Di tengah dinamika pembangunan manusia yang beragam di Jawa Timur, sektor kesehatan terus menjadi fokus utama dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat. Salah satu inisiatif yang patut dicermati adalah program Pesantren Sehat, yang dirancang untuk menjadikan pesantren sebagai pusat pelayanan kesehatan berbasis pendidikan dan nilai-nilai keislaman. Namun, meskipun terdapat capaian positif pada beberapa lokasi, data terkini mengungkapkan adanya anomali signifikan dalam pemerataan program ini.
Data menunjukkan bahwa dari lebih dari 4.000 pesantren yang ada, hanya sekitar 36,5 persen yang memiliki Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren). Di lokasi tertentu, terdapat peningkatan capaian sebesar 93 persen pada 76 pesantren, menandakan bahwa intervensi di sana sudah berjalan efektif. Namun, fenomena ini juga mengungkap ketimpangan yang mencolok—di mana sebagian besar pesantren belum mendapatkan akses kesehatan yang optimal. Disparitas ini berakar pada perbedaan indeks pembangunan manusia (IPM) antar kabupaten/kota, yang berimplikasi pada ketidakmerataan akses terhadap fasilitas, tenaga kesehatan, dan ketersediaan obat-obatan esensial.
Selain itu, profil kesehatan Jawa Timur pada tahun 2022 dan 2023 mencatat bahwa wilayah dengan IPM rendah umumnya juga mengalami kekurangan fasilitas kesehatan dan tenaga medis. Di sisi lain, kawasan terpencil masih menghadapi kendala serius dalam hal akses layanan kesehatan, yang semakin memprihatinkan apabila dilihat dari tingginya angka penyakit menular seperti Tuberkulosis (TB) Paru, Kusta, dan Pneumonia.


