Harga sepeda motor bekas di Indonesia hingga per 19 Januari 2026 cenderung bertahan tinggi, terutama untuk skutik populer seperti Honda BeAT, Beat Street, dan PCX, dengan depresiasi yang melambat karena permintaan harian tetap kuat dan harga motor baru terus naik. Pasar didominasi unit rakitan 2016–2023, dengan segmen harga Rp3–6 juta untuk motor lawas ekonomis dan Rp10–16 juta untuk skutik entry level menjadi tulang punggung transaksi di berbagai marketplace dan showroom offline.
Memantau peta harga utama, untuk pasar skutik entry-level menunjukkan daya tahan paling kuat, Honda BeAT dan varian turunannya tetap laku keras dengan rentang harga yang menyempit antara unit lawas dan keluaran terbaru, menandakan depresiasi melambat. Data komparatif dari berbagai platform jual beli menunjukkan bahwa untuk motor-motor terlaris, penurunan harga tahunan tidak sedalam era pra-pandemi karena stok baru yang lebih mahal menahan koreksi di pasar bekas.
Honda BeAT bekas tahun 2010–2012 umumnya berada di kisaran Rp4–6 juta, sedangkan tahun 2013–2015 naik ke kisaran Rp5–9 juta.
Untuk produksi 2016–2018, harga BeAT stabil di Rp9–10 juta, dan 2019–2022 berada di Rp10–12 juta, dengan lonjakan signifikan untuk produksi 2023 di Rp14–16 juta akibat efek kenaikan harga motor baru dan permintaan tinggi.
Beat Street bekas tahun 2020–2023 berada di kisaran Rp12,5–16,5 juta tergantung tahun dan kondisi, isu rangka eSAF tidak menjatuhkan harga secara drastis, mengindikasikan kepercayaan konsumen tetap kuat pada segmen ini.
Di segmen motor ekonomis, daftar motor bekas Rp3 jutaan masih didominasi Supra X 125, Supra Fit dan BeAT generasi awal (2008–2010), dengan banderol mulai Rp3,1–3,9 juta, menjadi pilihan utama konsumen berdaya beli rendah.
Di kelas menengah-atas, skutik premium seperti Honda PCX 160 produksi 2021–2024 berkisar dari sekitar Rp26–35 juta, menunjukkan depresiasi yang relatif terkendali untuk segmen premium, terutama bagi unit muda di bawah empat tahun.
Dinamika pasar dan faktor pendorong
Permintaan motor bekas mendapat “bensin tambahan” dari tingginya penjualan motor baru 2023–2024, ketika wholesales motor di Indonesia menembus sekitar 6,33 juta unit pada 2024, sedikit di atas 2023. Arus motor baru ini menciptakan siklus trade-in dan peremajaan yang memperkaya stok bekas, terutama pada segmen skutik, sekaligus menjaga pasar second tetap likuid.
Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia mencatat penjualan motor baru yang menguat kembali pasca-pandemi, dengan target 2024 di kisaran 6,2–6,5 juta unit dan realisasi sekitar 6,33 juta unit, yang artinya suplai calon motor bekas beberapa tahun ke depan tetap terjamin.
Perpaduan kenaikan harga motor baru, ketatnya akses pembiayaan bagi sebagian konsumen, dan kebutuhan mobilitas murah mendorong rumah tangga kelas pekerja beralih ke motor bekas sebagai solusi biaya awal yang lebih rendah.
Digitalisasi pasar lewat platform seperti OLX, Moladin dan sejumlah marketplace lain mengubah pola transaksi: listing sepeda motor bekas tumbuh agresif sejak sebelum 2020, dengan Moladin misalnya pernah mencatat 8.000 listing motor bekas dan pertumbuhan penjualan 20–30% per bulan di fase awal ekspansi.
Di sisi penawaran, pemilik motor menghadapi dilema antara kebutuhan likuiditas dan keinginan mempertahankan nilai jual di tengah harga baru yang mahal, sehingga nego harga di lapangan cenderung alot, terutama di kota besar. Dealer dan pedagang memanfaatkan situasi ini dengan margin lebih selektif, motor dengan histori servis jelas, kilometer rendah, dan bodi mulus cenderung dipatok mendekati kelipatan harga baru, terutama jika tipe tersebut sedang naik daun.
Segmentasi konsumen dan pola preferensi
Pasar motor bekas Indonesia semakin tersegmentasi berdasarkan fungsi dan kemampuan bayar, yang tercermin dari konsentrasi permintaan di beberapa klaster harga. Di wilayah urban, generasi muda dan pekerja harian cenderung memburu skutik injeksi tahun muda demi efisiensi dan kemudahan perawatan, sementara di daerah, motor bebek lawas dan skutik lama murah tetap menjadi tulang punggung mobilitas.
Segmen Rp3–6 juta banyak diisi motor berusia di atas 10 tahun yang menarik bagi pelajar, pekerja informal, dan keluarga di daerah dengan akses kredit terbatas.
Segmen Rp9–12 juta adalah “zona manis” untuk BeAT, Mio, dan skutik sekelas produksi 2016–2022, dibeli oleh pekerja urban yang mencari keseimbangan antara usia, teknologi, dan cicilan ringan via pembiayaan multifinance.
Segmen di atas Rp20 juta didominasi skutik premium seperti PCX dan NMax, di mana konsumen lebih sensitif terhadap fitur (ABS, keyless, bagasi luas) dan citra, bukan sekadar harga per kilometer.
Isu teknis seperti polemik rangka eSAF sempat menimbulkan kekhawatiran, tetapi data harga Beat Street dan BeAT keluaran baru menunjukkan diskon pasar bekas tidak sedalam yang dikhawatirkan, menandakan bahwa persepsi risiko teknis kalah oleh faktor utilitas dan jaringan layanan yang luas.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga dan pengawasan ketat terhadap kredit macet membuat sebagian konsumen yang sebelumnya mengincar motor baru, berbelok ke motor bekas yang bisa dibeli tunai atau dengan tenor lebih singkat.
Prospek 2026, stabil tinggi dengan kantong risiko
Memasuki 2026, harga sepeda motor bekas berpeluang tetap stabil tinggi dengan depresiasi yang lebih landai, terutama jika penjualan motor baru bertahan di kisaran 6–6,5 juta unit dan harga unit baru tidak mengalami koreksi signifikan. Kondisi ini akan mempertahankan daya tarik motor bekas sebagai instrumen mobilitas utama kelas menengah-bawah, sekaligus menyisakan ruang keuntungan bagi pedagang dan dealer yang mampu mengelola stok secara selektif.
Segmen skutik entry-level kemungkinan masih menjadi pusat gravitasi pasar, dengan gap harga antara unit tahun muda dan baru tetap lebar sehingga motor bekas 1–3 tahun akan sangat diminati.
Tekanan bisa terjadi di kelas motor tua di atas 12–15 tahun yang menghadapi biaya perawatan meningkat dan isu regulasi emisi di masa depan, sehingga pemiliknya berpotensi terpaksa menurunkan harga lebih agresif agar cepat laku.
Digitalisasi lanjutan di sisi pembiayaan, seperti fasilitas kredit kendaraan bekas dan kredit modal kerja berbasis aset kendaraan yang mulai diperluas oleh pemain seperti Moladin berpotensi memperluas basis konsumen motor bekas, terutama pelaku UMKM yang menggunakan motor untuk operasional bisnis harian.
Bagi pembeli, kondisi hingga 2026 mengisyaratkan bahwa ruang tawar bukan lagi pada berharap harga jatuh, tetapi pada kemampuan memilih unit dengan histori jelas, odometer relatif rendah, serta memanfaatkan persaingan antar dealer dan platform digital untuk mendapat harga paling efisien di segmen yang diincar. Bagi penjual dan pelaku usaha, pasar motor bekas tetap menjanjikan selama mampu membaca ritme suplai motor baru, mengelola stok berdasarkan tipe yang likuid, dan merespons cepat pergeseran preferensi konsumen yang semakin rasional dan melek informasi harga.


