PT Bank Sahabat Sampoerna berhasil membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 11,2 miliar pada semester pertama 2025, menandai kinerja positif di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Pencapaian ini didukung oleh strategi fokus pada sektor UMKM dan akselerasi layanan digital yang memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan bisnis.
Bank Sampoerna memperkuat posisinya sebagai bank pendukung utama UMKM dengan mengalokasikan 64% dari total portofolio kredit senilai Rp 11,7 triliun untuk sektor UMKM. Distribusi pembiayaan UMKM dilakukan melalui dua jalur Rp 4,5 triliun (60%) disalurkan secara langsung dan Rp 3,0 triliun (40%) melalui mitra strategis termasuk perusahaan fintech, peer-to-peer lending, multifinance, koperasi simpan pinjam, dan perusahaan modal ventura.
Strategi dual-channel ini memungkinkan Bank Sampoerna menjangkau segmen UMKM yang lebih luas sambil tetap menjaga kualitas kredit. Rasio kredit bermasalah (NPL) bruto berhasil dipertahankan di level 4,2%, menunjukkan pengelolaan risiko yang prudent meski melayani segmen dengan risiko kredit tinggi.

Kinerja keuangan Bank Sampoerna menunjukkan soliditas yang menggembirakan. Net Interest Margin (NIM) bertahan di level 4,4% untuk enam bulan pertama 2025, mencerminkan kemampuan bank dalam mengelola kredit dan dana pihak ketiga secara optimal. Angka ini bahkan sedikit di bawah rata-rata industri perbankan nasional yang tercatat 4,5%, namun tetap menunjukkan efisiensi operasional yang baik.
Penghimpunan dana murah (CASA) mengalami lonjakan signifikan, mencapai Rp 2,5 triliun atau tumbuh 52% dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio CASA meningkat drastis menjadi 19,2% dari posisi 11,7% pada tahun sebelumnya, menunjukkan kepercayaan nasabah yang meningkat dan efektivitas strategi penghimpunan dana.
Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sangat solid di level 27,9%, jauh di atas ketentuan minimum regulator dan rata-rata industri 25,4%. Posisi permodalan yang kuat ini memberikan ruang gerak yang luas untuk ekspansi bisnis dan menyerap potensi risiko.

Revolusi Digital dan Bank as a Service (BaaS)
Bank Sampoerna mencatatkan pertumbuhan eksponensial dalam layanan digital dengan volume transaksi mencapai 148 juta transaksi senilai Rp 59 triliun pada H1 2025, meningkat 10 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Lonjakan ini menunjukkan keberhasilan implementasi strategi Bank as a Service (BaaS) yang menjadi diferensiator utama bank.
Layanan virtual account, pembayaran melalui QRIS, dan transfer dana host-to-host melalui mitra strategis menjadi motor utama pertumbuhan digital. Kolaborasi dengan berbagai mitra memungkinkan Bank Sampoerna menyediakan layanan perbankan yang terintegrasi tanpa nasabah harus berkunjung ke kantor cabang.
Inovasi layanan digital terbaru meliputi penarikan tunai tanpa kartu di ATM bank lain secara gratis dan layanan penarikan tunai di gerai Alfamart dan Alfa Express di seluruh Indonesia. Kemudahan akses ini memperkuat posisi Bank Sampoerna sebagai bank yang mengutamakan convenience banking.
Dilihat dari konteks industri dan tantangan sektoral. Kinerja Bank Sampoerna patut diapresiasi mengingat kondisi industri perbankan yang menghadapi berbagai tantangan. Pertumbuhan kredit UMKM secara nasional hanya 2,3% YoY pada April 2025, bahkan Bank Indonesia menyebut kondisi ini “menyedihkan” karena lebih rendah dibandingkan masa pandemi yang mencapai 10%.
Tekanan likuiditas industri perbankan juga menjadi tantangan serius. Money supply (M2) melambat ke 5,1% pada April 2025, sementara pertumbuhan deposito hanya 4,4%. Kondisi ini memaksa bank-bank untuk lebih selektif dalam penyaluran kredit dan menaikkan cost of fund.
