Di kawasan Lapangan KONI Surabaya yang saat ini dikenal dengan Lapangan Jatim Seger pada akhir pekan, pemandangan pergelangan tangan para pelari menceritakan sebuah perubahan besar. Bukan lagi arloji chronograph berat berbahan baja tahan karat yang mendominasi, melainkan layar-layar digital menyala yang menampilkan detak jantung, pace lari, dan kadar oksigen darah.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat. Data pasar menunjukkan pergeseran fundamental dalam cara masyarakat Indonesia memandang fungsi sebuah jam tangan. Dari sekadar penunjuk waktu dan status sosial, kini berevolusi menjadi “asisten medis” pribadi. Namun, pertanyaan besarnya, di tengah gempuran teknologi ini, apakah arloji mewah (luxury watch) akan kehilangan tahtanya sebagai instrumen investasi?
Gelombang Gaya Hidup Sehat Pasca-Pandemi
Ledakan popularitas smartwatch di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari momentum pasca-pandemi COVID-19. Kesadaran masyarakat akan kesehatan preventif melonjak drastis, menciptakan permintaan baru terhadap perangkat yang mampu memantau vitalitas tubuh secara real-time.
Menurut laporan IDC (International Data Corporation) dan data pasar terbaru, pasar wearable device di Indonesia diproyeksikan tumbuh dengan CAGR (Compound Annual Growth Rate) sebesar 15,1% hingga tahun 2031. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan pasar jam tangan mewah konvensional yang diprediksi Statista hanya tumbuh konservatif di angka 1,52% per tahun dalam periode yang sama.
Laporan dari We Are Social mencatat bahwa kepemilikan smartwatch di kalangan pengguna internet Indonesia telah mencapai 19,3% pada awal 2025. Angka ini didorong oleh penetrasi merek-merek yang menawarkan fitur kesehatan canggih dengan rentang harga variatif, mulai dari Xiaomi dan Huawei yang mendominasi segmen entry-mid, hingga Garmin dan Apple di segmen premium.
Masyarakat kini membeli smartwatch bukan lagi sekadar untuk notifikasi WhatsApp, melainkan untuk fitur ECG (elektrokardiogram), pemantauan kualitas tidur, dan saturasi oksigen. Hal ini terkonfirmasi oleh kenaikan penjualan segmen aksesoris & IoT di Erajaya (ERAL) yang mencatat lonjakan 30% YoY pada 2024, didorong oleh tingginya minat pada health wearables.
Data Bicara, Pertumbuhan Eksponensial vs Stabilitas
Untuk memahami seberapa masif pergeseran ini, kita dapat melihat perbandingan laju pertumbuhan pasar antara teknologi wearable dengan jam tangan mewah di Indonesia.

Grafik di atas memperlihatkan dua realitas yang berbeda. Smartwatch tumbuh agresif karena sifatnya sebagai consumer goods yang didorong inovasi teknologi dan adopsi massal. Sebaliknya, pasar jam tangan mewah tumbuh lambat namun stabil, mencerminkan sifatnya yang eksklusif dan niche.
Investasi, Smartwatch vs. Luxury Watch
Apakah smartwatch menggeser arloji mewah sebagai barang investasi? Jawabannya adalah Tidak. Keduanya justru bergerak ke arah yang berlawanan dalam spektrum nilai ekonomi. Berikut analisis mendalamnya.
Smartwatch, investasi kesehatan, bukan finansial. Secara finansial, smartwatch adalah aset depresiasi. Seperti halnya smartphone, nilai jual kembali smartwatch akan jatuh drastis begitu model baru dirilis (biasanya siklus 1-2 tahun).
Obsolescence (keusangan). Baterai lithium-ion yang menurun performanya dan software update yang terhenti membuat umur ekonomis smartwatch rata-rata hanya 3-5 tahun. Nilai, anda membeli fungsi dan data kesehatan, bukan nilai aset. Investasinya adalah pada tubuh Anda sendiri (kesehatan), bukan pada dompet Anda.
Luxury watch. Aset ‘Safe Haven’ & Warisan. Jam tangan mekanik mewah (seperti Rolex, Patek Philippe, Audemars Piguet) memiliki karakteristik yang bertolak belakang. Store of Value. Jam tangan mewah diakui sebagai alternative asset. Di Indonesia, pasar sekunder (pre-owned) untuk merek-merek tertentu sangat likuid. Kelangkaan (scarcity) yang diciptakan produsen membuat harga model tertentu justru naik seiring waktu.
Tanpa keusangan. Jam mekanik yang dirawat dengan baik bisa bertahan ratusan tahun dan berfungsi sebagai barang warisan (heirloom). Tidak ada chip yang akan usang atau baterai yang bocor.
Tren “Double-Wristing” dan Perubahan Perilaku
Alih-alih saling membunuh, pasar Indonesia menunjukkan tren koeksistensi yang unik. Penggemar jam tangan (horology enthusiast) di Indonesia mulai memisahkan fungsi.
Pertama, Daily Driver / Workout. Menggunakan Smartwatch (Garmin/Apple Watch) untuk aktivitas harian, lari di Lapangan KONI, atau memantau tidur.
Kedua, Special Occasion / Investment. Menggunakan jam tangan mekanik (Rolex/Omega) untuk pertemuan bisnis, acara formal, atau disimpan di brankas sebagai aset lindung nilai.
Bahkan, muncul fenomena double-wristing (memakai jam mekanik di kiri dan smartband tipis di kanan) agar tetap terlihat elegan tanpa kehilangan data kesehatan.
Pergeseran Fungsi, Bukan Aset
Berdasarkan riset dan data yang dihimpun, smartwatch berhasil menggeser jam tangan konvensional dalam hal pangsa pasar utilitas harian dan volume penjualan. Bagi generasi Milenial dan Gen Z di Indonesia, data kesehatan kini lebih “seksi” daripada sekadar penunjuk waktu analog.
Namun, dalam konteks instrumen investasi, smartwatch sama sekali tidak mengancam keberadaan jam tangan mewah. Arloji mewah tetap bertahta sebagai simbol status dan aset pelindung kekayaan yang tidak tergantikan oleh teknologi digital. Pasar Indonesia kini terbelah menjadi dua kutub, mereka yang mengejar masa depan (teknologi kesehatan) dan mereka yang menghargai keabadian (craftsmanship & investasi).


