Senin, Maret 16, 2026
spot_img
BerandaMediaLumbung Pangan Diuji Cuaca Ekstrem, Mengelola Ketidakpastian Sebagai Keniscayaan

Lumbung Pangan Diuji Cuaca Ekstrem, Mengelola Ketidakpastian Sebagai Keniscayaan

Cuaca ekstrem dua tahun terakhir mengubah peta produksi pangan Indonesia. Kombinasi siklus iklim El Niño–La Niña, pemanasan laut, dan rusaknya tata ruang darat menjadikan 2024–2025 sebagai periode uji stres bagi petani dan nelayan, terutama di provinsi kunci seperti Jawa Timur.

Data menunjukkan, produksi padi nasional 2024 turun dibanding 2023, terutama akibat musim tanam yang mundur dan gagal panen lokal. Jawa Timur tetap jadi lumbung beras dan produsen ikan tangkap terbesar nasional, tetapi harus menanggung banjir, kekeringan, dan gelombang tinggi yang memotong hari tanam dan hari melaut. Sementara itu, outlook iklim 2025–2026 dari BMKG mengisyaratkan bahwa “cuaca ekstrem sebagai normal baru” akan berlanjut, dengan La Niña lemah yang memanjangkan musim hujan dan memadatkan musim kemarau.

Data 2024–2025 menunjukkan pola yang konsisten. Puncak El Niño dan La Niña tidak lagi kejadian “ekstrem sesekali”, tetapi siklus yang datang dengan dampak ekonomi nyata bagi produksi pangan dan perikanan. Jawa Timur, sebagai episentrum beras dan ikan tangkap nasional, menjadi barometer kerentanan dan ketangguhan, produksi masih tertinggi, tetapi dicapai dengan risiko cuaca yang kian besar.

Tahun 2026 tidak akan menjadi “kembali ke normal” dalam pengertian lama. Yang lebih realistis adalah membangun normal baru, kebijakan dan praktik yang menganggap cuaca ekstrem sebagai variabel tetap, bukan pengecualian.

Bagi Indonesia dan khususnya Jawa Timur, keberhasilan menjaga ketahanan pangan dan perikanan sampai 2026 dan seterusnya akan sangat ditentukan oleh, kedalaman integrasi prediksi iklim ke dalam kalender tanam dan musim tangkap. Kecepatan menguatkan infrastruktur air dan tata ruang yang ramah resapan. Kemampuan memastikan bahwa teknologi adaptasi dan perlindungan risiko ikut menjangkau petani dan nelayan kecil, bukan hanya pelaku usaha besar.

Cuaca tidak bisa dikendalikan. Tetapi bagaimana Indonesia dan Jawa Timur membaca, mengantisipasi, dan meresponsnya akan menentukan apakah dua–tiga tahun ke depan dicatat sebagai musim krisis berkepanjangan, atau sebagai titik balik menuju sistem pangan dan perikanan yang lebih tangguh.

Panggung Iklim 2024–2025, Dari El Niño Kering ke La Niña Basah

Fenomena iklim global menjadi latar utama seluruh dinamika sektor pangan dan perikanan. 2023–awal 2024 menjadi tahun yang dipengaruhi oleh El Niño. Perlu diketahui, El Niño 2023 yang mulai terasa sejak pertengahan tahun memanjangkan kemarau dan mengeringkan sentra pangan di selatan khatulistiwa, diwilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sumatra Selatan. BMKG memproyeksikan sejak awal bahwa efek El Niño akan “bocor” ke 2024 berupa, musim hujan 2023/2024 yang mundur dan cenderung di bawah normal di sebagian Jawa dan Nusa Tenggara. Defisit produksi beras pada Januari–Februari 2024 sekitar 2,8 juta ton setara beras dibanding kebutuhan, akibat tanam tertunda dan panen bergeser.

