Ada beberapa temuan menarik jika kita mendalami skema asimetris antara AS dan Indonesia. Tanpa tarif, impor komoditas pertanian AS ke Indonesia, komoditas seperti kedelai, gandum, jagung, daging sapi, susu, berpotensi naik 18-27% dalam 12 bulan pertama. Selain itu, hal tersebut dapat menekan harga produsen lokal hingga 7% dan memangkas volume produksi domestik 3-10%.
Tarif 19% atas ekspor Indonesia ke AS mengurangi daya saing produk utama, seperti palm oil, alas kaki, pakaian, karet, sehingga volume ekspor diproyeksikan turun 14-20% dan PDB riil kehilangan 0,16 ppt pada 2026.
Sementara itu, neraca perdagangan bilateral berpotensi berbalik defisit tambahan kurang lebih USD 5,4 miliar bagi Indonesia, hal ini kemudian membuat cadangan devisa dan kurs rupiah rentan tertekan.
Peta Komoditas Utama yang Diperdagangkan
| Arah Perdagangan | Komoditas Kunci | Nilai 2024
(USD miliar) |
Pangsa Dunia | Tren 2020-24 | Sumber |
| AS ➜ Indonesia (impor Indonesia) | Kedelai | 1,26 | 89% pangsa impor kedelai RI | -2,3% CAGR | 11, 32 |
| Gandum & meslin | 0,28 | 3-5 terbesar | +60% thd 2018 | 12 | |
| Jagung pakan | 0,13 (DDGS & corn gluten) | – | +41% | 15 | |
| Daging sapi beku | 0,085 | 6% pangsa | +37% | 12 | |
| Produk susu | 0,352 | 2 terbesar | +47% yoy 2020 | 15 | |
| Telur & produk unggas | 0,026 (Jan-Apr 2025) | – | baru | user | |
| Indonesia ➜ AS (ekspor Indonesia) | Palm oil & turunannya | 1,60 | 85% impor AS | +129% vs 2018 | 34, 36 |
| Pakaian rajut/non-rajut | 4,36 (knit & non-knit) | 18% pangsa ekspor garmen RI | +75 % 2021-22 | 34, 35 | |
| Alas kaki | 1,92 | 34% pangsa alas kaki RI | Stabil | 34, 56 | |
| Karet alam & produk | 1,64 | eksportir top | tren menurun | 34, 3 | |
| Udang beku | 0,48 (H1 2024) | 63% ekspor udang RI | -16% yoy | 53 | |
| Tuna–Cakalang–Tongkol | 0,37 (2023) | rising star RCA 13,7 | +8% rata-rata | 45 |
Tercatat, ada beberapa dampak bagi serapan komoditas dalam negeri. Untuk sektor pangan, seperti komoditas kedelai, nol tarif memotong harga CIF ± 5%, tempe-tahu makin bertumpu pada impor; produksi kedelai lokal (± 350 000 ton) terancam turun hingga 9% karena tidak kompetitif.
Sementara untuk komoditas gandum dan jagung, untuk komoditas gandum pakan menggantikan jagung lokal di pabrik pakan unggas, harga jagung petani dapat turun Rp250-300/kg, menekan margin petani 6-8%.
Sedangkan untuk komoditas daging dan susu, masuknya daging sapi boxed beef dan whey powder AS lebih murah menekan peternak sapi potong serta industri susu segar dalam negeri, potensi pengurangan populasi sapi rakyat 2-3%.
Untuk sektor non-pangan, seperti mesin dan pesawat, (impor AS US$1,11 miliar dan USD 0,52 miliar), mungkin bertambah karena harga lebih murah, mendukung investasi tetapi melebarkan defisit neraca barang modal.
Ada beberapa dampak tarif 19% atas ekspor Indonesia. Pertama, hitungan ekspor tarif efektif rata-rata AS sebelum kebijakan, kurang lebih 5%. Kenaikan ke 19% berarti margin harga ekspor naik 14 ppt. Dengan elastisitas permintaan impor -1,2 untuk barang konsumsi rendah substitusi, penurunan kuantum ekspor mencapai 16-17%.
| Produk | Volume 2024 (ton/juta unit) | Proyeksi Penurunan Volume | Kehilangan Devisa (USD miliar) |
| Palm oil | 1,39 juta t | -18% | -0,29 |
| Pakaian & alas kaki | USD 4,36 bn | -15% | -0,65 |
| Udang & ikan | 0,62 juta t udang | 0,37 bn tuna -20% | -0,17 |
| Karet & produk | 1,64 bn | -14% | -0,23 |
| Total | – | – | -1,34 |
Manuver kebijakan yang dilakukan pemerintah ini juga menghadirkan efek ekonomi makro. Diantaranya jika melihat pada angka PDB, model regresi panel pada Tahun 2010 sampai 2024 menunjukkan setiap penurunan 1% ekspor manufaktur memangkas PDB 0,011 ppt. Dengan ekspor turun 16%, PDB riil tergerus 0,16 ppt pada 2026.
Efek berikutnya adalah tenaga kerja. Industri garmen dan alas kaki mempekerjakan kurang lebih 3,7 juta pekerja, kontraksi ekspor 15% berisiko menghilangkan 150-200 000 pekerjaan.
Sementara itu, kebijakan tersebut juga berpengaruh pada mata uang Rupiah dan defisit. Kekurangan devisa USD 1,3 miliar memperlebar current account 0,08% PDB, berpotensi melemahkan rupiah 1-1,5% di tengah kondisi impor naik.
Proyeksi Neraca Perdagangan Bilateral
| Item | 2024 Realisasi
(USD miliar) |
Perubahan Tarif | Proyeksi 2026
(USD miliar) |
| Ekspor RI ke AS | 23,28 | -1,34 | 21,94 |
| Impor RI dari AS | 11,34 | +2,05 (kenaikan avg 18%) | 13,39 |
| Balance RI (surplus) | +11,94 | – | +8,55 |
Surplus Indonesia susut kurang lebih USD 3,4 miliar; ditambah efek substitusi impor non-tarif, total selisih mencapai US$5,4 miliar.
Untuk memperkuat dan meningkatkan kinerja perekonomian Indonesia pasca terjalinnya skema tarif asimetris antara AS dan Indonesia, ada bebepa poin yang dapat dilakukan. Pertama, perkuat insentif hulu pangan. Harga dasar kedelai dan jagung, asuransi
pendapatan petani, serta perluasan lahan tematik pangan untuk mengimbangi impor murah. Kedua, diversifikasi pasar ekspor. Palm oil ke Afrika & Timur Tengah, garmen ke Kanada, Meksiko, UE menggunakan skema tarif preferensial yang masih rendah.
Ketiga, negosiasi imbal-dagang. Tawarkan akses rare-earth, nikel, dan transisi energi kepada AS untuk menekan tarif 19%. Keempat, upgrade produktivitas industri padat karya. Automasi ringan & sertifikasi keberlanjutan (ESG) agar mampu menyerap tarif sebagian melalui efisiensi biaya. Kelima, sektor logistik dan pembiayaan ekspor. Perluasan LPEI dan skema hedging rupiah-dolar guna menekan volatilitas kurs bagi eksportir.
Skema tarif asimetris ini berpotensi meningkatkan ketergantungan pangan impor AS dan melemahkan daya saing ekspor unggulan Indonesia, dengan konsekuensi langsung pada petani, pekerja industri padat karya, dan stabilitas makro. Respons terkoordinasi mulai dari perlindungan selektif komoditas strategis hingga diplomasi dagang menjadi krusial untuk mengurangi dampak negatif dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.


