Kamis, April 16, 2026
spot_img
BerandaMarketLemahnya Serapan DMO Batu Bara Semester I-2025

Lemahnya Serapan DMO Batu Bara Semester I-2025

Realisasi Domestic Market Obligation (DMO) batu bara Indonesia mengalami perlambatan signifikan pada semester I-2025, dengan capaian hanya mencapai 104,6 juta ton atau 43,63% dari target tahunan sebesar 239,7 juta ton. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar 10% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, mencerminkan adanya tekanan struktural yang mempengaruhi permintaan domestik.

Lemahnya Serapan DMO Batu Bara Semester I-2025

Salah satu penyebab utama lesunya serapan DMO adalah penurunan drastis aktivitas smelter nikel, yang merupakan konsumen batu bara terbesar kedua setelah sektor kelistrikan. Berdasarkan data Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), beberapa smelter raksasa telah memangkas produksi secara signifikan. PT Tsingshan Steel Indonesia tercatat memangkas produksi 50% dari 150-160 ribu ton pada Januari 2025 menjadi hanya 80 ribu ton pada Juni 2025.

Selanjutnya ada PT Gunbuster Nickel Industry (GNI) yang mengalami pemangkasan 80% produksi, dari 100 ribu ton pada Januari menjadi hanya 10-20 ribu ton pada Juni 2025. Kemudian, ada PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Huadi Nickel Alloy Indonesia (HNAI) yang turut mengurangi kapasitas produksi dengan dampak 1.200 karyawan dirumahkan.

Pengaruh berikutnya adalah kondisi ekonomi global dan geopolitik. Penurunan permintaan stainless steel dari China akibat faktor geopolitik menjadi pemicu utama efisiensi produksi smelter. Aktivitas smelter nikel pig iron turun 9% year-on-year pada Juni 2025, merupakan angka tertinggi dalam 2 tahun terakhir.

Meskipun sektor PLTU masih menjadi konsumen terbesar DMO dengan alokasi sekitar 50% atau sekitar 119,85 juta ton, sektor ini juga menghadapi tantangan. Sebanyak 3,2 GW PLTU baru yang beroperasi pada 2025 belum cukup mengompensasi penurunan permintaan dari sektor industri lainnya.

Lemahnya Serapan DMO Batu Bara Semester I-2025

Struktur Konsumsi DMO Batu Bara

Berdasarkan data Kementerian ESDM, alokasi DMO batu bara 2025 didominasi oleh PLTU (Pembangkit Listrik) 50% atau sekitar 119,85 juta ton. Kemudian ada smelter/peleburan 30% atau sekitar 71,91 juta ton. Selanjutnya, industri semen, pupuk, kertas, masing-masing menyumbang 3-5%. Tercatat untuk sektor lainnya 7%.

Sesuai dengan data yang berhasil dihimpun, ada beberapa kondisi ekonomi makro yang mempengaruhi. Diantaranya, pertumbuhan ekonomi yang melambat. Ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 tercatat hanya tumbuh 4,87%, melambat dari 5,02% pada triwulan IV-2024. Meskipun industri manufaktur mencatatkan pertumbuhan 5,68% pada triwulan II-2025, sektor ini masih menghadapi tantangan struktural.

Kemudian, faktor-faktor eksternal seperti tekanan global dan perdagangan juga menjadi kendala. Ketidakpastian ekonomi global yang dipicu kebijakan tarif Trump dan perang dagang berpotensi menekan ekspor Indonesia hingga 3-5%. Hal ini berdampak pada aktivitas industri domestik yang bergantung pada permintaan ekspor.

Sementara itu, faktor tantangan harga dan kebijakan menjadi salah satu hal yang boleh dibilang menjadi batu sandungan bagi batu bara. Harga DMO batu bara yang stagnan sejak 2018 menjadi tantangan tersendiri. Harga untuk kelistrikan masih di level USD 70 per ton, sementara non-kelistrikan USD 90 per ton. Sementara itu, biaya produksi terus meningkat, termasuk dampak pencabutan subsidi B40 untuk non-PSO.

APBI memproyeksikan permintaan batu bara untuk smelter dapat mencapai puncak 84,2 juta ton pada 2026, namun diperkirakan turun menjadi 78,6 juta ton pada 2027. Hal ini mengindikasikan bahwa tekanan pada serapan DMO masih akan berlanjut dalam jangka menengah.

Jika dilihat dari dampak fiskal, perlambatan serapan DMO berpotensi mengurangi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor minerba, mengingat target PNBP bergantung pada volume dan harga komoditas.

Merespon lesunya serapan DMO batu bara ini, ada beberapa strategi mitigasi yang dapat dilakukan. Diantaranya adalah melakukan diversifikasi konsumen DMO. Mencari sektor alternatif selain smelter nikel yang mengalami kontraksi. Kemudian, penyesuaian target, evaluasi realistis target DMO berdasarkan kondisi industri secara aktual. Selanjutnya adalah dukungan industri yang dapat dilakukan dengan acara memberikan insentif untuk industri yang menjadi konsumen DMO. Kemudian, melakukan stabilisasi harga. Pertimbangan penyesuaian harga DMO mengingat inflasi biaya produksi.

Lesunya serapan DMO batu bara semester I-2025 mencerminkan tantangan struktural yang dihadapi sektor industri Indonesia, terutama akibat penurunan aktivitas smelter nikel dan tekanan ekonomi global. Dengan realisasi baru mencapai 43,63% dari target tahunan, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan DMO dan memberikan dukungan kepada sektor industri untuk memastikan stabilitas pasokan energi domestik sambil menjaga daya saing industri nasional.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments