Selain Kusta dan TB Paru, penyakit yang penderitanya meningkat adalah Pneumonia. Penyakit infeksi paru yang dapat berakibat fatal pada balita dan lansia, juga mengalami lonjakan dalam dua tahun terakhir.
Penyakit ini dipicu oleh infeksi bakteri dan menyebabkan alveoli terisi cairan. Penyebab yang paling umum terjangkitnya pneumonia adalah menghirup bakteri streptococcus pneumoniae, meskipun bakteri dan virus lain juga dapat menyebabkan pneumonia. Gejala utamanya meliputi batuk, kesulitan atau merasa sesak napas, peningkatan denyut jantung, nyeri dada, demam, berkeringat, dan menggigil.
Dalam sejarahnya, Hipokrates memberikan catatan tertulis tentang penyakit pneumonia sekitar tahun 460-370 SM. Dalam catatannya ia menyebut penyakit kuno itu ‘peripneumonia’ dan menjelaskan gejala-gejalanya yang dapat dikenali. Diantaranya, demam, nyeri dada dan batuk.
Serangkaian penemuan yang dilakukan oleh para peneliti dari waktu ke waktu menghasilkan pemahaman kita tentang penyebab pneumonia saat ini. Pada tahun 1875 Edwin Klebs menemukan bakteri di bronkus atau pada saluran udara utama yang ada di paru-paru pada pasien pneumonia.
Lalu, pada tahun 1881 dua peneliti, yakni George Sternberg dan Louis Pasteur, secara independen mengisolasi bakteri yang sekarang dikenal sebagai streptococcus pneumoniae. Kedua peneliti tersebut berhasil menunjukkan potensi patogeniknya pada hewan melalui percobaan menggunakan kelinci.
Pneumonia merupakan pembunuh utama di Inggris pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Seseorang dengan kesehatan yang buruk berisiko terkena pneumonia. Pola makan yang buruk, kurangnya akses ke layanan kesehatan, dan penyebaran penyakit menular selama masa ini menyebabkan penyakit menjadi sangat umum, yang pada gilirannya meningkatkan kemungkinan orang tertular pneumonia.
Selama pandemi influenza tahun 1918-19 , terjadi epidemi pneumonia di Inggris. Hal ini tercermin dalam catatan pemakaman di Leeds General Cemetery, periode di mana jumlah orang tertinggi yang dianggap sebagai penyebab kematian akibat pneumonia adalah tahun 1910 – 1919. Perlu diketahui, mereka yang pernah terkena flu lebih rentan terkena pneumonia.
Meskipun polutan udara belum terbukti secara pasti sebagai penyebab pneumonia, penelitian menunjukkan bahwa paparan emisi meningkatkan risiko seseorang terkena pneumonia. Meningkatnya tingkat polusi udara yang disebabkan oleh industrialisasi di Inggris mungkin telah berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah kematian akibat pneumonia pada akhir abad ke-19.
Penyakit pneumonia dapat diobati dengan antibiotik. Meskipun demikian, penyakit ini masih persisten dan beberapa jenis yang resistan terhadap antibiotik telah berkembang.
Saat ini, pemerintah telah menargetkan penurunan angka kematian akibat pneumonia pada balita menjadi kurang dari 3 per 1.000 kelahiran hidup dalam Rencana Aksi Nasional Penanggulangan Pneumonia dan Diare di 2023-2030.


