Tinjuan Naratif Tiktok dari Perspektif Sistem Komputasi
Bagaimana kita memandang ini dari sudut pandang filsafat ilmu komputer. Sederhana sekali. Dalam pemikiran terkait software dan hardware, TikTok adalah sekumpulan kode, yang disusun dalam algoritma khusus, melakukan pemisahan (filter) konten yang muncul, sesuai dengan intensi pengguna. Seberapa sering pengguna mengakses konten tertentu, maka algoritma akan menyesuaikan. Tak sekedar if-then yang sederhana, karena dampaknya sangat besar. TikTok juga merubah bagaimana manajemen cloud, kecepatan dan volume data raksasa, mampu terus dihasilkan dalam format teks, audio dan video. Baik itu hasil dari olah aplikasi mandiri maupun AI. Interaksi antar aplikasi ini membuat bagaimana hubungan kompleks berbagai algoritma ini bertemu dalam satu platform.
Pada level LoA (Level of Abstraction) kita bisa meninjau dari tiga tingkat yaitu level atas (user interface – FYP), pada tahapan ini pengguna disajikan rancangan antar muka aplikasi memungkinkan pengguna untuk memasukkan kata-kunci video disertai filtering for you, following, friends dan location.
Pada level ini filter “For You” dapat diartikan sebagai bentuk personalisasi pengguna berdasarkan susunan algoritma, yang di-create untuk memahami apa yang diinginkan, dipilih oleh pengguna (sebuah preferensi). Pada mulanya memang, preferensi ini adalah hak, kebebasan mutlak dari individu, tidak ada interfensi. Namun, algoritma kemudian membatasi, menyesuaikan konten, sesuai dengan keinginan pengguna tersebut. Secara aspek sosial, “For You” ini juga memberikan pengaruh lebih besar, menggema, sehingga makin memperkuat prespektif pengguna tersebut.
Sedangkan pada algoritma filter following lebih memberikan kesempatan bagi pengguna untuk memilih konten sesuai dengan apa yang pengguna ikuti (follow). Dalam konteks teknologi, hal ini berarti pengguna melakukan pengelolaan mandiri atas konten yang diingikan atau disukai, sesuai dengan minat, preferensi, hobi, pekerjaan maupun hal lain yang bersesuaian. Tanpa harus mengikuti “saran” dari algoritma TikTok. Sehingga algoritma ini memberikan ciri, karakteristik atau profil pengguna sesuai dengan konten digital yang disukai, entah itu sebagai sumber inspirasi, entertainment atau nilai-nilai tertentu yang diikuti.
Kalau “For-You” lebih personal, unik, “following” kuat pada afiliasi atau hubungan karena kesamaan tertentu, maka filtering pada “friends” ini lebih mendalam. Hubungan timbal balik. Dua arah. Saling berbagi data dan informasi. Sehingga jauh lebih intens interaksinya. Sebagaimana halnya filter pada “location” yang memberikan sebuah algoritma, lebih menitikberatkan pada lokasi pengguna menjadi salah satu sumber keragaman lokal yang patut kuat menjadi pertimbangan dalam membangun sumber informasi TikTok. Menarik. Gambaran algoritma yang cukup lengkap bagi aplikasi social media.
Pada level abstraksi menengah, maka tahapan yang mendominasi adalah proses analisis data. Menggabungkan dari berbagai filter, sumber dan format data. Merubah analisis data mentah ini menjadi sebuah behavioral data. Data perilaku. Yang memuat tentang bagaimana interaksi pengguna selama berhubungan dengan TikTok. Software TikTok membangun sebuah proses yang teratur, mengolah data mining menjadi rekomendasi yang kuat sesuai perilaku pengguna terhadapnya. Level selanjutnya, adalah level dasar, sebagaimana diungkap dalam pendahuluan. Sofware TikTok untuk dapat running, memerlukan komputasi berjalan pada hardware yang kuat, infrastruktur data-center yang besar, serta model CDN (Content Delivery Network) yang kompleks.


