Rabu, April 15, 2026
spot_img
BerandaMarketEmas Hijau dari Tanah Air, Komoditas Umbi-Umbian Indonesia di 2025 dan Prospek...

Emas Hijau dari Tanah Air, Komoditas Umbi-Umbian Indonesia di 2025 dan Prospek 2026

Sepanjang tahun 2025, sektor umbi-umbian Indonesia menunjukkan performa yang menggembirakan, dengan momentum ekspor yang terus meningkat didorong oleh permintaan global yang kuat dan upaya diversifikasi pangan dalam negeri. Meski menghadapi tantangan struktural, tiga komoditas utama, porang, singkong, dan ubi jalar, menjadi bintang utama yang membawa Indonesia lebih jauh ke panggung perdagangan internasional.

Umbi-umbian sebagai mesin pertumbuhan ekonomi pedesaan. Sepanjang 2025, komoditas umbi-umbian Indonesia telah menunjukkan transformasi dari “makanan rakyat tradisional” menjadi “komoditas modern dengan daya saing global.” Porang, singkong, ubi jalar, dan talas beneng bersama-sama membentuk narasi baru tentang bagaimana sumber daya alam tradisional dapat dioptimalkan melalui inovasi, investasi infrastruktur, dan kebijakan yang tepat.

Momentum ekspor yang tercipta bukan hanya tentang angka penjualan, tetapi juga tentang pemberdayaan lebih dari satu juta petani yang tersebar di berbagai daerah, penciptaan ribuan lapangan kerja di sektor pengolahan dan distribusi, dan kontribusi signifikan terhadap ketahanan pangan nasional melalui diversifikasi pangan domestik.

Dengan strategi yang konsisten dan dukungan kebijakan yang kuat, prospek umbi-umbian Indonesia di 2026 tampak cerah. Namun, kesuksesan ini hanya dapat terwujud apabila semua pemangku kepentingan, pemerintah pusat dan daerah, petani, industri, dan lembaga riset, bergerak secara sinergis untuk mengatasi hambatan struktural dan memanfaatkan peluang pasar global yang terus berkembang.

Emas hijau dari tanah air ini tidak hanya berpotensi meningkatkan devisa negara, tetapi lebih penting lagi, mengubah wajah pertanian Indonesia menuju sistem yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan kompetitif di era perdagangan global yang terus berubah.

Singkong, Raksasa Produksi yang Menunggu Hilirisasi Optimal

Indonesia tetap mempertahankan posisi sebagai produsen singkong ketiga terbesar di dunia, setelah Nigeria dan Thailand, dengan produksi tahunan mencapai lebih dari 20 juta ton. Data terbaru menunjukkan bahwa Provinsi Lampung mendominasi dengan kontribusi 39,74% atau setara 7,9 juta ton per tahun, menjadikan wilayah ini sebagai pusat pertumbuhan ekonomi berbasis singkong yang luar biasa. Ekonomi singkong Lampung telah menyumbang lebih dari Rp50 triliun terhadap Produk Domestik Regional Bruto, melibatkan lebih dari 800.000 keluarga dalam ekosistem produksi dan pengolahan.

Sepanjang periode Januari hingga April 2025, ekspor ubi kayu olahan mencatat angka impresif sebesar 6.513 ton dengan nilai Rp 4.437 miliar. Pada April 2025 saja, volume ekspor ubi kayu olahan melampaui April 2024 dengan pertumbuhan mencapai 112,40%, menandakan akselerasi signifikan dalam upaya hilirisasi komoditas ini. Harga produsen ubi kayu pada tingkat petani berkisar antara Rp 3.130 hingga Rp 3.355 per kilogram pada 2022, dengan margin konsumen yang membuat harga eceran mencapai Rp 5.299-5.689 per kilogram.

Namun, tantangan utama tetap menghadang. Pemerintah Provinsi Lampung telah mengeluarkan kebijakan terobosan melalui Instruksi Gubernur Nomor 2 Tahun 2025, menetapkan harga pembelian ubi kayu oleh industri sebesar Rp1.350/kg dengan potongan maksimal 30 persen tanpa pengurangan kadar pati. Langkah ini dirancang untuk menciptakan keadilan dalam distribusi keuntungan dan memperkuat posisi petani dalam rantai pasok, mengingat sebagian besar produksi domestik masih kesulitan memenuhi standar kadar pati minimal 25 persen yang diminta industri.

Prospek singkong di 2026 tampak menjanjikan dengan rencana pemerintah untuk menetapkan singkong sebagai komoditas pangan strategis nasional. Strategi terpadu dari hulu ke hilir, termasuk peningkatan produktivitas melalui varietas unggul, penguatan infrastruktur pascapanen, dan harmonisasi kebijakan lintas sektor, diharapkan dapat mengakselerasi transformasi singkong menjadi komoditas unggulan ekspor.

Ubi Jalar, Diversifikasi Pangan Menemukan Momentum Baru

Data ekspor Januari hingga April 2025 menunjukkan volume ubi jalar segar dan olahan mencapai 4.505 ton dengan nilai ekonomi Rp 3.302 miliar (USD 1.907.000). Meskipun mengalami penurunan 9,35% dibandingkan April 2024, volume ekspor tetap menunjukkan ketahanan dalam menghadapi dinamika pasar global.

Konsumsi ubi jalar domestik saat ini masih sangat rendah, hanya mencapai 3,1 kg per kapita per tahun, jauh tertinggal dibandingkan konsumsi beras yang mencapai 92,1 kg per kapita per tahun. Situasi ini justru membuka peluang besar untuk program diversifikasi pangan yang sedang digalakkan pemerintah. Pemerintah Provinsi Sulsel bersama Kementerian Pertanian telah memulai tahap awal pengembangan ubi jalar di 17 kabupaten dengan target perluasan yang ambisius.

Ubi jalar memiliki keunggulan agronomis yang signifikan, yakni lebih mudah dibudidayakan dibandingkan singkong, hasil panen per hektare lebih tinggi, dan secara sosial memiliki nilai ekonomi yang lebih menguntungkan. Tanaman ini tidak memerlukan lahan dengan spesifikasi khusus dan dapat tumbuh hampir di semua jenis tanah, bahkan di lahan kering dengan kebutuhan air minimal setelah fase awal pertumbuhan.

Sebagai bahan baku produk turunan, ubi jalar menunjukkan potensi sebagai substitusi tepung terigu dalam industri pangan modern. Pengembangan teknologi tepung ubi jalar termodifikasi dan produk-produk diversifikasi berbasis umbi telah mencapai tahap hilirisasi di berbagai kabupaten di Jawa Tengah, melibatkan lebih dari 500 individu yang telah mendapatkan manfaat dari teknologi yang diterapkan.

Di level pasar internasional, ekspor ubi jalar Indonesia terus mengalami ekspansi ke berbagai negara, meskipun masih didominasi oleh pasar Asia Tenggara. Target Kementerian Pertanian untuk 2026 adalah memperluas program penyebaran ubi jalar agar kebutuhan benih dan stek dapat dipenuhi dari produksi lokal, sehingga meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk ekspansi lahan dan peningkatan ekspor.

Porang, Primadona Ekspor yang Melesat Pesat

Dinamika pasar porang sepanjang 2025 menunjukkan lompatan spektakuler yang mengubah status komoditas ini dari sekadar tanaman alternatif menjadi primadona ekspor unggulan. Data Januari hingga April 2025 mencatat ekspor porang dalam bentuk olahan mencapai 369 ton dengan nilai Rp 295 juta (USD 585.000), dan ekspor perdana di kuartal pertama 2025 sebesar 55 ton senilai Rp 4,4 miliar telah membuktikan kembali daya tarik pasar global terhadap komoditas ini.

Lompatan signifikan terjadi pada kuartal pertama tahun 2025, ketika ekspor porang dari Jawa Tengah saja mencatat lonjakan 82,65%, meningkat dari 173 ton pada periode yang sama tahun 2024 menjadi 316 ton dengan nilai ekonomis Rp 20 miliar. Kesuksesan ini didorong oleh penetapan protokol persyaratan inspeksi dan karantina antara pemerintah Indonesia dan China, yang secara signifikan mempercepat proses ekspor dan membuka akses pasar yang lebih luas.

Kerjasama ekspor porang antara Indonesia dan China mencapai milestone penting dengan kesepakatan mengekspor serpih porang sebanyak 50.000 ton per tahun, meningkat dari target sebelumnya hanya 25.000 ton. Permintaan dari China saja diperkirakan mencapai 80.000 ton per tahun, menunjukkan potensi pasar yang masih jauh melampaui kapasitas produksi Indonesia saat ini.

Pasar porang tidak hanya terbatas pada China. Data menunjukkan permintaan tinggi dari berbagai negara, termasuk Jepang (sebagai konsumen utama untuk produk bernilai tinggi seperti shirataki dan suplemen diet), Korea Selatan (untuk industri K-beauty dan makanan diet), hingga pasar premium di Eropa seperti Belanda, Jerman, dan Prancis. Jepang menempati urutan kedua sebagai importir porang dunia dengan pangsa 29% dari total impor global, sementara Amerika Serikat memimpin dengan pangsa 41,4%.

Hingga Juli 2024, ekspor porang dari Jawa Timur saja telah mencapai USD 56.618.720, dengan peningkatan konsisten dari tahun ke tahun, USD 8.048.508 (2019), USD 11.266.203 (2020), USD 4.379.926 (2021), USD 35.656.806 (2022), dan USD 42.779.919 (2023). China menjadi tujuan ekspor paling dominan dengan USD 55.475.229 dari total ekspor tersebut, diikuti jauh oleh Thailand (USD 595.092) dan Malaysia (USD 186.532).

Keunggulan kompetitif porang Indonesia terletak pada kandungan glukomanan yang tinggi, dengan aplikasi luas di industri makanan, farmasi, kosmetik, dan bahan kimia. Saat ini, porang sedang mengalami diversifikasi produk yang pesat, dari chip dan tepung yang baru saja dikembangkan, hingga beras porang yang masih dalam tahap pengembangan. Potensi pasar ini terus membuka peluang untuk peningkatan nilai tambah dan penetrasi pasar yang lebih dalam.

Namun, produksi porang Indonesia masih jauh tertinggal dari permintaan global. Sentra utama produksi porang terdapat di Kecamatan Dagangan Kabupaten Madiun dengan status sebagai daerah penghasil porang terbesar Indonesia. Menghadapi isu yang menjadi tantangan, termasuk keterlambatan akses bibit bersertifikat (bulbil), fluktuasi harga, dan perlunya peningkatan kualitas untuk memenuhi standar ekspor internasional, pemerintah dan pelaku usaha terus melakukan inovasi dalam sistem pertanian dan pemasaran.

Talas Beneng, Komoditas Baru dengan Potensi Ekspor Berlipat Ganda

Memasuki 2025, komoditas yang sebelumnya tidak banyak dikenal, talas beneng (talas bandeng), tiba-tiba menjadi sorotan sebagai “komoditas primadona ekspor baru dari bumi Indonesia.” Sebuah perusahaan asal Banten (Unni Agri Banten) mulai mengembangkan budidaya dan ekspor talas beneng dengan antusiasme yang tinggi.

Umbi talas beneng dapat diolah menjadi tepung talas yang bersifat gluten free, dengan produktivitas umbi mencapai 5-10 kilogram per tanaman, bahkan dalam kondisi optimal dapat mencapai 95 kilogram untuk umbi tunggal berusia 3 tahun. Keunikan talas beneng adalah pemanfaatan holistik, dari daun hingga batang (pelepah) dapat diproses menjadi berbagai produk, menciptakan 42 variasi produk dari satu tanaman.

Minat pasar internasional terhadap talas beneng sudah terlihat dari beberapa buyer yang telah menghubungi, termasuk inquiry dari Singapura (dengan permintaan awal 800 ton yang kemudian dinegosiasikan menjadi 200 ton per tahun) dan negara-negara Eropa seperti Polandia dan Belanda. Target ekspor yang ditetapkan adalah 200 ton per tahun dengan harga yang bisa mencapai 5 kali lipat dari harga lokal ketika sudah dalam bentuk olahan tepung.

Keberhasilan talas beneng sebagai komoditas ekspor baru menunjukkan pentingnya inovasi dalam diversifikasi komoditas tradisional. Dengan dukungan pemerintah dan ekosistem bisnis yang tepat, talas beneng berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan baru Indonesia dalam waktu singkat.

Pasar Domestik, Tepung Umbi-Umbian sebagai Solusi Ketahanan Pangan

Seiring dengan permintaan ekspor yang meningkat, inovasi dalam pengolahan umbi-umbian juga mendapat perhatian serius untuk mengatasi ketergantungan Indonesia pada impor gandum dan tepung terigu. Industri tepung umbi-umbian (MOCAF – Modified Cassava Flour, tepung singkong, tepung ubi jalar, hingga tepung talas) berkembang pesat sebagai bahan baku alternatif yang bebas gluten dan memiliki nilai gizi tinggi.

Penelitian di berbagai universitas dan lembaga riset menunjukkan bahwa tepung umbi dapat digunakan sebagai substitusi parsial atau penuh untuk tepung terigu dalam berbagai produk pangan seperti roti, kue, mie, dan produk pangan olahan lainnya. Teknologi modifikasi terkendali yang dikembangkan melalui fermentasi biologis dan metode fisik telah meningkatkan aplikabilitas tepung umbi dalam industri pangan modern.

Dari perspektif ekonomi, hilirisasi umbi menjadi tepung dan produk turunan meningkatkan nilai jual hingga berkali lipat dibandingkan penjualan dalam bentuk mentah. Margin keuntungan ini telah mendorong pembentukan UMKM dan industri skala menengah yang melibatkan ribuan tenaga kerja, terutama di daerah-daerah sentra produksi umbi-umbian.

Konsumsi umbi-umbian per kapita di Indonesia masih rendah, hanya mencapai 57 kkal per kapita per hari menurut data tahun 2023, namun tren menunjukkan peningkatan kesadaran konsumen terhadap pangan lokal yang sehat dan bergizi. Program diversifikasi pangan yang didukung oleh Badan Pangan Nasional dan Kementerian Pertanian secara aktif mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat untuk mengurangi ketergantungan pada beras.

Daya Saing di Pasar Global

Posisi daya saing komoditas umbi-umbian Indonesia di pasar global menunjukkan pola yang beragam. Untuk porang, analisis daya saing menunjukkan nilai keunggulan komparatif yang semakin kuat, didorong oleh permintaan global yang tinggi dan keterbatasan supply dari produsen lain. Indonesia menempati urutan ke-5 sebagai pemasok porang terbesar di dunia dengan pangsa ekspor 2,2% pada 2020.

Sebaliknya, untuk ubi kayu segar, daya saing Indonesia masih tertinggal jauh. Indonesia menempati urutan ke-19 dalam ekspor ubi kayu segar dengan kontribusi di bawah 1% dari total ekspor dunia, jauh tertinggal dari Thailand yang mendominasi dengan 65,96% pangsa ekspor. Namun, untuk pati ubi kayu (starch), posisi Indonesia sedikit lebih baik, meski tetap berada di urutan ke-10 dengan nilai ekspor USD 7,9 juta pada 2022.

Ketergantungan Indonesia terhadap impor ubi kayu sangat minimal dengan nilai Import Dependency Ratio antara 0,31% hingga 2,28% (2018-2022), menunjukkan bahwa kebutuhan domestik dapat dipenuhi sepenuhnya dari produksi dalam negeri dengan Self Sufficiency Ratio lebih dari 97%.

Proyeksi dan Prospek 2026, Momentum yang Terus Berakselerasi

Memasuki 2026, momentum ekspor umbi-umbian Indonesia diproyeksikan terus meningkat dengan beberapa faktor pendukung yang signifikan. Pertama, target ekspor non-migas Indonesia untuk 2026 ditetapkan di atas USD 300 miliar, dengan pertumbuhan 6,8% year-on-year pada periode Januari-September 2025 untuk sektor non-migas secara keseluruhan.

Komoditas umbi-umbian diprediksi akan menjadi bagian dari pertumbuhan ini, didorong oleh peningkatan kapasitas produksi. Pemerintah terus berinvestasi dalam perluasan lahan budidaya, penyediaan varietas unggul, dan peningkatan akses petani terhadap input modern. Target Kementerian Pertanian untuk ubi jalar 2026 mencakup perluasan distribusi benih dan stek ke berbagai provinsi untuk memenuhi kebutuhan ekspansi lahan.

Faktor pendorong lainnya adalah infrastruktur pascapanen yang meningkat. Pembangunan sentra pengolahan terpadu, fasilitas penyimpanan, dan alat pengering di berbagai daerah akan memungkinkan petani menjual produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi, meningkatkan daya saing di pasar global.

Inovasi produk dan diversifikasi menjadi salah satu faktor kunci. Pengembangan produk turunan seperti beras porang, tepung ubi jalar termodifikasi, dan talas beneng dengan berbagai aplikasi industri akan membuka segmen pasar baru dan meningkatkan nilai ekspor per kilogram.

Penetrasi pasar baru menjadi hal yang sangat penting dalam perkembangan komoditas umbi-umbian. Kesepakatan perdagangan bilateral dan kesepakatan kebijakan sanitari-fitosanitari dengan berbagai negara akan membuka akses pasar yang lebih luas. Implementasi protokol ekspor porang dengan China, misalnya, telah membuka pintu untuk perluasan ke pasar-pasar lain.

Peningkatan kesadaran konsumen global merupakan hal yang sangat penting. Tren global menuju produk pangan sehat, plant-based, dan berkelanjutan lingkungan semakin mendukung permintaan umbi-umbian Indonesia yang memiliki karakteristik tersebut.

Namun, tantangan yang harus diantisipasi di 2026 termasuk, potensi penurunan ekspor ke Amerika Serikat akibat implementasi kebijakan tarif resiprokal Trump, menurunnya harga komoditas energi yang dapat mempengaruhi biaya logistik, dan persaingan ketat dari produsen lain seperti Thailand dan Vietnam dalam segmen ubi kayu dan porang.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments