Sepanjang 2025, neraca perdagangan Indonesia memang tampak kinclong dengan surplus USD 41,05 miliar, tetapi di balik angka manis itu tersimpan beberapa anomali, komposisi migas–nonmigas yang timpang, perlambatan surplus di akhir tahun, dan ketergantungan yang masih tinggi pada komoditas mentah dan pasar tertentu.
Surplus neraca dagang Januari–Desember 2025 tercatat USD 41,05 miliar, naik sekitar USD 9–10 miliar dibanding 2024 yang di kisaran USD 31–31,3 miliar.
Nilai ekspor mencapai sekitar USD 282–283 miliar, sedangkan impor sekitar USD 241,9 miliar, sehingga surplus terbentuk dari selisih keduanya.
BPS merinci surplus tersebut berasal dari surplus nonmigas sekitar USD 60,75 miliar, sementara sektor migas justru defisit sekitar USD 19,70 miliar.
Contoh ilustratif, dari setiap USD 1 surplus neraca dagang, sekitar 1,5 dihasilkan sektor nonmigas, namun 0,5 tergerus oleh defisit migas.
Anomali utama dalam laporan BPS
Pertama, surplus besar, tapi disandera defisit migas. Secara kasat mata, narasi resmi menonjolkan surplus agregat USD 41,05 miliar, namun jarang digarisbawahi bahwa tanpa defisit migas hampir USD 20 miliar, surplus nonmigas sejatinya jauh lebih tinggi (sekitar USD 60,75 miliar).
Ini menandakan, jika struktur energi domestik masih rapuh, Indonesia tetap importir bersih BBM dan LPG. Defisit migas menggerus manfaat penuh dari keunggulan ekspor nonmigas (manufaktur, CPO, besi baja, dsb).
Anomali narasi yang terjadi adalah publik hanya disuguhi headline surplus rekor, sementara fakta bahwa neraca migas terus defisit puluhan miliar dolar berulang dari tahun ke tahun tidak ditempatkan sebagai masalah struktural yang mendesak ditangani.
Kedua, surplus tahunan naik, tetapi surplus akhir tahun menyusut. Beberapa pemberitaan menyoroti bahwa surplus kumulatif 2025 naik signifikan dibanding 2024.
Namun, data per bulan menunjukkan bahwa surplus neraca dagang Desember 2025 justru menyempit dibanding bulan-bulan sebelumnya, di sejumlah laporan disebut surplus bulanan Desember hanya di kisaran USD 2–3 miliar dan menurun dari surplus bulan-bulan pertengahan tahun.
Pola ini mengindikasikan momentum ekspor yang mulai melemah atau impor yang kembali menguat menjelang akhir tahun, misalnya untuk kebutuhan bahan baku dan konsumsi domestik.
Anomali pola yang ada adalah headline mengunci perhatian pada angka kumulatif tahunan yang besar, padahal tren di ujung tahun justru mengirim sinyal peringatan bahwa ke depan surplus bisa menipis bila pelemahan ekspor dan penguatan impor terus berlanjut.
Ketiga, ketergantungan tinggi pada komoditas primer. Kontributor utama ekspor nonmigas 2025 masih didominasi bahan bakar mineral, lemak dan minyak nabati (CPO), serta besi dan baja, dengan dukungan penting dari industri pengolahan berbasis komoditas tersebut.
Beberapa analisis bulanan sepanjang 2025 menunjukkan ekspor nonmigas sangat sensitif terhadap harga global komoditas, ketika harga batu bara, CPO, atau logam turun, nilai ekspor langsung tertekan.
Negara tujuan utama ekspor nonmigas tetap terkonsentrasi ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India, terhadap Tiongkok saja, nilai ekspor nonmigas mencapai puluhan miliar dolar dan terus meningkat.
Anomali struktur yang terjadi adalah surplus besar 2025 lebih mencerminkan durian runtuh komoditas dan konsentrasi pasar, bukan diversifikasi produk bernilai tambah tinggi atau pasar yang benar-benar tersebar.
Keempat, diskoneksi dengan kondisi pelaku industri domestik. Di level makro, ekspor industri pengolahan tercatat sebagai penyumbang terbesar nilai ekspor nonmigas (lebih dari USD 220 miliar).
Namun di lapangan, sejumlah sektor industri padat karya (tekstil, alas kaki, furnitur, elektronik konsumer) masih mengeluhkan pesanan ekspor yang belum pulih penuh, kompetisi dengan produk murah impor, dan tekanan biaya energi serta logistik.
Artinya, lonjakan ekspor banyak didorong kelompok produk tertentu (CPO, batu bara olahan, logam dasar, semikonduktor/komponen elektronik), bukan pemulihan merata di seluruh basis manufaktur.
Anomali persepsi, data agregat memberi kesan bahwa industri pengolahan sudah kuat dan kompetitif, tetapi kenyataannya beberapa subsektor manufaktur justru mengalami tekanan berat dan tertinggal dalam menikmati buah surplus ekspor.
Kelima, kualitas data publik yang fragmentaris dan tidak sinkron lintas sumber. BPS merilis angka resmi ekspor, impor, dan surplus sampai dua desimal, misalnya ekspor USD 282,21 miliar versus versi lain yang menyebut USD 282,91 miliar, selisih kecil ini muncul di berbagai kanal media dan institusi (media massa, lembaga riset, asosiasi).
Beberapa media menyebut surplus 2024 sebesar USD 31,04 miliar sementara yang lain menulis USD 31,33 miliar, sehingga memunculkan variasi dalam menghitung kenaikan surplus tahun 2025 (kadang di-claim naik USD 9,72 miliar).
Perbedaan angka ini mungkin berasal dari pembulatan, revisi data, atau metodologi (misalnya penyesuaian musiman, perubahan basis) yang tidak selalu dijelaskan secara lugas kepada publik.
Anomali teknis, artinya untuk sebuah angka yang sangat politis dan sering diklaim sebagai keberhasilan makro, transparansi mengenai revisi dan metodologi menjadi lemah, membuka ruang bias interpretasi dan framing yang terlalu optimistis.
Faktor pendorong surplus 2025
Kinerja ekspor nonmigas meningkat, terutama dari industri pengolahan dan sebagian sektor pertanian, dengan nilai ekspor nonmigas Januari–November 2025 saja sudah melewati capaian periode yang sama 2024 (naik lebih dari 5–7%).
Komoditas penggerak utama antara lain, minyak kelapa sawit dan turunannya, bahan bakar mineral, besi dan baja, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, serta semikonduktor dan komponen elektronik lainnya.
Dari sisi negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menyumbang porsi signifikan untuk ekspor nonmigas Indonesia, dengan tren kenaikan ke Tiongkok sepanjang 2025.
Di sisi impor, meski tumbuh, kenaikannya relatif lebih terukur dibanding ekspor sehingga selisih (net export) melebar dan tercermin sebagai surplus yang lebih besar.
Implikasi Kebijakan dan Rekomendasi
Perbaikan struktur energi, defisit migas puluhan miliar dolar menuntut percepatan hilirisasi migas domestik, program substitusi impor BBM dan LPG, serta percepatan transisi energi untuk mengurangi tekanan impor energi jangka menengah.
Diversifikasi ekspor, pemerintah perlu mendorong peningkatan porsi produk manufaktur bernilai tambah tinggi (elektronik, otomotif, farmasi, mesin) dan jasa, agar surplus tidak terlalu bergantung pada siklus harga komoditas global.
Perluasan pasar, memperdalam penetrasi ke Afrika, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Amerika Latin guna mengurangi konsentrasi risiko di Tiongkok, AS, dan beberapa pasar tradisional lain.
Transparansi data, BPS dan kementerian terkait perlu konsisten mengkomunikasikan revisi data, metodologi, dan perbedaan angka lintas publikasi supaya anomali teknis (angka berbeda untuk satu indikator) tidak memicu salah baca kebijakan.
Linkage ke industri domestik, surplus besar harus dikaitkan dengan kebijakan yang langsung memperkuat sektor riil dan UMKM, misalnya melalui program substitusi impor bahan baku tertentu, fasilitasi sertifikasi ekspor, dan dukungan logistik bagi pelaku kecil-menengah.


