 juta ton atau 42% dari total cadangan global, negara ini menguasai bahan baku kritis untuk produksi baterai kendaraan listrik. Produksi nikel Indonesia pada 2024 mencapai 2,2 juta ton, menyumbang 59% dari produksi global, menegaskan dominasi Indonesia dalam rantai pasok nikel dunia.
Data terkini menunjukkan penjualan mobil listrik Indonesia mengalami lonjakan 211% pada periode Januari-Juni 2025, mencapai 35.749 unit. Meskipun masih jauh dari target 2 juta unit pada 2030, pertumbuhan ini mengindikasikan momentum positif yang perlu dipertahankan melalui kebijakan strategis.
Insentif perpajakan untuk baterai berbasis nikel bukan sekadar kebijakan fiskal, melainkan strategi transformatif yang dapat mengubah lanskap industri otomotif Indonesia. Dengan memanfaatkan keunggulan komparatif nikel domestik, Indonesia dapat menciptakan ekosistem kendaraan listrik yang mandiri dan berkelanjutan, sekaligus menurunkan harga mobil listrik hingga level yang terjangkau masyarakat luas.
Keberhasilan implementasi kebijakan ini akan menentukan apakah Indonesia dapat meraih keunggulan kompetitif global dalam revolusi kendaraan listrik, atau hanya menjadi pemasok bahan baku dalam rantai nilai yang dikuasai negara lain. Momentum strategis ini harus dimanfaatkan dengan kebijakan yang visioner, implementasi yang terukur, dan komitmen jangka panjang untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai produsen kendaraan listrik terdepan di kawasan.
Riset menunjukkan bahwa baterai menyumbang 40-50% dari total harga mobil listrik. Dalam struktur biaya baterai, komponen katoda berbasis nikel mendominasi hingga 51% dari biaya produksi baterai, diikuti biaya manufaktur (24%), anoda (12%), dan komponen lainnya.
Fenomena penurunan drastis harga jual kembali mobil listrik, seperti BYD Seal Premium yang turun hingga Rp 200 juta dalam setahun menggambarkan tantangan struktural yang dihadapi industri. Founder National Battery Research Institute Evvy Kartini menjelaskan bahwa degradasi kapasitas baterai menjadi faktor utama penurunan nilai kendaraan.
Sementara itu, pemerintah telah mengalokasikan Rp 6,16 triliun untuk insentif kendaraan listrik pada 2025, terdiri dari PPN DTP (Rp 2,8 triliun), PPnBM DTP mobil listrik (Rp 2,52 triliun), dan PPnBM DTP hybrid (Rp 840 miliar). Namun, kebijakan khusus untuk mendorong adopsi baterai berbasis nikel sedang dikaji oleh Kementerian Keuangan.
Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan dorongan pemerintah agar produsen EV beralih dari baterai lithium base ke nickel base, dengan dukungan insentif fiskal dari berbagai kementerian. Analis Kebijakan DJSEF Kemenkeu Riznaldi Akbar mengonfirmasi kajian insentif berupa PPN DTP dan PPnBM DTP untuk produsen yang memilih baterai nikel.
Tercatat, ada beberapa proyeksi dampak ekonomi jika insentif baterai nikel dilakukan. Pertama, penurunan harga kendaraan. Menteri Perindustrian RI memproyeksikan bahwa produksi baterai dalam negeri dapat menurunkan harga mobil listrik hingga 20-30%. Dengan harga baterai per kWh yang diproyeksikan turun dari USD 149 menjadi USD 80 pada 2026, potensi penghematan signifikan dapat direalisasikan.
Proyeksi kedua adalah peningkatan kandungan lokal. Penggunaan baterai berbasis nikel akan meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara substansial, mengingat Indonesia menguasai rantai pasok nikel dari hulu hingga hilir. Proyek terintegrasi CATL-IBC-Antam senilai USD 5,9 miliar dan Huayou-IBC-Antam senilai *USD 8 miliar* akan memproduksi baterai dengan kapasitas hingga 15-20 GWh.
Proyeksi ketiga, efisiensi ekonomi jangka panjang. Meski baterai NMC memiliki kepadatan energi lebih tinggi (220 Wh/kg vs 120-160 Wh/kg untuk LFP), investasi pada teknologi nikel memberikan keunggulan strategis jangka panjang mengingat ketersediaan bahan baku domestik dan potensi daur ulang hingga 99%.
Ada beberapa tantangan dan risiko implementasi yang dapat tercatat. Pertama, keterbatasan cadangan. Meski Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar, proyeksi menunjukkan sisa umur cadangan hanya 34 tahun dengan tingkat produksi saat ini. Hal ini memerlukan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan dan investasi eksplorasi tambahan.
Kedua, kompetisi teknologi global. Tren global menunjukkan peningkatan penggunaan baterai LFP dari 7% pada 2018 menjadi 27% pada 2022. Baterai LFP menawarkan keunggulan dalam hal keamanan, umur pakai (3.000-6.000 siklus vs 800-2.000 untuk NMC), dan stabilitas termal.
Ketiga, infrastruktur dan ekosistem. Pengembangan ekosistem baterai nikel memerlukan investasi infrastruktur masif, termasuk fasilitas daur ulang, jaringan pengisian, dan sistem manajemen baterai yang canggih.
Untuk merespon proyeksi dan tantangan kedepan, ada beberapa rekomendasi strategis yang dapat dilakukan. Pertama, implementasi bertahap. Fase 1 (2025-2027), fokus pada insentif produsen yang menggunakan minimal 40% kandungan nikel dalam baterai. Fase 2 (2027-2030), ekspansi ke seluruh rantai pasok dengan target 60-80% kandungan nikel. Fase 3 (2030+), integrasi penuh dengan sistem daur ulang dan ekonomi sirkular.
Rekomendasi berikutnya dalah diversifikasi teknologi. Mengadopsi pendekatan hybrid yang mengoptimalkan kelebihan masing-masing teknologi baterai sesuai segmen pasar dan aplikasi kendaraan. Kemudian, adalah kolaborasi internasional. Memperkuat kemitraan dengan perusahaan teknologi global sambil memastikan transfer teknologi dan peningkatan kapabilitas SDM lokal.
Dengan implementasi kebijakan insentif yang tepat, Indonesia berpotensi mencapai, target penjualan 60.000 unit EV pada 2025 dengan harga yang lebih kompetitif. Posisi sebagai hub produksi baterai Asia Tenggara dengan kapasitas 300.000 unit mobil per tahun. Penciptaan 43.000 lapangan kerja langsung dan tidak langsung dari proyek baterai terintegrasi.


