Jumat, April 3, 2026
spot_img
BerandaMarketRamadan 2026 di Tengah Dapur Panas & Harga Bahan Pokok Belum Juga...

Ramadan 2026 di Tengah Dapur Panas & Harga Bahan Pokok Belum Juga Jinak

Harga berbagai bahan pokok jelang Ramadan 1447 H/2026 bergerak naik terbatas, dengan anomali tajam pada cabai rawit merah dan harga Minyakita yang masih bertahan di atas HET, sementara beras relatif terkendali namun tetap mahal bagi rumah tangga rentan.

Konteks Ramadan 2026 & Tren Umum Harga

Ramadan 1447 H diperkirakan mulai pada 18–19 Februari 2026 sehingga periode 1–2 minggu sebelumya (awal–pertengahan Februari) menjadi fase klasik kenaikan permintaan pangan rumah tangga.

BPS mencatat komoditas yang berulang kali memicu inflasi di awal Ramadan 2021–2025 adalah daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit, sehingga lima komoditas ini menjadi fokus antisipasi tahun 2026.

Meski pemerintah mengklaim inflasi pangan Januari 2026 melandai dan pasokan nasional aman, tekanan harga tetap muncul di komoditas tertentu, terutama cabai dan minyak goreng rakyat.

Panel Harga Bapanas dan PIHPS Bank Indonesia menunjukkan pola yang sama, sebagian besar komoditas turun atau stabil, tetapi cabai rawit merah serta beras kualitas tertentu dan minyak goreng tetap tinggi di tingkat konsumen.

Cabai Rawit Merah, Di Atas HAP, Jadi Simbol Pedihnya Ramadan

Panel Harga Pangan Bapanas mencatat harga cabai rawit merah nasional di sekitar rentang Rp69–72 ribu per kilogram dalam sepekan pertama Februari 2026, jauh di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp57 ribu per kilogram.

Data PIHPS per 8 Februari 2026 bahkan menunjukkan rata-rata harga cabai rawit merah Rp72.500 per kilogram, bersama lonjakan bawang merah dan cabai jenis lain sebagai komoditas paling bergejolak di pasar tradisional.

Penelitian tentang fluktuasi harga komoditas hortikultura menyebut cabai sebagai komoditas dengan volatilitas tinggi, dipengaruhi cuaca, pola tanam, serta gangguan distribusi, dan kenaikan harga cabai berkontribusi nyata terhadap inflasi jangka pendek.

Studi sikap konsumen atas harga referensi cabai menunjukkan banyak rumah tangga sebenarnya masih bersedia membayar cabai rawit merah di atas harga acuan resmi, sehingga ketika pasokan terganggu, harga dapat bertahan tinggi tanpa segera mematikan permintaan.

Di tingkat rumah tangga, cabai rawit adalah salah satu penanda psikologis kesejahteraan: ketika harga cabai melonjak, narasi hidup makin pedas kembali mendominasi percakapan publik, terutama di perkotaan Jawa dan Sumatra.

Pengalaman pandemi dan periode 2018–2022 menunjukkan pola berulang: cabai menjadi komoditas yang paling sering naik-turun tajam, dan lonjakan jelang hari besar keagamaan hampir selalu muncul kembali meskipun ada intervensi pemerintah.

Minyakita, Turun Pelan, Masih Tertahan di Atas HET

Minyakita, program minyak goreng rakyat pemerintah, tetap belum kembali ke Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter menjelang Ramadan 2026.

Data Panel Harga Pangan yang dikutip Bloomberg Technoz menunjukkan harga Minyakita pada 3 Februari 2026 masih sekitar Rp17.254 per liter atau 9,9% di atas HET, sebelum bergerak turun ke kisaran Rp16.700 per liter, tetap sekitar 6–7% di atas batas resmi.

Bapanas dan BPS menyebut minyak goreng sebagai salah satu komoditas dengan level harga tinggi meski perubahan indeks pergerakan harganya relatif rendah, artinya harga cenderung macet di level atas meski tidak lagi melonjak tajam.

Kondisi ini membuka ruang distorsi, di satu sisi pemerintah menyalurkan bantuan pangan minyak goreng sebagai stimulus kuartal I 2026, namun di sisi lain rumah tangga non-penerima bantuan tetap menghadapi harga ritel yang jauh di atas HET.

