Indonesia mencatat lonjakan realisasi investasi langsung sepanjang 2025 menjadi Rp1.931,2 triliun, tetapi dengan komposisi yang bergeser, PMDN melonjak, sementara PMA mulai melemah tipis dibanding 2024. Dinamika ini akan sangat menentukan prospek laju investasi 2026, di tengah target pemerintah yang kian ambisius dan ketergantungan pada motor hilirisasi.
Total realisasi investasi 2025 mencapai Rp1.931,2 triliun, setara 101,3% dari target Rp1.905,6 triliun dan tumbuh 12,7% (yoy). Investasi ini menyerap sekitar 2,71 juta tenaga kerja, naik 10,4% dibanding 2024, menandakan kualitas proyek yang relatif padat karya, terutama di manufaktur, infrastruktur, dan sektor jasa penunjang.
Dari sisi sumber modal, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp1.030,3 triliun atau naik 26,6% (yoy) dan menyumbang 53,4% total investasi.
Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp900,9 triliun, porsinya 46,6% dan justru turun tipis sekitar 0,1% (yoy), mengindikasikan fase “plateau” minat investor asing di tengah kompetisi regional yang ketat.
Ilustrasinya, 2025 adalah tahun ketika mesin investasi domestik mengambil-alih peran motor penggerak, sementara investor asing mulai lebih selektif dan menahan ekspansi baru.
Perbandingan dengan data 2024, tumbuh, tapi tanda-tanda puncak siklus. Pada 2024, realisasi investasi mencapai sekitar Rp1.714,2 triliun dan juga melampaui target pemerintah. Dengan capaian 2025 Rp1.931,2 triliun, ada kenaikan nominal sekitar Rp217 triliun atau 12,7% (yoy).
Pertumbuhan 2024 terhadap 2023 justru jauh lebih tinggi, sekitar 20,8% (yoy), mencerminkan fase akselerasi pascapandemi, ketika banyak proyek tertunda mulai terealisasi dan sentimen global masih relatif kondusif.
Struktur 2024, PMA menjadi kontributor utama dengan Rp900,2 triliun (52,5% dari total), sedangkan PMDN Rp814 triliun (47,5%). Struktur 2025 berbalik, PMDN Rp1.030,3 triliun (53,4%), PMA Rp900,9 triliun (46,6%).
Tabel ringkas laju investasi 2024–2025
| Tahun | Total investasi (Rp triliun) | Pertumbuhan yoy | PMDN (Rp T) | Porsi PMDN | PMA (Rp T) | Porsi PMA | Tenaga kerja terserap |
| 2024 | 1.714,2 | 20,8% | 814 | 47,5% | 900,2 | 52,5% | 2,45 juta |
| 2025 | 1.931,2 | 12,7% | 1.030,3 | 53,4% | 900,9 | 46,6% | 2,71 juta |
*Sumber: BKPM, Kementerian Investasi
Dari tabel terlihat pola penting: total investasi masih tumbuh, namun laju pertumbuhannya menurun dari 20,8% menjadi 12,7%, sementara motor pertumbuhan bergeser dari modal asing ke modal domestik.
Faktor Pendorong dan Risiko di Balik Angka
Faktor utama pendorong, pertama, hilirisasi komoditas, terutama mineral dan sektor terkait energi, menjadi magnet proyek besar jangka panjang dan disebut melompat lebih dari 40% pada 2025.
Kedua, keyakinan pelaku usaha domestik meningkat setelah kepastian politik pasca-pemilu dan keberlanjutan agenda hilirisasi, sehingga korporasi dan konglomerasi nasional agresif melakukan ekspansi aset tetap (pabrik, gudang, perkebunan, kawasan industri).
Ketiga, kebijakan kemudahan berusaha (OSS, pemangkasan perizinan) dan insentif fiskal untuk proyek prioritas ikut menurunkan biaya masuk bagi investor lokal menengah–besar.
Namun di balik itu ada beberapa sinyal risiko. Pertama, stagnasi PMA (hanya Rp900,9 triliun dengan -0,1% yoy) menunjukkan Indonesia mulai kalah bersaing dengan negara seperti Vietnam, Malaysia, dan India, terutama untuk FDI manufaktur padat karya dan elektronik.
Kedua, sentimen global masih rapuh: suku bunga tinggi yang berkepanjangan, fragmentasi geopolitik, dan relokasi rantai pasok membuat investor global cenderung menyebar risiko daripada menambah eksposur besar di satu negara.
Ketiga, konsentrasi investasi di sektor-sektor hilirisasi mineral dan energi berpotensi menciptakan ketergantungan baru jika harga komoditas turun atau regulasi lingkungan internasional makin ketat.
Prospek investasi 2026, antara ambisi target dan realitas global
Pemerintah memasuki 2026 dengan target investasi sekitar Rp2.175,26 triliun, naik sekitar 14,2% dari target 2025, dan menempatkan hilirisasi sebagai motor utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% dalam jangka menengah. Target ini lebih agresif dibanding realisasi pertumbuhan investasi 2025 yang hanya 12,7% (yoy).
Beberapa proyeksi dan skenario. Pertama, skenario dasar (most likely). Total investasi 2026 berpotensi tumbuh di kisaran 8–12% secara nominal, sehingga realisasi berada sedikit di bawah target, misalnya sekitar Rp2.050–2.150 triliun, jika tidak ada guncangan eksternal besar.
PMDN diperkirakan masih menjadi penggerak utama, dengan ruang ekspansi di sektor hilirisasi, konstruksi infrastruktur (jalan tol, pelabuhan, energi), pariwisata, dan MICE, yang sudah disorot dalam forum ekonomi 2026.
PMA cenderung tumbuh moderat, bukan melesat, karena investor asing menimbang isu tata kelola, kepastian aturan hilirisasi, dan dinamika geopolitik.
Kedua, skenario optimistis. Reformasi regulasi lanjutan, penguatan peran sovereign wealth fund Danantara, dan promosi agresif di forum global (seperti WEF 2026) berhasil mengunci beberapa FDI besar di energi terbarukan, EV, dan data center. Dalam skenario ini, PMA bisa kembali tumbuh satu digit menengah, sehingga struktur PMA:PMDN menjadi lebih seimbang mendekati 50:50.
Ketiga, skenario risiko. Jika ketidakpastian global meningkat (konflik, resesi teknikal di negara maju, atau pengetatan moneter lebih panjang), FDI ke emerging markets menyusut dan Indonesia terdampak melalui penundaan proyek baru. Ketergantungan besar pada proyek hilirisasi berbasis sumber daya alam akan menjadi titik lemah jika harga komoditas jatuh atau aturan ekspor/impor global berubah.
Secara garis besar, 2026 berpotensi menjadi tahun stress test bagi kemampuan Indonesia mempertahankan tren investasi tinggi, bila PMDN tetap kuat dan pemerintah mampu menghidupkan kembali momentum PMA, target sekitar Rp2.175 triliun masih berada dalam jangkauan, meskipun dengan risiko realisasi sedikit di bawah angka resmi.
Implikasi Kebijakan dan Pelaku Usaha
Dari perspektif kebijakan, pemerintah perlu menjaga tiga hal: konsistensi regulasi hilirisasi, percepatan reformasi perizinan dan logistik, serta penguatan insentif yang lebih terarah pada sektor berorientasi ekspor dan teknologi. Bagi pelaku usaha, 2026 adalah momentum untuk mengamankan proyek jangka panjang sebelum siklus suku bunga global benar-benar berbalik turun dan kompetisi menarik investor kembali mengeras di kawasan.


