Fenomena tumbuhnya warung Madura, bisa mengindikasikan beberapa hal, pertama, skema pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas mulai diminati kembali, peluang baru bisa tercipta dari komunitas selain komunitas etnis, misal komunitas pesantren, komunitas alumni, komunitas olahraga, atau komunitas lainnya.
Kedua, tingginya risiko berbisnis hari-hari ini sedikit terobati dengan model bisnis warung Madura. Memberikan opsi bagi masyarakat akan bentuk usaha dengan minim modal dan risiko. Modal awal toko kelontong Madura bisa berkisar antara Rp 40-100 jutaan, omzet per hari bisa mencapai Rp 3 jutaan. Modal awal itu jauh lebih rendah dari waralaba besar seperti Indomaret dan Alfamart.
Ketiga, model transaksi tradisional masih memiliki peminatnya. Hasil observasi enciety menemukan bahwa praktik belanja kasbon dan dibayar di akhir pekan atau akhir bulan (disebut paylater di masa kini) masih terjadi di toko kelontong, termasuk warung Madura. Praktik belanja dengan berhutang ini menguntungkan konsumen, namun berisiko bagi pedagang, sehingga perlu adanya inovasi teknologi pembayaran yang mampu mengakomodasi use case ini.
Keempat, operasional warung selama 24 jam menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat di malam sampai dini hari lumrah terjadi di kota besar, namun maraknya kriminalitas di malam hari menunjukkan bahwa keamanan masyarakat belum terjamin.
Di samping itu, fenomena warung Madura mengajarkan kita beberapa pondasi penting dalam berbisnis. Pertama, kekuatan jaringan. Jaringan bisnis ini akan berperan penting dalam penyediaan modal dan bahan baku.
Kedua, Kepercayaan. Kepercayaan antara pemilik usaha dengan pegawainya/pengelola toko.
Ketiga, ketekunan dan doa. Tidak ada keberhasilan tanpa ketekunan pastinya.
Salam sukses!


