Jumat, April 3, 2026
spot_img
BerandaMediaRekor NTP 125,35 tapi Petani Perkebunan Kian Tertinggal

Rekor NTP 125,35 tapi Petani Perkebunan Kian Tertinggal

Nilai Tukar Petani (NTP) nasional menutup Desember 2025 di level 125,35, rekor tertinggi sepanjang sejarah pencatatan, sekaligus mengangkat rata-rata NTP tahun 2025 ke 123,26, tertinggi dalam lebih dari tiga dekade. Di Jawa Timur, NTP melonjak tajam 3,95% menjadi 118,96 hanya dalam satu bulan, jauh di atas kenaikan nasional yang hanya 1,05%.

Namun euforia “rekor sejarah” ini menyimpan anomali serius. Pertama, kenaikan NTP sangat terkonsentrasi di subsektor hortikultura, yang naik 14,48% secara nasional dan bahkan 32,88% di Jawa Timur sebuah lonjakan bulanan yang ekstrem.

Kedua, sebaliknya, petani tanaman perkebunan rakyat dan tanaman pangan justru mengalami penurunan NTP, baik di tingkat nasional maupun di Jawa Timur.

Ketiga, Jawa Timur menjadi episentrum lonjakan harga horti cabai rawit, bawang merah, sayuran lain yang mengangkat NTP petani, tetapi sekaligus mendorong inflasi bahan makanan rumah tangga.

Dengan kata lain, rekor NTP 125,35 bukan cermin kemakmuran yang merata, melainkan hasil lonjakan harga yang menguntungkan kelompok petani tertentu dan menekan yang lain dan Jawa Timur adalah contoh paling gamblang dari distorsi ini.

Sekilas tentang NTP, Indikator Daya Beli Petani

Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib).

Jika NTP lebih dari 100, maka harga yang diterima petani (hasil jual produksi) relatif lebih tinggi daripada harga barang/jasa yang dibeli (konsumsi dan biaya produksi), daya beli petani menguat.
Jika NTP kurang dari 100, maka petani secara riil merugi, hasil panen tidak cukup mengimbangi biaya hidup dan usaha.

Berbagai studi empiris menegaskan bahwa NTP berkorelasi dengan kesejahteraan petani dan sangat dipengaruhi oleh inflasi pedesaan, harga gabah/komoditas utama, dan biaya input produksi. Karena itu, kenaikan NTP yang bersumber dari inflasi pangan tinggi perlu dibaca hati-hati, petani produsen bisa menikmati surplus, tetapi petani yang sekaligus konsumen bersih pangan bisa terpukul.

Gambaran Nasional, NTP 2025 Naik, Rekor Tertinggi di Desember

Profil tahunan, dari koreksi ke rekor, artinya, data BPS menunjukkan pergerakan NTP nasional 2025 (indeks 2018=100) sebagai berikut:

Bulan 2025

NTP Nasional

Januari 123,68
Februari 123,45
Maret 123,72
April 121,06
Mei 121,15
Juni 121,72
Juli 122,64
Agustus 123,57
September 124,36
Oktober 124,33
November 124,05
Desember 125,35

Grafik evolusi NTP 2025 memperlihatkan pola yang jelas, koreksi tajam pada April–Juni, diikuti pemulihan bertahap dan ditutup dengan lonjakan ke rekor baru di Desember.
Beberapa poin kunci. Pertama, Triwulan I, NTP bergerak di kisaran 123,4–123,7, relatif stabil dan tinggi.

Pada Bulan April–Juni, terjadi koreksi signifikan, NTP turun ke kisaran 121–122, antara lain akibat penurunan harga gabah dan koreksi sejumlah komoditas perkebunan.

Pada Bulan Juli–September, NTP kembali menguat ke atas 123, didorong perbaikan harga sawit, kopi, cabai dan beras, serta program penyerapan gabah yang agresif.

Di Bulan Oktober–November, dua bulan berturut-turut NTP terkoreksi (124,33 → 124,05), terutama karena melemahnya harga gabah, sawit, kakao, dan tembakau.