NIM industri diperkirakan akan tertekan pada Q2 2025 akibat kondisi likuiditas yang ketat. Namun Bank Sampoerna berhasil mempertahankan NIM di level yang kompetitif berkat strategi pengelolaan aset-liabilitas yang efektif.
Strategi Prudent dan Pengelolaan Risiko
Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra, menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan antara penghimpunan dana dan penyaluran kredit. Loan to Deposit Ratio (LDR) berada pada tingkat 88,8%, naik 2,5% dari posisi 86,3% pada Juni 2024, namun masih dalam batas yang sehat dan sesuai dengan risk appetite bank.
Bank Sampoerna menerapkan strategi prudent melalui beberapa pendekatan, diantaranya, strategi selektivitas dalam penyaluran kredit dengan mempertahankan jaringan yang kuat dan pendekatan personal untuk menghindari kredit macet. Tidak hanya mengandalkan credit scoring, bank juga mempertahankan interaksi langsung dengan nasabah UMKM untuk memberikan solusi ketika menghadapi kesulitan ekonomi.
Selain itu, strategi lain yang diterapkan adalah diversifikasi melalui mitra strategis memungkinkan bank memperluas jangkauan tanpa meningkatkan eksposur risiko secara langsung. Model kolaborasi dengan fintech dan P2P lending memberikan akses ke data alternatif yang memperkaya proses credit scoring.
Bank Sampoerna tidak hanya fokus pada kinerja finansial, tetapi juga berkomitmen pada peningkatan literasi keuangan masyarakat melalui program SampoernaFest. Event ini digelar di berbagai kota seperti Palembang, Samarinda, dan Makassar, dengan rencana ekspansi ke Pekanbaru pada Oktober 2025.
Program ini bertujuan mendorong peningkatan literasi dan pemanfaatan layanan keuangan digital, khususnya pada generasi muda. Bank mengajak masyarakat memanfaatkan fitur Sampoerna Mobile Banking sebagai solusi transaksi ekonomis dan perencanaan keuangan jangka panjang.
Outlook dan strategi ke depan guna menghadapi tantangan ekonomi global yang berlanjut, CEO Bank Sampoerna, Ali Yong menegaskan komitmen berkelanjutan terhadap pemberdayaan UMKM. Bank akan terus memanfaatkan teknologi digital dan kolaborasi dengan mitra strategis sebagai langkah strategis memperluas cakupan penyaluran kredit UMKM hingga ke pelosok tanah air.
Sinergi dengan mitra strategis menjadi ujung tombak dalam memperluas akses pembiayaan dan menyediakan berbagai layanan perbankan yang diperlukan UMKM untuk berkembang secara berkelanjutan[1][2]. Model BaaS yang telah terbukti efektif akan terus dikembangkan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif.
Bank Sampoerna juga berkomitmen menyediakan layanan keuangan lainnya seperti pembayaran QRIS dan transfer dengan biaya terjangkau bahkan gratis, memperkuat posisinya sebagai bank yang mengutamakan kemudahan akses bagi pelaku usaha di berbagai daerah.
Laba Rp 11,2 miliar yang diraih Bank Sampoerna pada H1 2025 mencerminkan keberhasilan strategi fokus pada UMKM yang dibalut dengan inovasi digital yang berkelanjutan. Di tengah tantangan industri perbankan yang menghadapi tekanan likuiditas dan perlambatan pertumbuhan kredit UMKM secara nasional, Bank Sampoerna berhasil mempertahankan kinerja yang solid melalui pengelolaan risiko yang prudent dan diversifikasi layanan digital.
Kombinasi antara commitment terhadap UMKM, inovasi BaaS, dan penguatan fundamental keuangan memberikan posisi strategis bagi Bank Sampoerna untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global sambil tetap berkontribusi pada pemberdayaan sektor UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.


