Produksi telur nasional terus mencatat rekor, tumbuh dari sekitar 6,12 juta ton pada 2023 menjadi 6,34 juta ton pada 2024, dengan proyeksi 6,5 juta ton pada 2025. Sementara itu, harga telur mengalami fluktuasi signifikan: dari rata-rata Rp25.840/kg produsen (Mei 2023) hingga menyentuh Rp32.100/kg (Mei 2023) dan stabil di kisaran Rp30.000–Rp31.000 pada awal 2024. Surplus produksi membuka peluang ekspor, termasuk ke Singapura (557.280 butir pada Agustus 2023) dan Amerika Serikat (1,6 juta butir per bulan mulai 2025).

Tren Harga Telur
Harga telur di Indonesia dipengaruhi biaya pakan, inflasi tahunan, dan peristiwa luar (Avian Influenza). Grafik rata-rata harga tahunan:

Perdagangan Telur, Impor dan Ekspor
Dalam konteks impor, pada Bulan Februari 2023, mencapai 165.234 kg, naik 8,69% YoY, terutama dari India (164.775 kg), Jerman (413 kg), AS (46 kg). Tahun 2023, nilai impor produk telur (termasuk bubuk) naik ke USD 13,35 juta dari USD 12,21 juta tahun sebelumnya, India sebagai pemasok terbanyak (2.077 ton setara telur).
Sementara, untuk sisi ekspor, Pada Agustus 2023, 557.280 butir (SGD101.730/Rp1,15 miliar) ke Singapura sebagai pengiriman ke-16 dari target 9,3 juta butir tahun 2023. Lalu, di 2025, direncanakan ekspor 1,6 juta telur per bulan ke AS setelah surplus 288,7 ribu ton, dengan standar FDA (bebas Salmonella, residu antibiotik).
Dalam konteks kebijakan dan tantangan, ada beberapa poin penting yang musti diketahui bersama, contohnya adalah subsidi pakan dan distribusi jagung distimulasi pemerintah untuk meredam lonjakan harga telur sejak Mei 2023. Kemudian ada tantangan Avian Influenza (HPAI) mempengaruhi pasokan global, mendorong ekspor Indonesia ke pasar terganggu produksi (AS, Eropa). Stunting risk family (KRS). Program bantuan telur dan ayam untuk menurunkan angka stunting sekaligus menyerap produksi peternak kecil.
Disisi lain, ada beberapa prospek dan rekomendasi yang dapat dilakukan. Diversifikasi produk, mengembangkan telur organik dan value-added (telur bubuk) untuk mengurangi ketergantungan impor.
Peningkatan efisiensi pakan. Optimalisasi formulasi pakan untuk menekan biaya produksi. Perluasan pasar ekspor, memanfaatkan surplus untuk pasar AS, Uni Emirat Arab, dan Jepang dengan memastikan sertifikasi dan traceability. Kemudian, penguatan rantai pasok. Digitalisasi distribusi untuk menekan biaya logistik dan fluktuasi harga di tingkat konsumen.
Dengan tren produksi yang kuat dan surplus yang berkelanjutan, Indonesia berpotensi menjadi pusat suplai telur regional, sekaligus menjaga stabilitas harga domestik melalui kebijakan proaktif dan pengembangan pasar ekspor.


