Kamis, April 16, 2026
spot_img
BerandaMarketTaruhan Baru di Ladang Tua, Strategi Pertamina Bidik 100 Ribu Barel Minyak...

Taruhan Baru di Ladang Tua, Strategi Pertamina Bidik 100 Ribu Barel Minyak per Hari

PT Pertamina (Persero) memasang target ambisius, menambah produksi minyak lebih dari 100 ribu barel per hari (bph) dengan mengandalkan optimalisasi lapangan tua dan inovasi teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) berbasis kimia di Blok Rokan dan lapangan-lapangan besar lain.

Langkah ini diposisikan sebagai salah satu kunci untuk menopang target lifting nasional yang terus dinaikkan pemerintah menuju 610 ribu bph pada 2026 dan sasaran jangka panjang 1 juta bph pada 2030.

Konteks Target Lifting Naik & Cadangan Menipis

Pemerintah telah menaikkan target lifting minyak dalam APBN 2026 menjadi sekitar 610 ribu bph, dari 605 ribu bph pada 2025, sebagai bagian dari peta jalan menuju 1 juta bph di 2030.

Di sisi lain, tingkat produksi aktual beberapa tahun terakhir berada di kisaran 580 ribu bph, sehingga tambahan produksi tahunan yang konsisten menjadi syarat mutlak untuk mengejar target tersebut.

Dalam situasi cadangan minyak konvensional yang menipis, pemerintah menjadikan BUMN migas seperti Pertamina sebagai ujung tombak eksplorasi cadangan baru sekaligus eksploitasi lapangan yang kian menua.

Pertamina merespons dengan dua jalur: mencari temuan cadangan besar (giant discovery) seperti di Jambi Merang, dan memaksimalkan sisa minyak di lapangan tua melalui teknologi EOR, termasuk skema injeksi kimia di Blok Rokan.

Strategi Hulu Pertamina, Dari Giant Discovery ke Lapangan Tua

Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini melihat prospek signifikan yang sedang menuju kategori giant discovery di wilayah kerja Jambi Merang, yang diharapkan menjadi salah satu penopang peningkatan produksi nasional dalam jangka menengah-panjang.

Selain itu, Pertamina juga menjajaki potensi migas nonkonvensional di wilayah kerja Rokan, meski aspek keekonomian dan biaya produksi masih menjadi tantangan utama.

Namun, tambahan produksi cepat yang dibutuhkan untuk mengerek lifting dalam beberapa tahun ke depan justru diharapkan datang dari lapangan-lapangan tua yang sudah lama berproduksi, seperti di Blok Rokan.

Oki menargetkan, optimalisasi lapangan tua melalui berbagai program EOR dapat menyumbang lebih dari 100 ribu bph tambahan produksi minyak dari major fields yang dikelola Pertamina.

Teknologi Kunci, Chemical EOR di Minas dan Blok Rokan

Setelah era injeksi steam (steam flood) yang legendaris di Lapangan Duri sejak dekade 1980-an, Pertamina kini beralih ke tahap baru, Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Minas, Blok Rokan.

Teknologi ini memanfaatkan bahan kimia seperti surfaktan dan polimer untuk menurunkan tegangan antarmuka dan meningkatkan mobilitas minyak, sehingga minyak yang sebelumnya terperangkap dapat mengalir menuju sumur produksi.

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) menargetkan injeksi chemical untuk proyek CEOR Minas dimulai pada akhir 2025, dengan proyeksi tambahan produksi sekitar 2.800 bph pada fase awal dan potensi pemulihan cadangan siap produksi sekitar 2 juta barel.

Kajian internal dan eksternal menunjukkan, bila pola injeksi diperluas ke ratusan pola (pattern), proyek CEOR ini bisa membuka peluang perolehan minyak lebih dari 800 juta barel dari Blok Rokan dan memperpanjang umur produksi lapangan tua tersebut.

Bagi Pertamina, CEOR di Minas menjadi milestone baru setelah kesuksesan steam flood di Duri, sekaligus uji pasar bagi teknologi EOR kimia skala besar di Indonesia.

Jika berhasil, model ini berpotensi direplikasi ke lapangan tua lain di dalam portofolio Pertamina, mendekatkan perusahaan pada target tambahan 100 ribu bph yang dibidik dari major fields.

Dimensi Risiko, Ekonomi Proyek, SDM, dan Tata Kelola

Meski menjanjikan, program EOR kimia di lapangan tua menyimpan sejumlah risiko: kebutuhan investasi yang tinggi, ketidakpastian respons reservoir, serta kompleksitas rantai pasok bahan kimia dan peralatan.

Studi mengenai efisiensi layanan pengeboran Pertamina menyoroti pentingnya transformasi organisasi, peningkatan produktivitas, dan penguatan manajemen risiko untuk mencapai operasi yang berkelanjutan di sektor berisiko tinggi seperti migas.

Pengalaman Pertamina dalam mengintegrasikan eks-karyawan Chevron di WK Rokan juga menunjukkan bahwa transisi budaya dan sistem kerja bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut internalisasi nilai, adaptasi terhadap pola operasi baru, dan penataan kembali proses bisnis.

Di tataran rantai pasok, berbagai kajian tentang Pertamina memotret perlunya pengendalian inventori, strategi operasi layanan, dan perbaikan kinerja logistik agar proyek-proyek migas, termasuk EOR, dapat dijalankan secara efisien dan memenuhi target waktu serta biaya.

Implikasi, Dari Ladang Tua ke Ketahanan Energi Nasional

Keberhasilan Pertamina mengangkat produksi tambahan 100 ribu bph dari ladang tua akan menjadi faktor penentu dalam upaya Indonesia mengurangi defisit minyak mentah dan memperkuat ketahanan energi di tengah tren penurunan produksi alamiah.

Dengan kombinasi strategi giant discovery seperti di Jambi Merang, pengembangan migas nonkonvensional di Rokan, dan eskalasi teknologi CEOR di Minas dan lapangan tua lain, Pertamina mencoba menutup kesenjangan antara target kebijakan dan realitas produksi di lapangan.

Namun, tanpa eksekusi yang disiplin, mulai dari pembiayaan, teknologi, manajemen risiko, hingga tata kelola dan kesiapan SDM, ambisi tambahan 100 ribu bph dari ladang tua berisiko berhenti sebagai jargon.

Dalam beberapa tahun ke depan, performa proyek EOR kimia di Blok Rokan akan menjadi barometer: apakah ladang-ladang yang menua masih bisa menjadi tulang punggung produksi minyak nasional, atau justru mengonfirmasi bahwa era minyak murah dari lapangan tua benar-benar sudah lewat.

Produksi Minyak Pertamina Saat Ini

PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding hulu Pertamina, mencatat produksi minyak saat ini sekitar 552-553 ribu barel per hari (bph) berdasarkan data terkini hingga akhir 2025.

Proyeksi produksi minyak PHE hingga akhir 2025 diperkirakan mencapai 559 ribu bph, naik 0,6% dari capaian 556 ribu bph pada 2024, didorong optimalisasi lapangan dan proyek baru. Produksi ini mencakup kontribusi domestik dan internasional, dengan fokus peningkatan lifting nasional.

Dalam konteks produksi gas. Secara keseluruhan, produksi migas PHE sepanjang 2025 rata-rata 1,03 juta barel setara minyak per hari (MBOEPD), terdiri dari 557 ribu bph minyak dan 2,76 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD) gas. Capaian ini mencerminkan upaya konsisten di tengah tantangan decline rate tinggi.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments