Sepanjang tahun 2025, industri perangkat elektronik Indonesia mengalami transformasi signifikan yang didorong oleh tiga kekuatan utama, yakni adopsi kecerdasan buatan generatif, penetrasi teknologi 5G yang semakin terjangkau, dan peningkatan kepercayaan konsumen terhadap ekosistem digital. Data kualitatif dan kuantitatif menunjukkan perubahan dinamis dalam perilaku belanja konsumen dan persaingan merek yang semakin ketat.
Pasar smartphone Indonesia mencatat pertumbuhan positif sebesar 12 persen year-on-year pada kuartal III 2025, meski dengan nuansa kompleks yang mencerminkan kondisi daya beli masyarakat yang masih berhati-hati. Data dari firma riset Counterpoint Research mengungkapkan bahwa pertumbuhan ini terutama didorong oleh permintaan kuat di segmen ponsel harga rendah dan menengah bawah, di mana daya beli konsumen masih menghadapi tekanan.
Pada kuartal II 2025, total pengiriman smartphone ke Indonesia mencapai 8,7 juta unit, turun 4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kontraksi ini mencerminkan ketidakpastian ekonomi yang sempat mempengaruhi pembelian, namun momentum pulih kembali di kuartal III dengan pertumbuhan dua digit. Segmentasi pasar menunjukkan polarisasi yang jelas, konsumen Indonesia cenderung memilih antara dua ekstrem, ponsel super murah di bawah USD100 (sekitar Rp1,6 juta) atau kelas menengah dengan fitur lebih lengkap.
Studi dari Standard Insights yang dilakukan pada Januari 2025 melibatkan 635 responden menunjukkan bahwa 27,2 persen dari masyarakat Indonesia yang berencana membeli gadget tahun ini memilih smartphone sebagai prioritas utama, jauh melampaui kategori lainnya seperti peralatan rumah tangga (22,8 persen) dan laptop (17,3 persen).
Pergeseran Kepemimpinan Pasar, Samsung Kembali ke Puncak
Dinamika persaingan merek menciptakan narasi menarik tentang adaptasi dan strategi yang berbeda. Pada kuartal II 2025, Xiaomi mendominasi pasar dengan pangsa 21 persen atau setara 1,827 juta unit. Keberhasilan Xiaomi didorong oleh strategi agresif di segmen entry-level melalui diskon besar-besaran, dengan rata-rata harga jual ponsel Xiaomi turun hingga USD 112 atau sekitar Rp1,8 juta, terendah sejak 2017. Model Poco C71 menjadi pendorong utama, dengan seri Poco mencatat pertumbuhan fantastis sebesar 188 persen secara tahunan setelah beralih strategi menjadi online-only.
Namun, pergeseran dramatis terjadi di kuartal III 2025. Samsung berhasil merebut posisi teratas dengan pangsa pasar 20 persen, mengalahkan Xiaomi yang turun ke posisi kedua dengan 17 persen. Kesuksesan Samsung tidak lepas dari strategi portfolio komprehensif yang mencakup segmen entry-level hingga premium, dengan seri Galaxy A07 menjadi produk andalan di kelas entry-level. Model ini dinilai sangat kompetitif karena kombinasi harga terjangkau dan fitur yang memadai, sejalan dengan karakteristik pasar Indonesia yang masih didominasi pembeli dengan budget terbatas.
Di belakang dua raksasa ini, Oppo mengamankan posisi ketiga dengan 16 persen pangsa pasar, diikuti Vivo dengan 14 persen. Namun, performa paling mencolok datang dari Infinix, yang mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi sebesar 45 persen, melampaui brand besar lainnya. Lonjakan Infinix didorong oleh strategi pemasaran agresif di komunitas gaming dan meningkatnya popularitas seri Infinix Note dan Infinix Hot di kalangan pengguna muda, membuat merek ini mengamankan posisi kelima dengan 12 persen pangsa pasar.
Data Q1 2025 menunjukkan Xiaomi juga pernah memimpin dengan dominasi signifikan, mendemonstrasikan volatilitas pasar yang tinggi di mana kepemimpinan dapat berubah dengan cepat tergantung pada keefektifan strategi pemasaran dan ketersediaan produk yang tepat sasaran.
Revolusi 5G, Akselerasi Adopsi yang Mencapai Titik Kritis
Salah satu tren paling signifikan tahun 2025 adalah akselerasi adopsi teknologi 5G. Penjualan ponsel 5G di Indonesia mencatatkan pertumbuhan 50-60 persen sepanjang 2025 menurut riset NielsenIQ, sementara Counterpoint Research melaporkan bahwa pangsa pasar ponsel 5G stabil di angka 35 persen dari total pengiriman pada kuartal III 2025, dengan peningkatan tahunan sebesar 4 persen.
