Kerugian global akibat bencana alam pada paruh pertama tahun 2025 mencapai USD 131 miliar, menandai angka tertinggi kedua dalam sejarah untuk periode enam bulan pertama sejak pencatatan dimulai pada 1980. Dari total kerugian tersebut, hanya USD 80 miliar yang diasuransikan, menciptakan kesenjangan perlindungan asuransi sebesar 38,9%.
Kebakaran hutan di kawasan Los Angeles pada Januari 2025 menjadi bencana tunggal termahal sepanjang masa, dengan kerugian total mencapai USD 53 miliar dan kerugian yang diasuransikan sebesar USD 40 miliar. Kebakaran yang berlangsung selama tiga minggu ini menewaskan 29 orang dan menghancurkan atau merusak lebih dari 16.000 struktur bangunan.

Menurut Munich Re Group atau Munich Reinsurance Company adalah perusahaan asuransi yang berbasis di Munich, Jerman, menjelaskan jika belum terjadi sebelumnya kebakaran hutan menyebabkan kerusakan sebesar ini. Kerugian keseluruhan dan kerugian yang diasuransikan akibat peristiwa tunggal ini hampir dua kali lipat dari kerugian kebakaran hutan global pada tahun 2018, yang sebelumnya merupakan tahun kebakaran hutan termahal.
Kebakaran ini terjadi di musim dingin yang biasanya berhujan, menunjukkan dampak perubahan iklim yang semakin nyata. Kawasan Pacific Palisades yang terdampak merupakan area dengan nilai properti tertinggi, dengan nilai rata-rata rumah mencapai USD 3,7 miliar sebelum kebakaran.
Gempa bumi berkekuatan 7,7 skala Richter yang mengguncang Myanmar pada 28 Maret 2025 menjadi bencana kedua termahal dengan kerugian ekonomi mencapai USD 12 miliar. Gempa yang berpusat dekat Mandalay ini menewaskan sekitar 4.500 orang dan meninggalkan 200.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Analisis satelit radar oleh United Nations University Institute for Water, Environment and Health (UNU-INWEH) memperkirakan lebih dari 157.000 bangunan rusak, dengan tingkat kerusakan di kota-kota yang dikaji berkisar antara 20% hingga 73%. Yang mengkhawatirkan, hanya sebagian kecil dari kerugian ini yang diasuransikan, mencerminkan rendahnya penetrasi asuransi di wilayah tersebut.
Gempa ini juga berdampak signifikan pada negara-negara tetangga, terutama Thailand, di mana runtuhnya bangunan bertingkat tinggi yang sedang dibangun di Bangkok menewaskan puluhan pekerja.

Sementara itu, Amerika Serikat kembali mengalami serangkaian badai konvektif parah yang menyebabkan kerugian USD 34 miliar pada paruh pertama 2025, dengan USD 26 miliar di antaranya diasuransikan. Empat rangkaian badai termahal terjadi pada Maret, April, dan Mei, termasuk wabah tornado parah yang mengakibatkan kerugian sekitar USD 19 miliar.
Tornado outbreak pada 15-16 Mei 2025 menjadi salah satu yang paling merusak, menghasilkan 60 tornado termasuk tornado EF4 yang mematikan di Kentucky. Tornado EF3 yang menghantam wilayah St. Louis menewaskan empat orang dan melukai 38 orang lainnya.
Hingga akhir Mei 2025, Amerika Serikat telah mencatat lebih dari 1.000 tornado, mendekati rekor untuk periode yang sama dan menunjukkan aktivitas jauh di atas rata-rata.
Lain halnya di Eropa, berbagai daerah di Eropa mengalami kerugian relatif rendah sebesar USD 5 miliar pada paruh pertama 2025, dengan lebih dari setengahnya diasuransikan. Meskipun demikian, beberapa peristiwa signifikan terjadi, termasuk serangkaian badai petir dengan hujan es yang menghantam Prancis, Austria, dan Jerman pada Juni.
Bencana paling mahal di Eropa adalah longsoran es dan batuan di Swiss pada 28 Mei 2025, yang menimbun desa Blatten dan menyebabkan kerugian sekitar USD 500 juta. Peristiwa ini menggarisbawahi risiko geologis yang meningkat di wilayah pegunungan akibat pencairan permafrost.
Kesenjangan perlindungan asuransi tetap menjadi masalah serius secara global, dengan 61% dari total kerugian tidak diasuransikan. Di Asia-Pasifik, kesenjangan ini bahkan lebih besar, mencapai 95% dari total kerugian.
China mengalami kerugian USD 7,6 miliar akibat berbagai bencana alam pada paruh pertama 2025, namun cakupan asuransi sangat minimal. Australia mencatat kerugian USD 2,2 miliar dengan cakupan asuransi yang lebih baik sekitar USD 1 miliar.
Jika dibandingkan historis dan tren jangka panjang. Kerugian total pada paruh pertama 2025 sebesar UDS 131 miliar, meskipun sedikit lebih rendah dari USD 155 miliar pada periode yang sama tahun 2024 jika disesuaikan inflasi, namun, angka tersebut masih jauh di atas rata-rata 10 tahun terakhir mencapai USD 101 miliar dan rata-rata 30 tahun terakhir mencapai USD 79 miliar.
Kerugian yang diasuransikan sebesar USD 80 miliar merupakan angka tertinggi kedua untuk paruh pertama tahun sejak 1980, hanya terlampaui oleh paruh pertama 2011 ketika gempa bumi dan tsunami Jepang menyebabkan kerugian masif.
Bencana terkait cuaca menyumbang 88% dari total kerugian dan 98% dari kerugian yang diasuransikan, sementara gempa bumi menyumbang 12% dan 2% masing-masing. Menurut Swiss Re, kerugian asuransi dari bencana alam diproyeksikan mencapai USD 145 miliar pada 2025, dengan kemungkinan 1 dari 10 bahwa kerugian bisa mencapai USD 300 miliar atau lebih.
Tobias Grimm, kepala ilmuwan iklim Munich Re, menekankan, jika pesannya jelas, dunia terus menghangat, lautan memanas, perubahan iklim mengubah probabilitas peristiwa cuaca ekstrem. Thomas Blunck dari Munich Re menambahkan bahwa “bencana seperti yang terjadi di Los Angeles menjadi lebih mungkin terjadi akibat pemanasan global.
Data paruh pertama 2025 mengonfirmasi tren peningkatan kerugian bencana alam yang berkelanjutan. Kombinasi antara perubahan iklim, peningkatan eksposur di area berisiko tinggi, dan pertumbuhan ekonomi terus mendorong kerugian yang lebih besar.
Kebutuhan akan strategi mitigasi yang lebih efektif, investasi dalam infrastruktur yang tahan bencana, dan perluasan cakupan asuransi menjadi semakin mendesak. Seperti yang ditekankan Munich Re, cara terbaik untuk menghindari kerugian adalah dengan menerapkan tindakan pencegahan yang efektif, seperti konstruksi yang lebih kuat untuk bangunan dan infrastruktur agar lebih tahan terhadap bencana alam.
Analisis ini menunjukkan bahwa masyarakat global harus bersiap menghadapi era baru di mana bencana alam dengan kerugian miliaran dollar menjadi kejadian rutin, bukan pengecualian.