Kementerian Pertanian sendiri menghitung, skenario El Niño ringan saja sudah berpotensi menurunkan produksi padi hingga sekitar 0,39–1,12 juta ton GKG, jagung 0,27–0,72 juta ton, dan kedelai 2.300–9.500 ton, tergantung intensitas dan persebaran kekeringan.

Akhir 2024–2025, La Niña Lemah, Hujan “Enggan Pergi”

Memasuki akhir 2024, pola berbalik. Indeks ENSO (Nino3.4) dan IOD turun ke wilayah negatif, menandai masuknya fase La Niña lemah. BMKG menyatakan La Niña lemah mulai aktif sekitar November 2024 dan diperkirakan bertahan hingga setidaknya Maret–April 2025, dengan tambahan curah hujan 20–40 persen di banyak wilayah.

Climate Outlook 2025 BMKG menyebut, secara rata-rata 2025 akan didominasi kondisi ENSO dan IOD netral, dengan curah hujan tahunan umumnya kategori normal, tetapi suhu udara permukaan 0,3–0,6 °C lebih hangat dari normal, terutama Mei–Juli. Update terbaru BMKG di akhir 2025 bahkan menyebut La Niña lemah diprediksi bertahan hingga sekitar Maret 2026 dan meningkatkan potensi hujan tinggi di selatan Indonesia termasuk Jawa.

Dampak langsungnya, musim kemarau 2025 menjadi lebih pendek dan “setengah hati”, BMKG menyebut “hujan enggan pergi”, sehingga puncak kemarau yang biasanya panjang menjadi lebih singkat. Di sisi lain, hari dengan hujan sangat lebat dan angin kencang meningkat, memicu bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, puting beliung) yang merusak pertanian dan mengurangi hari melaut.

BNPB mencatat sejak awal 2024 bencana hidrometeorologi basah (banjir, longsor, cuaca ekstrem) kembali mendominasi statistik bencana nasional, termasuk kerusakan ribuan hektare sawah. Pada 1 Januari–17 Maret 2025 saja, BMKG sudah merekam 1.891 kejadian cuaca ekstrem, terutama hujan lebat dan angin kencang.

Pertanian Nasional 2024–2025, Produksi Turun, Risiko Petani Naik

Komoditas padi, produksi nasional 2024 turun, efek mundurnya musim tanam. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menegaskan dampak El Niño 2023 dan awal 2024 terhadap produksi padi. Luas panen padi 2024, sekitar 10,05 juta ha, turun 167 ribu ha atau 1,64 persen dibanding 2023 (10,21 juta ha). Produksi padi 2024, sekitar 52,66 juta ton GKG, turun 1,32 juta ton (−2,45 persen) dari 53,98 juta ton GKG pada 2023.

Jika dikonversi menjadi beras konsumsi penduduk, produksi beras 2024 diperkirakan sekitar 30,34 juta ton, turun 0,76 juta ton (−2,43 persen) dibanding 31,10 juta ton tahun 2023. BPS menjelaskan penurunan ini terutama terjadi pada Subround 1 (Januari–April 2024), ketika luas panen dan produksi anjlok signifikan akibat musim tanam yang molor karena El Niño 2023. Penurunan di awal tahun ini hanya sebagian dikompensasi kenaikan luas panen di Mei–Agustus dan September–Desember.

Intinya, di neraca nasional, El Niño tidak “menciptakan bencana tunggal” tetapi menggeser dan mengecilkan panen awal tahun, membuat stok ketat dan menambah tekanan harga beras sepanjang semester I 2024.

Palawija & Hortikultura, gagal panen silih berganti dipengaruhi kekeringan dan banjir. Di luar padi, kerusakan tersebar dan sering kali lebih ekstrem di tingkat lokal. Di Gresik, Jawa Timur, sekitar 100 hektare tanaman pangan, terutama jagung dan padi tadah hujan, terancam gagal panen pada musim kemarau kedua 2024. Tanaman kerdil karena kekurangan air, sebagian dibabat untuk pakan ternak.

