Harga batu bara Newcastle stabil pada level tinggi, mencerminkan ketegangan antara permintaan yang kuat di Asia dan kebijakan energi bersih global. Menjelang akhir 2025, harga diperkirakan akan berada pada kisaran USD 110–120/ton dengan risiko kenaikan terbatas akibat pemulihan permintaan listrik di Tiongkok dan India, sementara tekanan jangka panjang dari transisi energi hijau akan menahan laju kenaikan.
Pada 29 Juli 2025, kontrak ICE Newcastle untuk pengiriman Agustus menutup stagnan di USD 115,50/ton, berada di titik tertinggi sejak 3 Februari 2025 dan naik 5,14% selama seminggu terakhir. Berdasarkan data harian ICE Newcastle, harga rata-rata paruh pertama 2025 mencapai US$ 110–120/ton, dengan titik tertinggi mendekati USD 118/ton dan terendah sekitar USD 100/ton. Trading Economics memproyeksikan harga akan berada di USD 115,09/MT pada akhir kuartal ketiga 2025, serta USD 119,21/ton dalam 12 bulan mendatang.
Terkait permintaan global, International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi batu bara global akan stabil pada 2025, setelah mencapai rekor tertinggi di 2024 dengan kenaikan 2,6%. Di sektor listrik, peningkatan permintaan listrik di negara-negara kunci seperti Tiongkok dan India menahan penurunan konsumsi batu bara meski kapasitas terbarukan tumbuh pesat.
Sedangkan untuk permintaan di pasar Asia dan beberapa negara konsumen utama, diantaranya dalah negara Tiongkok, mengonsumsi 58% dari total batu bara global, permintaan tumbuh 1,2% pada 2024 dan diperkirakan tetap kuat di 2025 untuk menutup gap antara kenaikan permintaan listrik (7% YoY) dan produksi terbarukan.
Lalu, ada India, dengan permintaan batu bara naik sekitar 5,5% pada 2024, didorong pertumbuhan ekonomi dan sektor industri, terutama pembangkit listrik berbasis batu bara serta industri baja dan besi spons. Proyeksi permintaan akan tumbuh 3% YoY dan mencapai 1 128 juta ton pada FY’25. Sedangkan Southeast Asia*, Asia Tenggara menduduki urutan ketiga konsumen terbesar pada 2023 dengan pertumbuhan konsumsi hampir 8% (25 Mtce) pada 2024, didorong permintaan industri nikel di Indonesia dan pembangkit listrik di Filipina serta Vietnam.
Indonesia tetap menjadi pengekspor utama batu bara dunia, namun pada Januari–April 2025 terjadi penurunan 12% atau sekitar 20 juta ton menjadi 150 juta ton akibat melemahnya permintaan Tiongkok dan India. Asosiasi Aspebindo memproyeksikan ekspor Indonesia akan tumbuh 5–8% sepanjang tahun 2025 berkat pemulihan industri di kedua negara. Sementara itu, Kementerian ESDM menargetkan produksi batu bara 735 juta ton pada 2025, dengan alokasi ekspor 495 juta ton dan domestik 240 juta ton.
Ada beberapa faktor penggerak harga komoditas batu bara yang terangkum. Diantaranya, siklus permintaan listrik. Musim panas di belahan utara mendorong lonjakan penggunaan listrik untuk pendinginan, meningkatkan konsumsi batu bara. Faktor berikutnya adalah kebijakan energi bersih. Tekanan dekarbonisasi dan penurunan permintaan di negara maju (EU turun lebih dari 25% pada 2023 dan diproyeksikan kembali turun hampir sama di 2024–2025) menahan harga agar tidak melampaui level historis tertinggi.
Faktor lain adalah geopolitik dan risiko pasokan. Gangguan logistik, cuaca ekstrem, dan ketegangan dagang memicu fluktuasi jangka pendek namun tidak mengubah tren harga jangka menengah.
Ada beberapa proyeksi harga dan permintaan akhir 2025 yang dapat ditangkap. Untuk harga, diperkirakan berkisar USD 110–120/ton, dengan support kuat di sekitar USD 100/ton dan resistance di sekitar USD 120/ton menjelang akhir 2025.
Berikutnya adalah permintaan global. Stabil di level 8,8 miliar ton, mendekati rekor 2024, dengan potensi pertumbuhan marginal dikarenakan rebound listrik di Tiongkok dan India. Proyeksi selanjutnya adalah ekspor Indonesia. Diprediksi tumbuh 5–8% YoY, mendukung level pasokan global meski tekanan permintaan regional masih terasa.
Sementara itu, ada beberapa risiko dan ketidakpastian yang dapat terjadi. Pertama, suplai terbarukan. Penambahan kapasitas besar-besaran PV dan angin dapat mempercepat substitusi batu bara, menekan harga. Kedua, perubahan kebijakan. Skema pajak karbon atau pelarangan impor batu bara di negara konsumen utama dapat menurunkan permintaan global. Ketiga, ekonomi makro. Perlambatan pertumbuhan di Tiongkok dan India akan langsung berdampak pada konsumsi batu bara.
Untuk menjawab tantangan akhir tahun, ada beberapa rekomendasi bagi pelaku pasar dan pemangku kebijakan. Bagi para investor, pertahankan eksposur jangka pendek sambil memantau kebijakan energi hijau dan kalender cuaca. Untuk para produsen, tingkatkan efisiensi operasi dan diversifikasi pasar ekspor untuk mengatasi volatilitas regional. Sedangkan untuk para pemangku kebijakan, dalam hal ini pemerintah fasilitasi investasi infrastruktur batu bara bersih (clean coal) dan transisi energi untuk menjaga ketahanan pasokan sekaligus menurunkan emisi.
Dengan mempertimbangkan dinamika permintaan listrik, kebijakan energi bersih, dan kondisi pasar global, prospek batu bara akhir tahun 2025 menunjukan stabilitas harga pada level tinggi namun dengan volatilitas terbatas dan tren jangka panjang yang menurun akibat dekarbonisasi.


