Jika pihak terkait menjalankan transportasi massal terintegrasi ini secara maksimal, dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan akan sangat signifikan.
- Peningkatan aksesibilitas dan konektivitas. Masyarakat akan merasakan kemudahan dalam mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan lapangan pekerjaan. Konektivitas antar wilayah yang semakin baik juga akan memicu penyebaran peluang usaha dan investasi.
- Pengurangan waktu tempuh dan biaya transportasi. Dengan beralih dari kendaraan pribadi ke moda massal yang terintegrasi, kita dapat menekan waktu tempuh yang selama ini terbuang akibat kemacetan. Hal ini berimbas pada peningkatan produktivitas dan efisiensi ekonomi.
- Peningkatan daya saing regional. Infrastruktur yang modern dan terintegrasi akan menjadikan kawasan ini lebih menarik bagi investor, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional serta mendorong peningkatan pendapatan masyarakat.
- Pengurangan dampak lingkungan. Dengan menurunnya penggunaan kendaraan pribadi, kita dapat mengurangi emisi gas buang dan polusi udara. Hal ini mendukung upaya pelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.
- Perbaikan kualitas hidup dan peningkatan IPM. Akses yang lebih mudah ke berbagai layanan dan pengurangan stres akibat kemacetan akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kondisi ini secara langsung mendukung peningkatan IPM dan kesejahteraan sosial secara umum.
- Menuju integrasi transportasi massal yang lebih maksimal. Keberadaan kereta api dan bus yang terintegrasi menjadi tulang punggung mobilitas di wilayah Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Mojokerto, dan Gresik. Pemerintah menargetkan penyelesaian proyek SRRL (Surabaya Regional Railway Line) dan LRT pada tahun 2027 sebagai wujud nyata komitmen dalam mengatasi kemacetan serta meningkatkan efektivitas transportasi.