Di Bulan Desember, NTP melonjak ke 125,35, naik 1,05% m/m, tertinggi sepanjang sejarah pencatatan, dengan rata-rata NTP 2025 sebesar 123,26, juga rekor dalam 33 tahun terakhir.

Secara makro, pemerintah mengaitkan lonjakan ini dengan keberhasilan swasembada beras dan kebijakan penyerapan gabah (Bulog membeli dengan skema any quality Rp6.500/kg), yang mendorong harga gabah dan meningkatkan pendapatan petani padi.

Struktur kenaikan Bulan Desember, It Melonjak Lebih Cepat dari Ib. Menurut BPS, kenaikan NTP Desember 2025 terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) pada Desember 2025 mencapai 157,94, naik 2,08% m/m. Lalu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) di Bulan Desember 2025, 126,00, naik 1,02% m/m.

Artinya, harga jual komoditas pertanian naik dua kali lebih cepat daripada kenaikan biaya hidup dan produksi petani. Di satu sisi ini memperbaiki terms of trade petani, namun dari sisi konsumen (termasuk rumah tangga petani miskin yang net-consumer pangan) ini berarti pangan makin mahal.

Dalam skala nasional terjadi lonjakan hortikultura, namun disisi yang lain ada kejatuhan di sektor perkebunan.

BPS mencatat kinerja NTP per subsektor di Desember 2025 sebagai berikut:

Subsektor

Perubahan NTP Des 2025 (m/m)

Tanaman Hortikultura +14,48%
Peternakan +0,77%
Perikanan +0,42%
Tanaman Pangan –0,14%
Tanaman Perkebunan Rakyat –1,25%

Dua pola ekstrem langsung terlihat. Pertama, hortikultura menjadi mesin utama kenaikan NTP nasional, dengan lonjakan dua digit yang sangat jarang terjadi dalam satu bulan. Kedua, tanaman perkebunan rakyat justru mencatat penurunan terdalam, diikuti penurunan tipis pada tanaman pangan.

Komoditas pendorong dan penekan

Pendorong It nasional (kontributor kenaikan NTP). Gabah, cabai rawit, kakao/biji cokelat, ayam ras pedaging. Penekan It khusus subsektor perkebunan rakyat, seperti tebu, kelapa sawit, kelapa, biji jambu mete.

Artinya, tidak semua petani menikmati rekor NTP 125,35. Petani hortikultura dan sebagian peternak ayam ras adalah pemenang, sementara petani sawit, kakao, tebu, kelapa, dan sebagian petani padi di wilayah tertentu justru mengalami penurunan daya beli relatif.

Anomali, Rekor Nasional Tapi Perkebunan Rakyat Merah

Secara historis, subsektor perkebunan rakyat (sawit, kakao, karet, tembaka, tebu, kelapa) sering menjadi tulang punggung peningkatan NTP di saat harga komoditas global sedang tinggi.

Namun pada akhir 2025, NTP perkebunan rakyat nasional turun 1,25% di Desember, setelah sebelumnya juga tertekan pada Oktober–November.

Petani sawit dan kakao menghadapi harga yang tidak sebaik periode boom komoditas sebelumnya, sementara biaya pupuk dan energi belum kembali ke level pra-krisis.

Dengan demikian, rekor NTP 125,35 lebih banyak mencerminkan lonjakan harga pangan segar (horti dan sebagian beras) ketimbang perbaikan fundamental di subsektor perkebunan. Ini adalah anomali pertama, rekor historis di level agregat, tapi subsektor tradisional ekspor justru berada dalam zona tekanan.

Jawa Timur, NTP Melonjak 3,95%, Diderek Horti 32,88%

NTP gabungan Jawa Timur, naik tajam, tapi masih di bawah nasional. BPS Jawa Timur mencatat NTP Provinsi Jawa Timur Desember 2025 sebesar 118,96, naik 3,95% dari 114,44 pada November.
Tercatat, It Jatim, naik 4,99% m/m. Lalu, untuk Ib Jatim, naik 1,00% m/m.