Riset dan laporan kebijakan sebelumnya menunjukkan gangguan pasokan bahan baku, disparitas harga antara ritel modern dan tradisional, serta permainan margin di rantai distribusi sebagai faktor bertahannya harga minyak goreng di atas ketentuan pemerintah.

Dalam konteks Ramadan, ketika konsumsi gorengan dan makanan berminyak meningkat tajam, kombinasi harga minyak yang tinggi dan pendapatan riil yang stagnan berpotensi menekan kualitas gizi rumah tangga miskin karena mereka cenderung mengurangi komponen lauk dan sayur.

Beras, Produksi Naik, Harga Ritel Tetap Menggigit

Dari sisi pasokan, BPS yang dikutip Kementerian Pertanian mencatat produksi beras nasional sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton, naik lebih dari 13% dibanding tahun sebelumnya, dengan proyeksi tambahan produksi 6,23 juta ton pada Desember 2025–Februari 2026.

Data ini mengindikasikan bahwa secara agregat, stok nasional menghadapi Ramadan 2026 jauh lebih baik dibanding dua tahun sebelumnya, sehingga tekanan harga seharusnya dapat diredam lewat tata niaga dan intervensi yang tepat.

Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras yang semula dirancang untuk 2025 diperpanjang hingga 31 Januari 2026 guna memastikan harga beras tetap terkendali di awal tahun, dengan penyaluran melalui pasar rakyat, ritel modern, koperasi, dan Gerakan Pangan Murah.

Bapanas mencatat harga beras SPHP di awal Februari 2026 berada sekitar Rp12.400–12.500 per kilogram di tingkat konsumen, sedikit turun dibanding hari-hari sebelumnya, sementara beras kualitas medium dan premium tetap lebih mahal dan di beberapa wilayah masih di atas HET.

Laporan media keuangan dan riset sosial digital menunjukkan bahwa walaupun pasokan beras meningkat, keluhan warganet terhadap harga beras tetap mendominasi percakapan tentang kenaikan harga bahan pokok, dengan sentimen kuat dari kelompok menengah ke bawah yang merasa daya belinya terus tergerus.

Studi akademik tentang pengaruh harga beras dan cabai terhadap inflasi menegaskan bahwa dua komoditas ini memiliki peran dominan dalam menjelaskan variasi inflasi pangan di berbagai daerah, sehingga setiap kenaikan harga beras menjelang Ramadan memiliki efek langsung terhadap kesejahteraan rumah tangga miskin.

Kebijakan Pemerintah, Respons Publik, dan Risiko Ramadan 2026

Badan Pangan Nasional mengeklaim stabilitas harga pangan di awal 2026 sebagai “modal” memasuki Ramadan, lewat strategi penguatan pemantauan harga, penyaluran SPHP, bantuan pangan (beras dan minyak goreng), Fasilitasi Distribusi Pangan, dan Gerakan Pangan Murah di berbagai daerah.

Secara historis, BPS mengingatkan bahwa setiap awal Ramadan dalam lima tahun terakhir selalu diwarnai kenaikan harga bahan pangan tertentu, dan untuk tahun 2026 mereka secara spesifik menyebut beras, minyak goreng, dan cabai rawit sebagai komoditas yang harus diantisipasi sedini mungkin.

Di media sosial, pengalaman riset lembaga seperti Indef pada periode sebelumnya menunjukkan hampir seluruh percakapan warganet tentang harga pangan berisi keluhan, dengan lebih dari 70% keluhan diarahkan pada lonjakan harga beras, diikuti minyak goreng dan komoditas lain.

Polanya berulang menjelang Ramadan, timeline dipenuhi narasi belanja makin mahal dan menu sahur-buka harus dihemat, yang menandai geserannya konsumsi rumah tangga menuju bahan makanan lebih murah dan potensi penurunan kualitas gizi, terutama bagi kelompok rentan.

Di atas kertas, kombinasi produksi beras yang meningkat, inflasi pangan yang menurun pada Januari, dan intervensi Bapanas memberikan ruang optimisme bahwa lonjakan harga jelang Ramadan 2026 dapat diredam.

Namun di lapangan, gap antara HAP/HET dan harga riil untuk cabai rawit merah serta Minyakita, ditambah harga beras yang belum kembali ke level yang dirasakan normal oleh masyarakat, menandai bahwa Ramadan 2026 masih akan menjadi ujian bagi daya beli rumah tangga dan kecepatan respon kebijakan pangan pemerintah.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments