Transportasi Publik sebagai Penguat Ekonomi Walkable
Kawasan walkable membutuhkan transportasi publik yang efisien agar tidak menjadi zona ekonomi yang terisolasi. Tanpa konektivitas yang baik, potensi pertumbuhan ekonomi di area ini akan terbatas.
Salah satu strategi utama adalah meningkatkan konektivitas “first mile-last mile” dengan memastikan transportasi massal seperti Bus Suroboyo dan rencana MRT Surabaya terhubung langsung dengan kawasan pejalan kaki. Halte transit harus berlokasi dalam jarak tempuh 5-10 menit berjalan kaki dari pusat-pusat aktivitas ekonomi, sementara layanan microtransit seperti Layanan “Bike Sharing” dapat membantu mobilitas jarak pendek.
Halte-halte transportasi publik juga harus dirancang sebagai pusat aktivitas ekonomi, bukan sekadar tempat naik-turun penumpang. Integrasi halte dengan pasar kuliner, penempatan kios usaha kecil, serta vending machine di sekitar halte dapat meningkatkan daya tarik area tersebut.
Selain itu, pembatasan kendaraan pribadi di area walkable melalui kebijakan seperti car-free day dan sistem parkir berbayar di luar pusat kota dapat mengurangi kemacetan sekaligus mendorong masyarakat untuk beralih ke transportasi publik. Subsidi tarif transportasi bagi pengunjung kawasan bisnis walkable juga dapat menjadi insentif untuk meningkatkan jumlah pengguna.
Pemanfaatan teknologi juga berperan penting dalam integrasi ini. Aplikasi seperti SuroboyoBus juga dapat memberikan informasi rute transportasi sekaligus rekomendasi usaha di sekitar area pejalan kaki, sehingga meningkatkan peluang transaksi ekonomi. Pengguna yang mendekati halte tertentu dapat menerima notifikasi promosi dari usaha kecil setempat, mendorong konsumsi dan interaksi ekonomi yang lebih tinggi.