Beberapa angka penting yang perlu diketahui. November 2025, NTP Jatim 114,44, turun 0,47% dari Oktober; penurunan terutama karena It melemah, sementara Ib meningkat. Desember 2024, NTP Jatim 111,96, naik 1,60% dari bulan sebelumnya.

Artinya, secara tahunan (Dec 2024 → Dec 2025), NTP Jatim naik sekitar 6,3%, lebih kuat dari rata-rata nasional (3,04% yoy untuk rata-rata tahunan). Namun secara level, NTP Jatim 118,96 masih jauh di bawah NTP nasional 125,35, dan juga tertinggal dari provinsi-provinsi dengan basis perkebunan kuat seperti Sumatera Utara (NTP Juli 2025 di kisaran 139,78).

Ini menciptakan paradoks, Jawa Timur mengalami lonjakan NTP bulanan terbesar di penghujung tahun, tapi posisinya secara nasional tetap di kelas menengah, bukan teratas.

Struktur subsektor Jawa Timur, hortikultura meledak, perkebunan & pangan turun. Rinciannya, menurut BPS Jatim dan laporan Media ANTARA. Hortikultura, NTP hortikultura Jatim melonjak 32,88% dari 134,28 menjadi 178,43. Perikanan, Naik 2,10% dari 97,31 menjadi 99,35. Peternakan, naik 1,11% dari 104,01 menjadi 105,17. Tanaman perkebunan rakyat, turun 3,14% dari 111,88 menjadi 108,36. Tanaman pangan, turun 0,50% dari 115,97 menjadi 115,38.

Keterbelahan kinerja ini tergambar sangat jelas pada grafik perubahan NTP per subsektor di Jawa Timur Desember 2025.

Komoditas pendorong dan penekan di Jawa Timur. Pendorong It (andil terbesar kenaikan harga yang diterima petani). Cabai rawit, bawang merah, gabah, telur ayam ras, ayam ras pedaging, kacang tanah, jagung, wortel, tomat, kol/kubis.

Penekan It (andil terbesar penurunan) adalah komoditas tebu, buncis, sapi potong, jeruk, apel, sawi hijau, ketimun, kambing, ayam kampung, kacang panjang. Pendorong Ib (kenaikan biaya yang dibayar petani) adalah bawang merah, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras, bensin, tomat sayur, cabai merah, bibit bawang merah, semangka, kangkung.

Gambar besarnya, NTP Jatim Desember 2025 diseret naik oleh ledakan harga sayuran dan cabai, sementara subsektor yang berbasis komoditas perkebunan (tebu, buah-buahan, dsb.) justru tertekan.

Ketergantungan Jatim pada lonjakan horti yang sangat volatil. Lonjakan hortikultura Desember 2025 bukan kasus tunggal. Data BRS Juni 2025 menunjukkan bahwa, NTP Jatim Juni 2025 naik 2,75% (109,38 → 112,39), tertinggi secara nasional bulan itu. Pendorong utamanya lagi-lagi subsektor hortikultura, dengan NTP horti Jatim naik 13,68% dari 124,63 menjadi 141,68.

Artinya, dalam satu tahun, di Bulan Juni 2025 horti Jatim melonjak 13,7%, mendorong kenaikan NTP provinsi tertinggi se-Indonesia.

Desember 2025, horti Jatim melonjak lagi 32,9%, menciptakan lonjakan NTP 3,95% hanya dalam sebulan.

Ini adalah sebuah anomali, profil kesejahteraan petani Jatim sangat bergantung pada dua “shock” hortikultura yang ekstrem dalam setahun. Secara jangka pendek, petani cabai, bawang, dan sayuran memang menikmati windfall. Namun, volatilitas ini berisiko, ketika harga jatuh (seperti yang kerap terjadi pasca panen raya cabai), NTP bisa merosot tajam.

Bagi konsumen (termasuk rumah tangga petani miskin), lonjakan harga horti berarti inflasi bahan makanan yang menyakitkan. BPS mencatat inflasi Jawa Timur Desember 2025 sebesar sekitar 0,76%, dengan kelompok makanan-minuman sebagai pendorong utama.

Dengan kata lain, kenaikan NTP Jatim lebih merefleksikan “ekonomi cabai mahal” daripada perbaikan struktural produktivitas dan efisiensi usaha tani.

Anomali terbesar adalah rekor NTP tapi kesenjangan antar-subsektor dan antar-wilayah melebar. Menggabungkan gambaran nasional dan Jawa Timur, anomali yang paling tajam dapat diringkas sebagai berikut.

Rekor agregat, tapi tidak inklusif. Secara nasional, NTP Desember 2025 (125,35) dan rata-rata 2025 (123,26) adalah rekor historis. Namun pola kenaikan sangat timpang, horti dan sebagian peternakan/perikanan diuntungkan. Perkebunan rakyat dan sebagian pangan tetap tertekan, baik secara nasional maupun di Jawa Timur.

Dari perspektif kebijakan, ini menunjukkan bahwa program swasembada beras dan penyerapan gabah memang mengangkat sebagian petani padi, namun tidak otomatis memperbaiki posisi tawar petani tebu, sawit, kakao, dan kelapa. NTP sebagai rata-rata nasional menutupi heterogenitas kesejahteraan petani lintas komoditas.

Jawa Timur “Numpang Rekor” di Pundak Hortikultura

Jawa Timur menjadi ilustrasi paling kuat dari anomali tersebut. Jika diurai secara mendalam, kenaikan NTP Jatim Desember (+3,95%) *tiga kali lipat lebih besar dari kenaikan nasional (+1,05%), namun level NTP Jatim (118,96) tetap jauh di bawah angka nasional (125,35).

Lonjakan ini terjadi bukan karena seluruh subsektor sehat, melainkan karena, hortikultura “meledak” +32,88% m/m. Tanaman pangan dan perkebunan rakyat Jatim justru turun.

Jika tren ini berulang, struktur pertanian Jatim menjadi sangat rentan pada siklus harga cabai, bawang, dan sayuran, sementara petani tebu, buah, dan komoditas perkebunan lain terjebak di ekor distribusi NTP.

Perkebunan Rakyat, “Loser” yang Strategis

Kondisi subsektor perkebunan rakyat patut mendapat perhatian khusus, nasional NTP perkebunan rakyat turun 1,25% Desember, sebelumnya juga terkoreksi pada Oktober–November 2025. Jawa Timur, NTP perkebunan rakyat turun 3,14% di Desember, di tengah euforia rekor nasional.

Padahal, studi tentang kakao dan sawit menunjukkan bahwa komoditas perkebunan adalah sumber devisa utama dan basis pendapatan jutaan petani di luar Jawa. Tekanan harga jangka panjang ditambah biaya pupuk dan input tinggi menggerus marjin petani meski NTP agregat nasional tampak sehat.

Inilah anomali ketiga, subsektor yang paling strategis untuk ekspor dan hilirisasi justru tertinggal di tengah klaim keberhasilan swasembada dan rekor NTP.

Implikasi kebijakan membaca rekor NTP dengan kacamata kritis. Jika berdasarkan pola data dan literatur tentang faktor-faktor penentu NTP, beberapa implikasi kebijakan yang dapat ditarik adalah jangan terlena oleh angka agregat. Rekor NTP 125,35 dan rata-rata 123,26 perlu diapresiasi, tetapi kementerian dan pemerintah daerah harus memecah NTP ke level subsektor dan provinsi sebagai dasar intervensi yang lebih presisi.

Narasi publik adalah NTP tertinggi sepanjang sejarah tanpa catatan tentang subsektor tertinggal berisiko mengaburkan kebutuhan dukungan untuk petani perkebunan dan sebagian petani pangan.

Berikutnya adalah menstabilkan harga hortikultura tanpa mematikan NTP. Jawa Timur menunjukkan bagaimana harga cabai dan sayuran yang meroket bisa menjadi pedang bermata dua, di satu sisi, NTP hortikultura dan NTP gabungan provinsi melonjak. Di sisi lain, inflasi mamin meningkat dan rumah tangga miskin terpukul.

Kebijakan yang bisa dipertimbangkan, penguatan rantai pasok horti lokal (cold storage, distribusi antardaerah) untuk mengurangi fluktuasi ekstrem, seperti disarankan dalam berbagai studi tentang volatilitas cabai di Jawa Timur.

Skema lindung nilai sederhana bagi petani horti, misalnya melalui kontrak pembelian dengan ritel modern/BUMN pangan, agar pendapatan petani lebih stabil tanpa bergantung sepenuhnya pada lonjakan harga sesaat.

Merancang paket penyokong perkebunan rakyat juga menjadi salah satu hal yang dapat dilakukan. Mengacu pada tekanan NTP perkebunan rakyat, baik nasional maupun Jatim, kebijakan yang lebih terarah diperlukan.

Subsidi dan efisiensi pupuk untuk petani perkebunan, yang selama ini sangat sensitif terhadap harga input produksi. Insentif hilirisasi di level petani/kelompok tani, agar petani tidak hanya menjual bahan mentah berharga rendah. Penguatan kelembagaan petani (koperasi, BUMDes) untuk meningkatkan posisi tawar terhadap tengkulak dan pabrik.

Tanpa itu, rekor NTP nasional akan terus menutupi stagnasi kesejahteraan jutaan petani sawit, kakao, tebu, dan kelapa.

Fokus pada Daya Beli Bersih Petani (NTP vs NTPRP)

Beberapa riset terbaru menggarisbawahi pentingnya mengukur Nilai Tukar Pendapatan Rumah Tangga Petani (NTPRP), yang memasukkan struktur pendapatan dan pengeluaran rumah tangga secara lebih komprehensif.

Petani yang tampak “untung” dari sisi NTP subsektor bisa jadi net-consumer pangan dan menderita ketika harga pangan melonjak. Untuk Jawa Timur, di mana banyak petani padi dan tebu juga membeli sebagian besar bahan makanan di pasar, kenaikan harga cabai dan beras bisa mengikis manfaat kenaikan NTP.

Dengan demikian, NTP perlu dilengkapi dengan indikator lain (NTPRP, kemiskinan pedesaan, NTUP) dalam evaluasi kebijakan.

Di Balik Rekor NTP, PR Besar Pemerataan Kesejahteraan Petani

Data Desember 2025 menghadirkan dua wajah pertanian Indonesia, di satu sisi, NTP nasional menyentuh 125,35, tertinggi sepanjang sejarah, ditopang rata-rata tahunan 123,26 yang juga rekor tiga dekade.

Di sisi lain, ketimpangan antar-subsektor dan antarwilayah melebar. Hortikultura menjadi superstar dengan lonjakan dua digit, terutama di Jawa Timur yang mencatat kenaikan NTP horti *32,88%* dan NTP gabungan 3,95% dalam sebulan.

Petani perkebunan rakyat dan sebagian petani pangan justru mengalami penurunan NTP, meski narasi resmi menyebut kesejahteraan petani meningkat.

Bagi Jawa Timur, pesan utamanya jelas, provinsi ini sedang numpang naik di punggung komoditas horti yang sangat volatil, sementara basis pangan dan perkebunan belum solid. Kenaikan NTP perlu diterjemahkan menjadi investasi pada produktivitas dan efisiensi, bukan sekadar mengandalkan siklus harga, perlindungan yang lebih kuat bagi petani di subsektor yang justru tertinggal dan kebijakan pangan yang menyeimbangkan kepentingan produsen dan konsumen, termasuk petani kecil yang adalah keduanya sekaligus.

Tanpa koreksi arah, rekor NTP 125,35 berisiko menjadi angka yang indah di atas kertas, tetapi tidak sepenuhnya dirasakan merata di sawah, kebun, dan tambak terutama di provinsi seperti Jawa Timur yang datanya justru menunjukkan anomali paling tajam.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments