Kamis, April 16, 2026
spot_img
BerandaMediaProspek Cerah Pembangkit Panas Bumi Indonesia: Kolaborasi Strategis PLN, Pertamina dan Danantara

Prospek Cerah Pembangkit Panas Bumi Indonesia: Kolaborasi Strategis PLN, Pertamina dan Danantara

Kerja sama strategis antara PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) dan PT PLN Indonesia Power (PLN IP) yang difasilitasi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membuka babak baru pengembangan energi panas bumi Indonesia. Fokus utama kolaborasi ini adalah pengembangan Ulubelu Bottoming Unit di Lampung (30 MW) dan Lahendong Bottoming Unit di Sulawesi Utara (15 MW), dengan total nilai investasi mencapai USD 5,4 miliar atau setara Rp 88,46 triliun.

Momentum strategis dalam transisi energi nasional. Indonesia memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia dengan kapasitas sekitar 23,7-28 GW, namun baru memanfaatkan 10-11% dari potensi tersebut. Dengan kapasitas terpasang saat ini sebesar 2,68 GW, Indonesia menempati posisi kedua global setelah Amerika Serikat dalam pemanfaatan energi panas bumi.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan bahwa pengembangan panas bumi menjadi agenda strategis nasional untuk memperkuat ketahanan energi dan mendorong transisi menuju ekonomi rendah karbon. Komitmen ini sejalan dengan target Net Zero Emission 2060 yang ditetapkan pemerintah Indonesia.

Sebagai catatan, keunggulan teknologi bottoming unit dan co-Generation Proyek Ulubelu dan Lahendong Bottoming Unit mengadopsi teknologi co-generation yang memanfaatkan brine atau air panas hasil pemisahan uap untuk meningkatkan kapasitas produksi listrik. Teknologi ini memungkinkan optimalisasi sumber daya panas bumi yang sudah beroperasi dengan menambah kapasitas tanpa memerlukan sumur produksi baru.

PLTP Ulubelu saat ini mengoperasikan 4 unit dengan kapasitas total 220 MW dan memasok 25% kebutuhan listrik Lampung. Sementara PLTP Lahendong dengan 6 unit berkapasitas 120 MW menjadi tulang punggung pasokan listrik Sulawesi Utara dan Gorontalo. Kedua lokasi ini dipilih karena telah memiliki infrastruktur geothermal yang matang dan potensi pengembangan yang besar.

Prospek Pasar dan Ekonomi

Direktur Utama PGE Julfi Hadi mengungkapkan bahwa proyek co-generation berpotensi menambah kapasitas terpasang hingga 230 MW. Untuk PLTP yang dioperasikan PGE, terdapat potensi optimalisasi mencapai 1.081 GWh dari sisa kapasitas pembangkitan yang belum dimanfaatkan.

Dari sisi ekonomi, geothermal memiliki keunggulan sebagai baseload power yang dapat beroperasi 24 jam tanpa tergantung cuaca, berbeda dengan energi terbarukan lain seperti solar dan angin. Karakteristik ini membuatnya sangat strategis dalam sistem kelistrikan nasional yang memerlukan pasokan listrik stabil.

Ada beberapa tantangan dan strategi mitigasi risiko yang dapat dilakukan. Pengembangan geothermal di Indonesia menghadapi beberapa tantangan utama.

Pertama, risiko teknis, seperti eksplorasi bawah tanah (subsurface risk) menjadi ketidakpastian utama dalam pengembangan panas bumi. Tidak semua sumur eksplorasi akan menghasilkan uap berkualitas komersial.

Kedua, tantangan finansial. Investasi awal yang tinggi dengan periode pengembalian panjang. Studi menunjukkan proyek geothermal memerlukan harga jual listrik minimal USD 25-30 cent/kWh untuk mencapai kelayakan finansial.

Ketiga, tantangan regulasi dan perizinan. Proses perizinan yang kompleks dan dapat memakan waktu hingga 6 tahun. Perubahan regulasi yang sering juga menciptakan ketidakpastian bagi investor.

Tantangan aspek lingkungan. Isu emisi H2S dan dampak terhadap kawasan hutan konservasi. Di Ulubelu, diperlukan pengurangan emisi H2S sebesar 60% untuk memenuhi standar WHO.

Sementara itu, ada beberapa dukungan kebijakan dan pendanaan internasional. Pemerintah Indonesia telah memberikan berbagai dukungan untuk mempercepat pengembangan geothermal.

Kebijakan tersebut, diantaranya adalah UU No. 21 Tahun 2014 yang memungkinkan pembangunan PLTP di kawasan hutan produksi, lindung, dan konservasi. Berikutnya adalah insentif fiskal berupa tax allowance dan pembebasan PBB. Kemudian, skema pengembangan PLTP dengan eksplorasi oleh pemerintah. Target peningkatan kapasitas geothermal sebesar 5,2 GW dalam 10 tahun ke depan juga menjadi salah satu kebijakan yang dapat memuluskan langkah pengembangan pembangkit panas bumi.

Kemudian, dalam hal dukungan pendanaan internasional juga mengalir deras. World Bank menyediakan USD 150 juta untuk mitigasi risiko eksplorasi geothermal, sementara US Development Finance Corporation memberikan pinjaman USD 126 juta untuk proyek geothermal di Jawa Timur.

Terkait dampak ekonomi dan lingkungan. Pengembangan geothermal memberikan dampak positif signifikan. PLTP yang beroperasi saat ini telah menyuplai listrik ke lebih dari 2 juta rumah dengan potensi pengurangan emisi karbon hingga 9,7 juta ton CO₂ per tahun. Proyek Ulubelu Gunung Tiga saja diproyeksikan menyerap 249 tenaga kerja mayoritas lokal.

Dari aspek lingkungan, geothermal menghasilkan emisi CO₂ yang jauh lebih rendah dibanding pembangkit fosil. Studi menunjukkan implementasi carbon trading dapat meningkatkan NPV proyek geothermal hingga 13,58%.

Proyeksi dan Target Ke Depan

Dengan kerja sama strategis ini, Indonesia menargetkan pencapaian beberapa milestone penting. Di Tahun 2027, pengoperasian komersial (COD) Ulubelu dan Lahendong Bottoming Unit. Pada 2030, target kapasitas geothermal nasional 7,2 GW.

Sedangkan di 2035, proyeksi kapasitas 10,5 GW sesuai RUPTL. Pada 2060, kontribusi signifikan terhadap target Net Zero Emission. Untuk mencapai target 2030, Indonesia perlu menambah kapasitas 700-800 MW per tahun, atau hampir dua kali lipat dari rata-rata penambahan saat ini yang hanya 200-300 MW per tahun.

Lalu, peran strategis Danantara dalam ekosistem geothermal. BPI Danantara berperan sebagai katalis dalam mempercepat proyek-proyek strategis nasional. Danantara memastikan sinergi antar BUMN untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan sambil memperkuat kemandirian energi Indonesia.

Kolaborasi PGEO-PLN yang difasilitasi Danantara ini menjadi model kemitraan BUMN yang dapat direplikasi untuk proyek-proyek energi terbarukan lainnya. Dengan tata kelola yang akuntabel dan profesional sesuai standar internasional, proyek ini diharapkan menarik lebih banyak investasi swasta dan asing.

Diharapkan, kerja sama strategis antara PGEO dan PLN yang difasilitasi Danantara membuka prospek cerah pengembangan geothermal Indonesia. Dengan dukungan teknologi co-generation, kebijakan pemerintah yang kondusif, dan pendanaan internasional, Indonesia berpotensi menjadi pemimpin global energi geothermal. Meski menghadapi tantangan teknis dan finansial, momentum transisi energi global dan komitmen Net Zero Emission 2060 memberikan peluang besar bagi sektor geothermal untuk berkembang pesat dan berkontribusi signifikan terhadap ketahanan energi nasional.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments