Industri kemasan nasional telah menunjukkan tren pertumbuhan stabil dan tahan guncangan global, dengan nilai produksi naik dari Rp87,6 triliun pada 2022 menjadi Rp93,2 triliun pada 2023. Proyeksi konservatif menempatkan nilai produksi pada Rp105 triliun di akhir 2025, setara dengan pertumbuhan rata-rata 6–7% per tahun, didorong konsumsi domestik, teknologi pengemasan, dan ledakan sektor farmasi serta e-commerce.
Laju produksi dan proyeksi pertumbuhan, badan pusat statistik (BPS) mencatat nilai produksi industri kemasan pada 2022 mencapai Rp 87,6 triliun, sedangkan untuk 2023 mencapai Rp 93,2 triliun. Dari periode 2022–2023, industri ini mencatat CAGR sekitar 6,5%, yang sejalan dengan proyeksi nilai produksi naik ke Rp 105 triliun pada akhir 2025, atau CAGR 6,8% selama 2023–2025.
Faktor pendorong pertumbuhan, pertama meningkatnya konsumsi masyarakat. Pertumbuhan populasi dan naiknya pendapatan mendorong volume barang kemasan untuk kebutuhan harian—makanan, minuman, dan produk FMCG. Kedua, kemajuan teknologi pengemasan. Inovasi seperti kemasan aseptik, digital printing, dan material ramah lingkungan meningkatkan efisiensi produksi dan daya tarik produk. Ketiga, ekspansi sektor farmasi. Permintaan tinggi akan kemasan steril dan aseptik untuk vaksin, obat oral, dan produk kesehatan lainnya. Keempat, ledakan e-commerce. Pertumbuhan belanja daring memacu kebutuhan kemasan kokoh, ringan, dan mudah dibuka untuk logistik last-mile.
Menko RI meresmikan pabrik kemasan aseptik pertama di Indonesia milik PT Lami Packaging Indonesia, yang mulai operasional Juli 2025. Tercatat, nilai ekspor kemasan nasional naik menjadi USD 30 juta pada 2024. Sedangkan untuk nilai impor kemasan aseptik mencapai USD 193 juta pada 2024, menandakan adanya ruang optimalisasi substitusi impor. Airlangga menyebut industri kemasan “recession-proof” karena kebutuhan dasar makanan dan minuman tak pernah surut bahkan di tengah ketidakpastian global.
Ada beberapa tantangan dan peluang ke depan yang dapat terprediksi, ketergantungan impor teknologi tinggi, impor komponen aseptik masih tinggi, kesempatan bagi lokal untuk memperkuat kapabilitas R&D dan produksi. Regulasi dan sustainability, tren global menuntut kemasan ramah lingkungan. Produsen perlu beralih ke material daur ulang dan biodegradable. Optimalisasi logistik, penurunan biaya logistik dan skema CIF untuk ekspor dapat memperkuat daya saing produk kemasan Indonesia di pasar global.


