Membaca Fakta Sebelum Bertindak (1/4): Kenapa Insting Saja Tidak Lagi Cukup untuk Bisnis Hari Ini
Oleh: Dimas Pratama
Pada 18 Juni 2025, saya menjadi narasumber secara daring via Zoom untuk program Specific Independent Study (SSI) BINUS University peminatan Data Science. Program enrichment ini menggabungkan pembelajaran akademik dengan pengalaman langsung dari praktisi industri. Pihak penyelenggara memberi saya keleluasaan penuh menentukan materi. Saya memilih untuk membahas peran riset dalam menentukan arah bisnis—sebuah tema yang sudah saya jalani hampir separuh masa kerja saya.
Setiap kali membahas topik riset bisnis bersama audiens muda, satu pertanyaan selalu muncul: “Kalau bisnisnya kecil, emang masih perlu riset?” Artikel ini akan menjawab pertanyaan tersebut secara mendalam.
8 Tantangan Utama Bisnis Masa Kini
Dunia bisnis hari ini menghadapi delapan tantangan yang saling bertautan:
-
Ketidakpastian Pasar: Isu geopolitik, inflasi, hingga fluktuasi harga bahan baku menyulitkan proyeksi jangka pendek.
-
Disrupsi Teknologi: Teknologi bergerak begitu cepat. Bisnis yang lambat beradaptasi bisa tertinggal hanya dalam hitungan tahun.
-
Perubahan Perilaku Konsumen: Konsumen kini makin digital, makin kritis, dan makin peduli pada isu sosial-lingkungan.
-
Regulasi Ketat: Aturan terkait ESG dan keberlanjutan terus meningkat.
-
Persaingan Red Ocean: Banyak sektor pasar makin penuh sesak dengan margin tipis. Pemain baru pun terus bermunculan membawa model bisnis digital yang lincah.
-
Tuntutan Keputusan Cepat dan Akurat: Pemimpin bisnis harus mengambil keputusan dengan cepat tanpa mengorbankan akurasi.
-
Silogisme Data: Banyak organisasi masih kesulitan mengintegrasikan data antar-divisi.
-
Budaya Trial-and-Error: Pola pikir “coba-coba dulu, lihat nanti” masih mendominasi, terutama di skala usaha kecil-menengah.
Riset bisnis hadir bukan untuk menggantikan insting, melainkan untuk memperkuatnya dengan bukti fakta.
Dampak Nyata Riset bagi Kelangsungan Bisnis
Laporan dari CB Insights terhadap evaluasi startup yang gagal menunjukkan fakta menarik. Dua alasan utama kegagalan startup adalah kehabisan modal dan ketiadaan kebutuhan pasar terhadap produk mereka. Kebanyakan startup gagal bukan karena idenya buruk, melainkan karena pendirinya tidak memastikan apakah pasar benar-benar membutuhkan produk tersebut.
Riset tidak hanya memvalidasi ide, tetapi juga menjadi fondasi transformasi bisnis skala besar. Fred Reichheld, penemu metode NPS, menguraikan hal ini dalam bukunya, Winning on Purpose.
Ia menceritakan kisah sebuah operator telekomunikasi di Amerika Serikat. Dulu, perusahaan ini tertinggal jauh dari kompetitornya. Mereka kemudian merombak total strategi bisnis berdasarkan pemahaman mendalam terhadap pengalaman pelanggan.
Manajemen mengukur loyalitas secara konsisten, menghapus kebijakan yang merugikan pengguna, dan menjadikan “kecintaan pelanggan” sebagai nilai inti. Hasilnya, basis pelanggan mereka tumbuh pesat. Skor loyalitas pelanggan tersebut juga berkorelasi positif dengan kenaikan harga saham perusahaan di mata investor.

Kompas untuk Semua Skala Bisnis
Kembali ke pertanyaan awal: apakah bisnis kecil perlu riset?

Jawabannya: ya, riset relevan untuk semua skala bisnis. Fungsi utamanya sama, yaitu menjadi kompas yang mengurangi risiko salah arah. Perbedaannya hanya terletak pada bentuk dan kompleksitas pelaksanaan.
Pada artikel berikutnya, saya akan membahas apa sebenarnya riset bisnis itu dan dari mana saja datanya berasal.
Referensi:
-
CB Insights (2021), “The Top 12 Reasons Startups Fail”
-
Fred Reichheld (2021), “Winning on Purpose”