Di Tebo, Jambi, banjir awal 2024 merendam sekitar 437 ha sawah, 18,5 ha jagung, 35 ha kedelai, dan beberapa hektare cabai merah dan rawit. Sebagian sudah dipastikan puso. BNPB mencatat banjir di berbagai daerah merendam ribuan hektare sawah, salah satu laporan menyebut 4.875 ha sawah terendam dalam satu kejadian banjir besar di Jawa Tengah.

Penelitian-penelitian jangka panjang tentang perubahan curah hujan dan suhu memperkuat gambaran ini, tren peningkatan curah hujan ekstrem dan kenaikan suhu, meski tampak kecil dalam angka (sekitar 0,2 °C di satu kabupaten studi), berhubungan signifikan dengan fluktuasi luas panen dan produksi padi.

Jawa Timur, Lumbung Padi yang Dikepung Banjir dan Kekeringan

Jawa Timur memegang peran kunci dalam ketahanan pangan nasional dan menjadi contoh bagaimana satu provinsi bisa sekaligus mengalami kekeringan akut dan banjir besar dalam tahun yang sama. Produksi padi Jawa Timur 2022–2024, turun setelah puncak. Data BPS Jawa Timur menunjukkan tren penurunan moderat.

Produksi padi 2023, sekitar 9,59–9,71 juta ton GKG, dengan luas panen sekitar 1,70 juta ha. Produksi padi 2024 (angka tetap), sekitar 9,2–9,27 juta ton GKG, dengan luas panen 1,62 juta ha turun 0,44–0,48 juta ton (sekitar −4,5–5 persen) dibanding 2023.

Produksi beras untuk konsumsi penduduk Jatim 2024 tercatat sekitar 5,35 juta ton, turun 0,25 juta ton dari 5,61 juta ton pada 2023. Kepala BPS Jatim menjelaskan, penurunan utama terjadi pada periode Januari–April 2024 yang mengalami penurunan luas panen sekitar 6 persen. Lagi-lagi, efek mundurnya musim tanam akibat El Niño 2023 menjadi faktor kunci.

Banjir 2024, menyebabkan 15 Ribu hektare lahan terendam, ribuan hektare puso. Ketika El Niño mulai mereda dan musim hujan menguat di akhir 2024, masalah lain muncul, banjir besar dan berulang.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur menunjukkan sepanjang 2024 total lahan pertanian terdampak banjir, 15.842,02 ha. Luas puso (gagal panen karena banjir), 1.331,65 ha. Lamongan tercatat paling parah, 978,80 ha terdampak banjir dengan 398,30 ha puso.

Pada 1–13 Desember 2024 saja, 1.138,61 ha sawah kembali terendam, dengan konsentrasi kerusakan antara lain di Jombang, Sidoarjo, Mojokerto, dan Ngawi. Pemerintah provinsi menyiapkan anggaran sekitar Rp500 juta untuk membantu petani terdampak, dengan skema ganti rugi sekitar Rp6 juta per hektare lahan yang rusak di atas 70 persen dan memanfaatkan skema Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Nilai ini membantu, tetapi dibanding biaya produksi dan potensi kehilangan musim tanam berikutnya, daya pulih petani tetap rapuh.

Kekeringan 2024, 27 Kabupaten/Kota terdampak. Merujuk pada laporan WALHI Jawa Timur mencatat bahwa 27 kabupaten/kota di Jatim mengalami kekeringan pada 2024. Empat kabupaten – Jombang, Blitar, Lumajang, dan Pacitan, sampai menetapkan status tanggap darurat kekeringan karena gangguan berat terhadap pasokan air bersih dan pertanian.

Kabupaten-kabupaten di Madura (Sampang, Pamekasan), sebagian wilayah Malang, Trenggalek, dan Lamongan melaporkan puluhan hingga ratusan desa terdampak kekeringan, yang bukan hanya mengganggu konsumsi rumah tangga tetapi juga memotong kemampuan irigasi sawah dan ladang jagung.

Kasus Gresik menunjukkan gambaran mikro dampaknya, lahan jagung umur 30–60 hari kerdil, buah kecil-kecil, sebagian terancam puso hingga lebih dari 100 ha; petani pasrah atau terpaksa mengalihfungsikan ke pakan ternak.

Jawa Timur tetap menjadi salah satu produsen padi terbesar nasional (2024, sekitar 9,2 juta ton GKG, tertinggi di antara provinsi lain), tetapi marjin kelebihannya menyempit akibat kombinasi penurunan luas panen, kekeringan, dan banjir. Bagi petani kecil, kerugian berganda, gagal panen di musim kemarau karena kekeringan, lalu terancam lagi banjir saat hujan ekstrem, memperbesar risiko jatuh ke jerat utang dan mengurangi kemampuan mereka berinvestasi dalam teknologi adaptasi.

Perikanan Tangkap Nasional, Angka Naik, Realitas Nelayan Timpang

Produksi nasional 2021–2024 naik, tapi tidak merata. Dari sisi makro, data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggambarkan tren positif. Pada 2021, produksi perikanan tangkap sekitar 7,2 juta ton dengan nilai Rp194,9 triliun. Lalu, di 2023 produksi sekitar 7,7 juta ton dengan nilai lebih dari Rp220 triliun.

KKP juga mencatat pada semester I 2024, produksi perikanan tangkap mencapai 3,34 juta ton atau 111,33 persen dari target semesteran, dengan dominasi ikan pelagis besar (tuna, cakalang, tongkol) dan pelagis kecil seperti kembung dan layang. Target produksi tangkap 2024 dipatok 6 juta ton.

Di triwulan I 2025, total produksi perikanan (tangkap + budidaya) mencapai 5,87 juta ton, di dalamnya, perikanan tangkap tumbuh sekitar 1,26 persen secara tahunan dibanding triwulan I 2024, sementara pertumbuhan rata-rata 2020–2024 untuk perikanan tangkap sekitar 1,51 persen per tahun.

Secara angka, sektor perikanan tangkap nasional tidak tampak “runtuh” oleh cuaca ekstrem.

Di lapangan, hari melaut berkurang, pendapatan tertekan. Namun di tingkat nelayan, ceritanya lain. Di beberapa wilayah, seperti Padang, Sumatra Barat, pemerintah daerah melaporkan hasil tangkapan nelayan turun sekitar 30–40 persen dalam beberapa bulan terakhir, akibat kombinasi pencemaran laut, peningkatan suhu permukaan laut akibat El Niño, dan cuaca ekstrem (angin kencang, gelombang tinggi). Nelayan tradisional kesulitan menjangkau daerah tangkap yang lebih jauh.

Artikel yang mengulas dampak hujan ekstrem 2023–awal 2024 mencatat nelayan di pesisir Jawa dan Sulawesi yang biasanya bisa melaut 20–25 hari per bulan, hanya bisa melaut sekitar 10 hari saat intensitas hujan dan badai laut tinggi. Kementerian terkait menyebut penurunan hasil tangkap hingga sekitar 40 persen di beberapa wilayah sebagai imbas cuaca ekstrem dan berubahnya salinitas air di pesisir.

KKP juga mencatat Nilai Tukar Nelayan (NTN) semester I 2024 hanya sekitar 101,62, di bawah target 108. KKP sendiri mengakui bahwa NTN tertekan bukan hanya oleh kenaikan harga kebutuhan pokok, tetapi juga dampak cuaca ekstrem yang mengurangi produktivitas dan meningkatkan risiko operasi nelayan.

Artinya, statistik nasional yang naik sebagian besar didorong oleh segmen armada yang lebih besar dan sistem pencatatan yang membaik, sementara nelayan skala kecil tetap sangat rentan terhadap gejolak cuaca.