Pertumbuhan 5G didorong oleh ketersediaan model dengan harga lebih terjangkau, khususnya di segmen di bawah USD150 dan kelas menengah. Fenomena yang menarik adalah hadirnya ponsel 5G dengan harga sangat kompetitif, seperti Itel P55 yang hadir sebagai ponsel 5G seharga Rp1 juta, sebuah harga yang dianggap mustahil beberapa tahun sebelumnya. Demokratisasi teknologi ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia tidak lagi melihat 5G sebagai fitur premium eksklusif, tetapi sebagai standar teknologi yang diharapkan bahkan pada perangkat kelas bawah.
Tantangan infrastruktur, bagaimanapun, masih menjadi penghambat adopsi massal. Meski Telkomsel menargetkan pengoperasian 5.300 base transceiver station (BTS) 5G hingga akhir 2025, lonjakan dramatis dari 900 BTS di 2024, cakupan jaringan masih terbatas pada kota-kota besar dan koridor strategis. Ekspansi fokus pada Jabodetabek dengan target cakupan Hyper 5G 100 persen, serta perluasan di Surabaya, Bandung, Bali, dan Batam.
Pernyataan Direktur Network Telkomsel bahwa “satu dari setiap tiga ponsel yang dikirim ke Indonesia kini sudah 5G, meski adopsi jaringan belum merata di seluruh wilayah” mencerminkan kesenjangan antara ketersediaan perangkat dan infrastruktur.
Tren Generative AI, Pasar Indonesia sebagai Early Adopter
Indonesia termasuk pasar paling terbuka dan cepat mengadopsi fitur Gen AI menurut riset Counterpoint. Investasi global terhadap AI telah mencapai ribuan triliun rupiah, dengan model yang dilatih dari miliaran data poin dan mampu memahami bahasa, gambar, video, dan konteks personal pengguna.
Aksesibilitas fitur AI diprediksi akan semakin demokratis. Counterpoint memproyeksikan bahwa mulai tahun 2027-2028, segmen smartphone dengan harga USD 100–USD 199 akan mendorong pertumbuhan lebih lanjut seiring fitur Gen AI yang semakin dapat diakses oleh lebih banyak konsumen. Efisiensi menjadi nilai tambah utama dari Gen AI, meski survei global Counterpoint juga menunjukkan pengguna Indonesia melaporkan nilai lebih tinggi dari Gen AI dibandingkan dengan pengguna di pasar maju, khususnya dalam hal kemampuan pembuatan konten dan pengalaman pengguna yang dipersonalisasi.
Riset dari Indonesia Gadget Award 2025 menunjukkan bahwa tren smartphone berkekuatan AI kini lebih banyak diminati oleh masyarakat. Smartphone flagship dengan AI chipset mengalami permintaan yang meningkat tajam di kuartal III 2025. Model seperti Xiaomi 15T Pro, yang mengusung teknologi kamera dengan Leica, menjadi best smartphone for creators dalam kategori value pada acara Indonesia Gadget Award 2025, mendemonstrasikan bagaimana integrasi AI dan teknologi premium mulai menarik segmen konsumen yang lebih luas.
Preferensi konsumen, kapasitas penyimpanan dan daya tahan produk menjadi faktor penentu konsumen membeli gadget. Riset NielsenIQ mengungkapkan pergeseran signifikan dalam preferensi konsumen Indonesia. Ponsel dengan kapasitas penyimpanan 512 GB menjadi yang paling diminati, dengan 28 persen konsumen memilih memori jumbo tersebut saat membeli smartphone baru. Tren ini menunjukkan kebutuhan pengguna yang semakin besar untuk menyimpan foto, video, aplikasi, dan konten digital, termasuk konten AI yang mulai banyak digunakan.
Faktor kualitas produk juga menjadi pertimbangan utama. NielsenIQ menegaskan bahwa brand perlu menyediakan produk dengan durabilitas tinggi, kualitas baik, dan kepercayaan brand yang kuat. Fenomena ini menunjukkan bahwa harga bukan lagi satu-satunya faktor keputusan pembelian, konsumen Indonesia semakin matang dalam mengevaluasi value for money.
Pasar Laptop Indonesia, Triangulasi Kuat ASUS, Lenovo, dan HP
Sementara pasar smartphone mendominasi perhatian, segmen laptop juga menunjukkan dinamika menarik. Data April 2025 menunjukkan bahwa Lenovo, ASUS, dan HP menguasai pasar laptop Indonesia dengan penawaran yang berbeda namun saling melengkapi. Lenovo mempertahankan posisi sebagai pilihan utama untuk produktivitas dengan seri ThinkPad dan IdeaPad, yang dikenal dengan bodi kokoh, keyboard ergonomis, dan fitur-fitur modern seperti layar IPS Full HD serta dukungan AI untuk efisiensi daya.
ASUS menawarkan fleksibilitas dengan solusi untuk semua segmen, dari pelajar hingga gamer. Seri VivoBook untuk pengguna yang butuh portabilitas dan performa stabil, sementara seri ROG (Republic of Gamers) hadir dengan spesifikasi tinggi untuk gamer dan pembuat konten. HP menghadirkan keseimbangan antara gaya dan kinerja melalui seri Pavilion, Envy, dan Spectre, menargetkan pengguna yang menginginkan desain elegan tanpa mengorbankan performa.
Di tingkat global, data Q3 2025 menunjukkan Lenovo memimpin pengiriman PC dunia dengan 19,4 juta unit dan pangsa pasar 25,5 persen, disusul HP dengan 15 juta unit (19,8 persen). Apple berhasil mengungguli ASUS dengan pengiriman 6,8 juta unit, mencerminkan semakin kuatnya minat konsumen terhadap PC premium yang menawarkan desain, performa, dan integrasi ekosistem yang mumpuni.
Data 2024 menunjukkan perkembangan pasar PC Indonesia dengan pertumbuhan 8,8 persen, mencapai 4,12 juta unit, naik dari 3,78 juta unit tahun 2023. Pertumbuhan ini didorong oleh permintaan dari segmen konsumen yang tumbuh 16,7 persen, meski segmen komersial turun 7,5 persen karena penghentian pengiriman Chromebook untuk pendidikan. ASUS menyalip Lenovo dengan pangsa pasar 23,6 persen dibanding 22,2 persen Lenovo di 2024.
PT Tera Data Indonusa (Axioo), pemain lokal, menargetkan peningkatan penjualan laptop sebesar 75 persen pada 2025, menunjukkan optimisme pemain domestik dalam menggarap pertumbuhan segmen ini.
Saluran Penjualan, Dominasi Offline yang Masih Kuat
Data penjualan tahun 2025 mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen pembelian HP di Indonesia masih dilakukan melalui saluran offline, seperti toko ritel fisik dan gerai multi-brand. Temuan ini mendorong produsen smartphone seperti Honor untuk menjadikan pengalaman langsung pelanggan sebagai strategi utama melalui Honor Experience Store.
Meskipun e-commerce terus berkembang dengan platform seperti TikTok Shop yang dinilai berpengaruh besar dalam membuka peluang penghasilan baru, dominasi ritel tradisional mencerminkan kepercayaan konsumen Indonesia yang lebih tinggi terhadap pengalaman langsung, melihat, memegang, dan mencoba produk secara fisik sebelum keputusan pembelian. Modern retailer (chain) menjadi semakin penting, khususnya untuk penjualan smartphone kelas mid-to-high, dengan pertumbuhan yang pesat di kota Tier 3.
Dinamika Kebijakan dan Tarif Impor
Lanskap regulasi juga mengalami perubahan signifikan yang berpotensi memengaruhi harga dan aksesibilitas gadget. Pemerintah akan melakukan intensifikasi tarif bea masuk untuk barang impor seperti HP dan elektronik sejalan dengan naiknya target penerimaan kepabeanan dan cukai APBN 2026 sebesar Rp336 triliun. Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan memproses intensifikasi ini untuk mengimbangi naiknya target penerimaan, meski penerimaan dari bea masuk secara keseluruhan diproyeksikan terkontraksi 5,7 persen akibat tarif resiprokal AS dan IEU CEPA.
Pembatasan impor atas barang elektronik dan telematika juga ditegaskan melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor 32/KM.4/2025, yang berlaku sejak 29 Agustus 2025. Kategori smartphone dan laptop termasuk dalam barang yang dibatasi impornya, dengan pemberlakuan pengawasan kepatuhan importir.
Optimisme dan Tantangan Memasuki 2026
Riset NielsenIQ mengindikasikan optimisme untuk pertumbuhan lanjutan di 2026 dengan patokan pertumbuhan positif di kuartal II dan III 2025. Namun, tantangan tetap nyata. Perilaku belanja konsumen Indonesia masih dalam mode berhati-hati dengan “basket size” konsumen yang masih kecil, artinya meskipun jumlah unit naik, nilai transaksi masih terbatas.
Tantangan penetrasi 5G yang lambat di luar kota besar, kekhawatiran privasi data terkait fitur AI, dan persaingan harga yang semakin tajam antara pemain lokal dan internasional akan terus membentuk dinamika pasar. Kolaborasi antara penyedia jaringan, manufacturer perangkat, dan developer konten menjadi kunci menciptakan pengalaman digital yang optimal bagi pengguna akhir.
Dengan momentum pertumbuhan positif, adopsi teknologi yang semakin inklusif, dan strategi pemasaran yang semakin sophisticated dari berbagai merek, pasar gadget Indonesia pada 2025 membuktikan bahwa negeri ini bukan sekadar pasar konsumen biasa, tetapi early adopter untuk inovasi teknologi global. Saat memasuki akhir tahun 2025 dan transisi ke 2026, konsumen Indonesia telah menunjukkan bahwa mereka siap untuk era digital yang lebih maju, dengan catatan bahwa akses yang terjangkau dan kepercayaan terhadap kualitas tetap menjadi fondasi keputusan pembelian mereka.



[…] laptop Indonesia tergolong dinamis. Merek global bersaing ketat dengan brand yang menargetkan segmen tertentu, mulai dari pelajar, […]