Indonesia Siap Mengadopsi
Di Indonesia, tren ini mulai terlihat di kota-kota metropolitan seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali. Kawasan bisnis dan industri kini mulai mengembangkan apartemen berbasis langganan yang menyasar pekerja lepas, ekspatriat, serta masyarakat urban yang tidak ingin terikat dengan kepemilikan properti.
“Kami melihat bahwa generasi muda lebih menghargai pengalaman dibanding kepemilikan. Mereka ingin akses ke tempat tinggal yang nyaman tanpa harus terbebani oleh cicilan panjang,” kata Andi Setiawan, pengembang properti asal Jakarta.
Beberapa perusahaan rintisan properti di Indonesia bahkan mulai menawarkan layanan penyewaan fleksibel berbasis aplikasi, memungkinkan pengguna untuk memilih unit sesuai kebutuhan, lengkap dengan fasilitas modern seperti coworking space, gym, dan layanan kebersihan.
Dampak bagi Industri Properti
Jika tren ini terus berkembang, maka industri properti di Indonesia akan mengalami perubahan signifikan. Investor yang sebelumnya mengandalkan penjualan unit perumahan mungkin perlu mempertimbangkan model bisnis berbasis langganan. Sementara itu, pemerintah juga perlu menyesuaikan regulasi agar ekosistem properti berbasis layanan bisa tumbuh secara sehat.
Meskipun konsep Housing as a Service masih baru di Indonesia, namun potensinya untuk mengubah pasar properti sangat besar. Jika industri bisa beradaptasi, masa depan hunian mungkin tidak lagi tentang kepemilikan, tetapi tentang aksesibilitas yang lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan.