Jawa Timur, raja ikan tangkap yang dihantam gelombang tinggi. Jawa Timur menempati posisi istimewa di sektor perikanan nasional, baik dari sisi volume produksi, ekspor, maupun kerentanan iklim. Produksi perikanan tangkap Jatim, tertinggi nasional.

Data Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur serta pernyataan pejabat daerah menunjukkan, jika produksi perikanan tangkap Jatim 2023, sekitar 590.685,8 ton, tertinggi secara nasional, mengungguli provinsi seperti Maluku dan Sulawesi Tengah.

Produksi perikanan tangkap Jatim 2024, sekitar 621.437,86 ton, kembali tertinggi nasional, melampaui Maluku (sekitar 599.149 ton), Sulawesi Selatan (442.959,6 ton), dan Jawa Tengah (410.745,59 ton).

Komoditas unggulan perikanan tangkap Jatim adalah lemuru dan tongkol. Pada 2024, tangkapan lemuru mencapai sekitar 78.529 ton dan tongkol sekitar 64.721,9 ton. Portal data KKP juga menunjukkan Jatim sebagai salah satu provinsi dengan produksi perikanan tangkap terbesar dan pertumbuhan tahunan yang positif.

Gelombang tinggi & cuaca buruk, memotong hari melaut. Di sisi lain, pesisir utara dan selatan Jawa Timur beberapa kali dilanda gelombang tinggi yang mengganggu aktivitas nelayan. Oktober 2024, gelombang di perairan selatan Jember mencapai sekitar 4 meter. Ratusan nelayan di Puger memilih tidak melaut karena risiko keselamatan. Stok ikan di tempat pelelangan menipis dan harga ikan naik tajam; harga udang misalnya naik dari sekitar Rp50.000 menjadi Rp70.000 per kg, cumi dari Rp60.000 menjadi Rp75.000 per kg.

BMKG Maritim Tanjung Perak mengeluarkan peringatan gelombang 2,5–4 meter di perairan Jatim pada 6–8 Desember 2024, mencakup perairan Tuban, Lamongan, Gresik, pesisir utara Madura, hingga perairan Pacitan, Trenggalek, Malang, Jember, dan Banyuwangi. Pola angin barat–barat laut 7–29 knot dan belokan angin di Laut Jawa memicu pembentukan awan hujan masif dan gelombang tinggi.

Awal 2025, cuaca buruk dan badai di sekitar Pantai Sendangbiru, Malang, membuat nelayan berhenti melaut. Seorang nelayan menyebut hasil tangkapan yang biasanya 8–10 ton per trip turun menjadi sekitar 1 ton karena frekuensi melaut yang menurun dan kondisi laut yang tidak bersahabat.

Meski angka produksi tahunan Jatim tetap tinggi, data dan kesaksian nelayan menunjukkan bahwa hari melaut yang efektif menyusut dan risiko operasi meningkat*. Kelompok nelayan dengan kapal kecil di pesisir selatan (Jember, Malang, Tulungagung, Trenggalek) menjadi kelompok paling terpukul.

Jatim di bawah langit ekstrem. Peringatan BMKG dan krisis iklim nyata. BMKG Juanda berkali-kali mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem untuk Jawa Timur sepanjang paruh akhir 2024. Oktober–Desember 2024, beberapa kali dikeluarkan siaran peringatan hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang yang bisa memicu banjir, banjir bandang, longsor, angin puting beliung, dan hujan es hampir di seluruh kabupaten/kota Jatim.

Peringatan tersebut mengaitkan tingginya risiko dengan gelombang atmosfer (Kelvin, Equatorial Rossby, MJO), aktifnya Monsun Asia, dan suhu muka laut yang hangat di sekitar Jatim yang menambah suplai uap air.

Laporan WALHI Jatim menyimpulkan, 2024 menjadi salah satu tahun yang memperlihatkan bahwa krisis iklim semakin nyata di Jawa Timur. Kekeringan akut di 27 kabupaten/kota, banjir besar mengulang di wilayah yang sama, dampak ekonomi dan sosial besar, terutama di pertanian dan mata pencaharian pedesaan.

Tahun 2025, produksi pangan rebound, risiko tetap tinggi. Padi nasional 2025, proyeksi lompat naik. Kementerian Pertanian, merujuk proyeksi BPS, menyebut produksi padi nasional 2025 berpotensi melompat ke sekitar 60,34 juta ton GKG, naik sekitar 13,55 persen dibanding capaian 2024 yang sekitar 53,16 juta ton GKG (angka pemerintah, sedikit berbeda dari 52,66 juta ton versi BPS tetapi searah).

Kenaikan ini didorong oleh, pemulihan dan perluasan luas panen akibat musim tanam 2024/2025 yang lebih baik, memanfaatkan curah hujan cukup namun tidak seekstrem 2023. Potensi luas panen Januari–Maret 2025 yang meningkat signifikan dibanding periode sama 2024. BPS memperkirakan luas panen Januari–Maret 2025 sekitar 2,83 juta ha, naik lebih dari 50 persen dibanding 2024, dengan produksi padi Januari–Maret 2025 mencapai sekitar 14,97 juta ton GKG (akumulasi estimasi bulanan).

Bagi neraca pangan nasional, ini berarti peluang mengisi kembali stok dan mengurangi tekanan impor. Namun, keberhasilan ini tidak otomatis menghapus luka finansial petani yang dua tahun berturut-turut diterpa gagal panen lokal dan biaya produksi yang naik.

Padi Jawa Timur 2025, potensi panen subround I melonjak. Di Jawa Timur, BPS Provinsi mencatat, produksi padi 2024 sekitar 9,27 juta ton GKG, beras 5,35 juta ton. Potensi produksi beras Januari–April 2025 diperkirakan mencapai 2,77 juta ton, naik sekitar 0,44 juta ton (18,68 persen) dibanding produksi beras Januari–April 2024 yang sebesar 2,34 juta ton.

Artinya, subround 1 yang sebelumnya hilang karena El Niño mulai pulih, selama La Niña lemah tidak berubah menjadi banjir berkepanjangan. Namun, bantalan infrastruktur dan irigasi yang andal, drainase sawah, dan perlindungan asuransi, akan menentukan apakah peningkatan potensi panen benar-benar terwujud di tingkat petani.

Di sejumlah lokasi, adaptasi teknologi seperti pompa irigasi tenaga surya untuk mengurangi biaya diesel mulai diterapkan, misalnya di Kediri, yang terbukti menurunkan biaya irigasi dan meningkatkan efisiensi air. Inovasi budidaya dan mekanisasi di kabupaten seperti Mojokerto juga menunjukkan bahwa penggunaan alat tanam dan panen modern bisa meningkatkan pendapatan petani, asalkan ada dukungan investasi awal.

Prospek 2026, Normal Baru, Cuaca Ekstrem dan Tiga Front Adaptasi

BMKG memproyeksikan bahwa La Niña lemah yang aktif sejak akhir 2024 kemungkinan bertahan hingga sekitar Maret 2026, meski dampak tambahan curah hujannya pada puncak musim hujan tidak selalu dramatik. Di sisi lain, IOD cenderung netral dan pemanasan suhu muka laut di perairan Indonesia diprediksi berlanjut, memberikan latar atmosfer yang semakin labil.

Dikombinasikan dengan tren global yang disorot IPCC, peningkatan frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem, prospek 2026 dapat diringkas sebagai berikut.

Pertama, bagi pertanian (Indonesia & Jawa Timur), musim hujan 2025/2026 (Nov 2025–Feb 2026) diproyeksikan menjadi puncak hujan dengan potensi cuaca ekstrem tinggi. BMKG sudah memperingatkan puncak musim hujan dimulai sekitar November 2025 hingga Februari 2026, dengan meningkatnya kejadian hujan lebat disertai angin kencang dan petir, terutama di selatan Indonesia.

