Industri cerutu Indonesia perlahan mengukuhkan diri sebagai pemain niche di pasar tembakau global, dengan basis produksi kuat di Jawa dan prospek ekspor cerutu premium yang semakin terbuka khususnya ke Eropa dan Asia Timur. Di dalam negeri, cerutu bergeser dari produk elitis menjadi bagian dari gaya hidup kalangan muda urban, yang ikut menopang pertumbuhan pasar domestik dan mendorong inovasi produk.
Basis Produksi dan Hulu Tembakau Cerutu
Bahan baku utama cerutu Indonesia terkonsentrasi pada tembakau cerutu Besuki di eks Karesidenan Besuki (Jember dan sekitarnya), Deli di Sumatera Utara, serta Klaten di Jawa Tengah, yang sejak zaman kolonial dikenal sebagai penghasil tembakau pembungkus dan pengisi cerutu berkualitas ekspor.
Di Jember, selain tembakau cerutu Besuki, juga dikembangkan tembakau bawah naungan (TBN) yang dirancang khusus menghasilkan daun pembalut cerutu dengan karakter rasa netral, banyak diminati produsen cerutu premium dunia.
Data BPS yang dikutip Enciety.co dalam kajian akademik tahun 2024 mencatat produksi cerutu Indonesia 2023 mencapai sekitar 5.128 ton, naik dari 4.872 ton pada 2022, menandakan tren peningkatan output di tengah pasar yang relatif kecil namun bernilai tinggi.
Peta Industri, Pabrik dan Pemain Kunci
Pabrik cerutu Indonesia tersebar terutama di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, dengan beberapa di antaranya diakui sebagai produsen kelas dunia. Contohnya klasik adalah Pabrik Cerutu Taru Martani di Yogyakarta yang telah beroperasi sejak 1918 dan dikenal sebagai salah satu yang tertua di Asia Tenggara.
Di Jember, Jawa Timur, kemunculan produsen baru seperti BIN Cigar menunjukkan revitalisasi industri, kapasitas produksi mereka dilaporkan berkisar 2.000–10.000 batang per hari, yang kemudian “diistirahatkan” 6–12 bulan untuk pematangan kualitas sebelum masuk pasar ekspor.
Produsen mapan seperti Taru Martani terus memperkuat orientasi luar negeri, pada 2025, perusahaan ini melepas ekspor perdana tahun berjalan sebanyak 5.000 batang cerutu ke Taipei dan menyatakan rencana peningkatan kapasitas serta inovasi produk untuk memperluas jaringan ekspor Asia dan global.
Pasar Ekspor, Negara Tujuan dan Tren
Indonesia memanfaatkan status sebagai salah satu produsen tembakau besar dunia untuk menembus segmen cerutu khusus; data perdagangan internasional menunjukkan tujuan utama ekspor cerutu Indonesia meliputi Jerman, Jepang, Belgia, Amerika Serikat, dan Belanda, pasar yang sensitif terhadap kualitas dan konsistensi suplai.
Analisis berbasis TradeMap yang dikutip media riset menyebutkan bahwa Indonesia mendapat keuntungan tarif di pasar Jepang, sementara cerutu dari Kuba, Dominika, dan Nikaragua masih terkena tarif sekitar 16%, sehingga membantu mempertahankan posisi Indonesia sebagai salah satu pemasok penting di negara tersebut.
Secara agregat, kelompok rokok dan cerutu lainnya menjadi pendorong utama ekspor produk olahan tembakau Indonesia, sebuah analisis pada 2025 mencatat volume ekspor kategori ini naik menjadi sekitar 169,3 ribu ton dengan nilai sekitar USD 1,059 miliar, mencerminkan kuatnya permintaan internasional terhadap produk kretek dan cerutu berbasis tembakau Indonesia.
Pasar Domestik, Cerutu Sebagai Gaya Hidup
Dalam beberapa tahun terakhir, cerutu tidak lagi identik dengan kalangan mapan senior, pelaku komunitas menyebut segmen usia 20–35 tahun mulai meramaikan pasar cerutu domestik, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan kota lain dengan komunitas gaya hidup premium.
Pergeseran ini dipicu antara lain oleh masa pandemi, ketika banyak anak muda mencari medium relaksasi dan simbol gaya hidup baru, cerutu hadir bukan semata produk konsumsi, tetapi bagian dari “experience” dan identitas sosial, didukung tumbuhnya klub dan komunitas pecinta cerutu.
Strategi pemasaran turut berubah, penjualan yang sebelumnya bertumpu pada toko fisik mulai beralih ke platform digital, kolaborasi dengan influencer, sesi edukasi daring, dan komunitas online, sehingga memperluas jangkauan pasar domestik tanpa bergantung pada saluran konvensional.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Di segmen global, pasar cerutu premium diproyeksikan tumbuh dari sekitar USD 734,2 juta pada 2023 menjadi sekitar USD 1,191 miliar pada 2024, dan berpotensi menembus lebih dari USD 2,1 miliar pada 2033, membuka ruang ekspansi signifikan bagi produsen cerutu Indonesia yang mampu bermain di kelas premium.
Keunggulan historis Indonesia dalam tembakau pembungkus Sumatra/Besuki, dipadukan dengan keunggulan tarif di beberapa pasar seperti Jepang, menjadi modal strategis untuk memperluas kontrak jangka panjang dengan merek-merek internasional yang selama ini menggunakan wrapper asal Indonesia.
Di sisi lain, tantangan hadir dari regulasi pengendalian tembakau yang makin ketat, persaingan dengan raksasa cerutu seperti Kuba, Dominika, dan Nikaragua, serta kebutuhan investasi pada standardisasi kualitas, branding global, dan compliance pasar tujuan agar industri cerutu Indonesia tidak berhenti hanya sebagai pemasok bahan baku.
Peluang tumbuhnya komunitas penikmat cerutu muda di dalam negeri, jika digarap serius oleh pelaku usaha melalui edukasi produk, diversifikasi ukuran dan harga, serta kanal distribusi digital, dapat menjadi bantalan pasar domestik yang mengurangi ketergantungan pada fluktuasi permintaan ekspor.


