Kawasan ramah pejalan kaki atau walkable area bukan sekadar tempat yang nyaman untuk berjalan kaki, tetapi juga merupakan ekosistem ekonomi yang dinamis. Berdasarkan analisis Strong Towns dalam artikel “Why Walkable Streets Are More Economically Productive”, jalan yang didesain untuk pejalan kaki dapat meningkatkan pendapatan ritel hingga 40% per meter persegi dibandingkan dengan area yang bergantung pada kendaraan pribadi.
Di Surabaya, potensi ini terlihat di kawasan seperti Jalan Tunjungan dan Jalan Darmo, di mana tingginya interaksi antarpejalan kaki menciptakan peluang bisnis yang beragam. Usaha mikro seperti pedagang kaki lima, kedai kopi, toko ritel lokal, serta kuliner khas kota dapat berkembang pesat di area dengan lalu lintas pejalan kaki yang tinggi. Contoh suksesnya adalah revitalisasi Parkir Satelit Tunjungan yang kini menarik banyak pengunjung dan meningkatkan omzet pedagang sekitar.
Selain itu, properti di kawasan walkable cenderung memiliki nilai jual dan harga sewa yang lebih tinggi karena aksesibilitasnya. Daerah seperti Kebun Bibit dan Kayoon Road berpotensi menjadi magnet bagi pengembang properti untuk membangun apartemen atau ruang kerja bersama berbasis konsep transit-oriented development (TOD). Kawasan ini juga mendukung ekonomi berbasis pengalaman, seperti wisata heritage di Kota Tua Surabaya, galeri seni di House of Sampoerna, dan festival jalanan di berbagai titik strategis.
Dari sisi infrastruktur, kawasan pejalan kaki yang dirancang dengan baik dapat mengurangi biaya pemeliharaan jalan serta polusi udara, sehingga anggaran kota dapat dialihkan untuk meningkatkan ruang publik dan mendukung UMKM.