Jika La Niña berangsur melemah pertengahan 2026 dan ENSO mengarah ke netral atau El Niño lemah, risiko kemarau lebih kering pada paruh kedua 2026 tetap terbuka, terutama jika tata kelola air dan tata ruang tidak dibenahi.

Bagi Jawa Timur, ini berarti risiko banjir & longsor di dataran rendah (Lamongan, Jombang, Sidoarjo) dan lereng (Malang, Lumajang, Trenggalek, Pacitan) tetap tinggi pada musim hujan. Risiko kekeringan tetap menghantui wilayah dengan kerentanan tinggi seperti Madura, Blitar selatan, Pacitan, sebagian Malang dan Trenggalek pada puncak kemarau. Tanpa perbaikan serius infrastruktur irigasi, embung, dan perlindungan lahan resapan, pola banjir di musim hujan – kekeringan di musim kemarau akan makin ekstrem.

Strategi kunci yang sudah direkomendasikan dan perlu diperkuat. Penyesuaian kalender tanam berbasis prediksi musim BMKG (Climate Outlook), terutama di sentra pangan Jawa–NTB–NTT. Varietas padi lebih tahan kekeringan maupun genangan, sebagaimana didorong Kementan dan berbagai penelitian budidaya.

Ekspansi asuransi usaha tani (AUTP) dengan prosedur klaim yang lebih sederhana, mengingat data 2024 menunjukkan ribuan hektare puso banjir di Jatim dan daerah lain. Teknologi pengelolaan air hemat, termasuk pompa surya dan sistem irigasi intermitten yang terbukti efisien di beberapa studi.

Bagi perikanan tangkap (Indonesia & Jawa Timur), di laut, kombinasi faktor iklim kemungkinan melahirkan musim badai laut yang lebih sering, terutama saat peralihan musim dan puncak musim hujan, dengan gelombang 2,5–4 meter makin kerap di Laut Jawa dan Samudra Hindia selatan Jawa.

Perubahan pola migrasi ikan pelagis akibat perubahan suhu permukaan laut dan salinitas, mendorong stok ikan menjauh dari pesisir dangkal. Nelayan kecil dengan perahu tradisional akan semakin kesulitan menjangkau fishing ground yang produktif.

Untuk Jawa Timur, data produksi yang masih naik (621 ribu ton 2024) memberi ruang optimisme makro, tetapi setidaknya tiga tantangan besar menunggu, keselamatan nelayan semakin banyak hari ketika nelayan kecil harus menahan diri tidak melaut karena gelombang tinggi, seperti di Puger (Jember) dan Sendangbiru (Malang), sehingga pendapatan harian rentan terputus.

Ketimpangan kapasitas armada, kapal besar dengan teknologi navigasi dan fish finder yang memadai bisa beradaptasi dan mengejar stok ikan yang bergeser, sementara nelayan tradisional tertinggal dan berpotensi tersingkir dari rantai pasok utama.

Data produksi yang menyembunyikan kerentanan, peningkatan volume nasional dan provinsi bisa menutupi kenyataan bahwa sebagian nelayan skala kecil kehilangan hari kerja dan menghadapi beban biaya yang lebih berat (BBM, perawatan perahu, bunga pinjaman).

Adaptasi yang perlu dikonsolidasikan meliputi, integrasi informasi cuaca dan iklim kelautan BMKG ke dalam perencanaan melaut, termasuk through aplikasi dan sistem peringatan dini yang mudah diakses nelayan kecil.

Pengembangan skema asuransi dan jaminan sosial nelayan untuk menutup risiko hari-hari ketika cuaca ekstrem memaksa mereka tidak melaut. Diversifikasi mata pencaharian di komunitas pesisir (misal budidaya air tawar/air payau, pengolahan hasil laut bernilai tambah) untuk mengurangi ketergantungan tunggal pada hasil tangkap harian.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments