Selasa, Mei 26, 2026
spot_img
BerandaMediaPengaruh Geopolitik & Perekonomian Akibat Konflik Iran–AS

Pengaruh Geopolitik & Perekonomian Akibat Konflik Iran–AS

Konflik Iran–Amerika Serikat sejak pertengahan 2025 hingga 26 Januari 2026 lebih banyak berperan sebagai premi risiko geopolitik yang fluktuatif, bukan sebagai pemicu lonjakan harga minyak jangka panjang, pasar justru kembali mendiskon skenario perang total sehingga Brent pada akhir Januari 2026 masih bertahan di kisaran pertengahan 60 dolar per barel, lebih rendah dibanding tahun sebelumnya meskipun ketegangan militer meningkat tajam.

Secara keseluruhan, hingga 26 Januari 2026, pengaruh perang Iran–AS terhadap harga minyak dunia lebih tercermin dalam volatilitas dan premi risiko jangka pendek, bukan dalam tren kenaikan harga yang berkepanjangan.

Brent dan WTI beberapa kali melonjak ketika terjadi serangan militer atau ancaman baru, tetapi cepat kembali turun karena pasar melihat kecilnya peluang penutupan Selat Hormuz dan adanya kelebihan pasokan global yang menekan harga dasar.

Yang justru mengemuka adalah paradoks: semakin keras retorika perang, semakin kuat insentif bagi kedua pihak untuk menghindari skenario yang benar-benar memukul aliran minyak, karena biayanya akan sangat besar bagi ekonomi global dan kelangsungan politik di kawasan.

Dengan demikian, hingga awal 2026, konflik Iran–AS berfungsi lebih sebagai bayangan yang terus menghantui pasar minyak, tetapi belum berubah menjadi badai besar yang mengguncang struktur harga secara permanen.

Eskalasi terjadi ketika serangan udara dan rudal AS ke wilayah Iran pada pertengahan 2025 menimbulkan kekhawatiran bahwa Teheran akan membalas dengan menutup atau mengganggu Selat Hormuz, jalur yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Harga minyak sempat melonjak sekitar 4 persen dalam satu sesi perdagangan segera setelah serangan dimulai, mencerminkan ketakutan pasar akan gangguan suplai besar-besaran di Teluk.

Namun, setelah beberapa hari, harga kembali turun karena analis menilai Iran tampaknya menghindari penutupan total Selat Hormuz, menyadari bahwa skenario itu akan memicu serangan balasan lebih besar dan bisa mengancam kelangsungan rezim sendiri.

Lembaga riset risiko politik memperkirakan bahwa skenario terburuk, serangan langsung ke fasilitas ekspor Iran atau penutupan selat, bisa mendorong Brent melonjak hingga kisaran 130 dolar per barel dan memangkas sekitar 0,8 poin persentase dari PDB global, tetapi skenario ekstrem ini tidak terwujud hingga akhir Januari 2026.

Harga Minyak, Naik Turun Premi Risiko Perang

Data harga menunjukkan bahwa pasar lebih sering memanfaatkan ketegangan Iran–AS untuk pergerakan jangka pendek ketimbang mengubah tren jangka panjang. Pada 25–26 Januari 2026, Brent bergerak di kisaran 65–66 dolar per barel, naik sekitar 6–7 persen dibanding sebulan sebelumnya, tetapi masih turun lebih dari 14–16 persen dibanding level setahun lalu.

Kenaikan dalam beberapa hari terakhir banyak dikaitkan dengan kekhawatiran pasokan akibat manuver militer AS di Timur Tengah dan tekanan sanksi baru terhadap Iran, bukan karena gangguan fisik yang nyata pada arus minyak.

Artikel analisis yang terbit pada Oktober 2025 bahkan menekankan bahwa pasar sedang menghadapi ancaman oversupply, dengan proyeksi penumpukan stok global sekitar 1,9 juta barel per hari pada 2025 dan bisa naik menjadi 2,1 juta barel per hari pada 2026, sehingga Brent berpotensi turun ke sekitar 62 dolar di akhir 2025 dan rata-rata 52 dolar pada 2026 jika tidak ada guncangan besar. Artinya, sekalipun ketegangan Iran–AS beberapa kali mengangkat harga secara temporer, fondasi pasar justru cenderung bearish karena kelebihan pasokan struktural dan pelemahan permintaan.

Sebagai ilustrasi, pada 14 Januari 2026, ketika Presiden Donald Trump menyatakan bahwa penumpasan demonstran di Iran dihentikan, pasar minyak justru merespons dengan menurunkan harga Brent sekitar 1–2 persen dan membawa WTI mendekati 62 dolar per barel, menghapus premi risiko yang terbentuk dalam beberapa pekan sebelumnya.

Reaksi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar menilai AS lebih memilih strategi tekanan ekonomi, misalnya ancaman tarif 25 persen terhadap negara yang berdagang dengan Iran, ketimbang opsi serangan militer besar yang bisa melumpuhkan jalur suplai.

Dimensi Struktur, Sanksi, Selat Hormuz, dan Kapasitas Iran

Sejak 2025, Washington menerapkan kembali doktrin maximum pressure versi baru terhadap Teheran, memperketat sanksi energi, mengancam mitra dagang Iran dengan tarif, dan mengerahkan gugus tempur kapal induk untuk menegaskan efek gentar di Teluk.

Di atas kertas, strategi ini mengarah pada dua konsekuensi, yaitu penurunan ekspor resmi Iran, tetapi juga peningkatan jalur ekspor bayangan melalui negara ketiga dan skema diskon besar ke pembeli seperti Tiongkok, India, dan Turki.

Data pelacakan tanker menunjukkan bahwa sepanjang 2025 Iran tetap mampu mengekspor sekitar 1,38 juta barel per hari, mendekati level tertinggi sejak sanksi dijerat kembali, menandakan bahwa sekalipun tekanan AS meningkat, arus fisik minyak Iran tidak terhenti total.

Fenomena ini membuat pasar melihat konflik Iran–AS lebih sebagai risiko harga yang bisa dikelola, karena suplai global masih tertolong oleh produksi tinggi dari AS, OPEC+, dan produsen non-OPEC lain.

Di sisi lain, laporan lembaga keamanan dan think-tank strategis menegaskan bahwa setiap upaya Iran menutup Selat Hormuz atau menyerang infrastruktur energi regional akan memicu respons militer besar dan berujung pada risiko eksistensial bagi rezim, sehingga opsi itu diperlakukan sebagai senjata terakhir.

Selama opsi ekstrem ini hanya digunakan sebagai ancaman, bukan tindakan, pasar akan terus menganggapnya sebagai noise yang menambah volatilitas tetapi jarang mengubah tren fundamental.

Dampak Makro Global, Inflasi dan Pertumbuhan

Sejumlah lembaga riset dan ekonom energi mensimulasikan bahwa jika konflik Iran–AS mengganggu beberapa juta barel per hari suplai kawasan Teluk, harga minyak bisa melonjak ke atas 100–130 dolar per barel dan mendorong inflasi global, terutama di negara importir bersih seperti di Eropa dan Asia.

Model Oxford Economics, misalnya, menunjukkan bahwa skenario gangguan parah di Selat Hormuz bisa memangkas sekitar 0,8 poin persentase dari PDB global, dengan tekanan terbesar pada ekonomi yang sensitif terhadap harga energi.

Namun hingga 26 Januari 2026, skenario ekstrem itu belum terjadi: harga yang bertahan di kisaran pertengahan 60 dolar per barel justru berada di bawah level puncak pasca-Covid beberapa tahun sebelumnya, sehingga tekanan inflasi energi relatif lebih jinak dibanding episode 2022–2023.

Beberapa penelitian terbaru juga menyoroti bahwa guncangan geopolitik seperti ancaman perang Iran–AS cenderung memperkuat keterkaitan risiko antara harga minyak dan nilai tukar, di mana negara importir minyak mengalami pelemahan kurs yang memperburuk efek inflasi ketika harga melonjak.

Dalam konteks ini, konflik Iran–AS memperbesar risiko tail event: pasar bergerak di rezim harga moderat, tetapi dengan probabilitas kecil terjadinya lonjakan tajam jika eskalasi keluar kendali.

Penelitian tentang negara petrostates bahkan menunjukkan bahwa penurunan pendapatan minyak bisa mendorong sebagian negara eksportir justru lebih agresif secara militer, sehingga hubungan antara harga rendah dan perdamaian tidak selalu linear.

Skenario Pasokan Minyak Jika Konflik Memburuk Hingga 2026

Ada tiga skenario besar pasokan minyak jika konflik Iran–AS memburuk hingga 2026. Pertama, konflik tetap terbatas dengan sanksi dan serangan terbatas. Kedua, ekspor Iran nyaris terhenti tetapi Selat Hormuz tetap terbuka, dan ketiga, skenario ekstrem penutupan atau gangguan berat di Selat Hormuz, masing‑masing punya dampak sangat berbeda terhadap pasokan fisik dan harga dunia.

Skenario pertama, ringan–menengah, konflik memburuk tapi terbatas. Dalam skenario ini, AS memperketat sanksi energi dan meningkatkan serangan terbatas ke target militer atau infrastruktur Iran, sementara Iran membalas melalui serangan drone/rudal dan aksi sabotase terbatas, tetapi keduanya menghindari blokade jalur pelayaran utama.

Pasokan global tertekan tetapi tidak runtuh: Iran mungkin kehilangan sebagian kapasitas ekspor resmi, namun ekspor bayangan ke Tiongkok dan pembeli lain tetap bertahan melalui diskon dan skema transit negara ketiga.

Laporan BloombergNEF memperkirakan pasar minyak pada 2026 memang sedang berada dalam posisi surplus struktural sekitar 3,2 juta barel per hari, sehingga sistem masih mampu menyerap gangguan moderate dari Iran tanpa berubah menjadi krisis pasokan global.

Dalam baseline tanpa gangguan besar, Brent diproyeksikan rata‑rata sekitar 52–55 dolar per barel pada 2026, tetapi jika konflik memburuk (tanpa memutus jalur Hormuz) harga bisa terdorong naik ke kisaran 70–90 dolar, menandai kenaikan “premi perang” yang signifikan tetapi masih jauh dari level krisis minyak historis.

Skenario kedua, berat, ekspor Iran hilang dan Hormuz tetap terbuka. Skenario yang lebih keras adalah jika kombinasi serangan dan sanksi membuat ekspor Iran hampir hilang dari pasar, sementara kapal dari produsen Teluk lainnya (Saudi, UAE, Kuwait, Irak, Qatar) masih bisa melewati Selat Hormuz. BloombergNEF menilai bahwa penghilangan total minyak Iran berpotensi mengubah surplus global 2026 menjadi defisit, bahkan jika OPEC+ tetap menaikkan kuota produksi.

Dalam konfigurasi ini, pasar akan mengandalkan kapasitas cadangan (spare capacity) utama dari Saudi dan beberapa anggota OPEC, yang menurut IEA diperkirakan naik dari sekitar 6 juta barel per hari pada 2024 menuju kisaran 8 juta barel per hari menjelang 2030, walau tidak semuanya langsung bisa dimobilisasi.

Analisis bank dan lembaga riset menunjukkan bahwa untuk menciptakan lonjakan harga yang bertahan lama, harus ada sejumlah besar pasokan yang hilang permanen, bukan hanya gangguan beberapa ratus ribu barel per hari.

Jika ekspor Iran (sekitar 1–1,5 juta barel per hari dalam beberapa tahun terakhir) benar‑benar hilang di 2026, surplus global sekitar 3,2 juta barel per hari akan menyempit tajam sehingga ruang bantalan pasar mengecil, Brent diperkirakan bisa bergerak ke zona 80–90 dolar, bahkan menyentuh sekitar 91 dolar per barel pada akhir 2026 dalam skenario disrupsi Iran yang cukup besar tapi masih di bawah skala krisis Hormuz.

Skenario ketiga, ekstrem, penutupan atau gangguan berat selat Hormuz. Tidak bisa dipungkiri, selat Hormuz adalah choke point utama yang dilalui sekitar 20 juta barel per hari minyak dan produk minyak, sekitar 20 persen konsumsi petroleum global dan sebagian besar kapasitas cadangan OPEC juga berada di balik jalur sempit ini.

Jika konflik memburuk sampai ke titik penutupan atau gangguan berat Hormuz (misalnya penambangan perairan, serangan rudal ke kapal tanker, atau blokade militer), dampaknya akan langsung terasa sebagai guncangan pasokan global, bukan lagi sekadar risiko harga.

Simulasi Oxford Economics menggambarkan bahwa jika arus minyak lewat Hormuz berkurang separuh selama sebulan, Brent bisa naik singkat ke sekitar 110 dolar per barel, sementara dalam skenario terburuk penutupan lebih parah harga bisa melesat hingga sekitar 130 dolar per barel dan memotong sekitar 0,8 poin persentase dari PDB global.

Goldman Sachs dan analis lain memperingatkan bahwa karena mayoritas kapasitas cadangan OPEC juga terjebak di balik Hormuz, penutupan selat akan membuat sabuk pengaman supply dunia ikut lumpuh, sehingga hampir tidak ada bantalan untuk menahan lonjakan harga dan kekurangan pasokan regional.

Dalam situasi seperti ini, negara‑negara importir besar (Tiongkok, India, Eropa) akan berebut kargo dari sumber lain, menimbulkan pola trade diversion, kargo dari Amerika, Afrika, dan Amerika Latin dialihkan ke Asia, sementara pembeli tradisional mereka harus mencari pasokan pengganti dengan biaya lebih tinggi. Stok strategis (SPR) di AS, Eropa, dan Tiongkok kemungkinan akan dilepas untuk menahan gejolak, tetapi efeknya hanya temporer jika konflik berlangsung lama.

Faktor Penyangga dan Risiko Tambahan 2026

Di tengah semua skenario ini, dua faktor penyangga penting di 2026 adalah, pertama proyeksi kelebihan pasokan global, dan yang kedua adalah kapasitas cadangan OPEC+. EIA dan analis independen memperkirakan bahwa tanpa shock besar, persediaan minyak dunia masih akan meningkat sekitar 2–3 juta barel per hari di 2026, memberi bantalan terhadap guncangan berskala kecil hingga menengah.

IEA juga memperkirakan bahwa kapasitas cadangan OPEC dapat meningkat, walaupun laporan terbaru menunjukkan revisi turun pada output OPEC+ 2025–2026 akibat sanksi terhadap Rusia dan Venezuela, yang sedikit mengurangi ruang manuver kolektif kartel dalam menghadapi krisis baru.

Di sisi lain, riset politik energi mengingatkan bahwa harga minyak rendah tidak otomatis membuat negara eksportir lebih damai; tekanan pendapatan justru bisa mendorong sebagian petrostates makin agresif secara eksternal untuk mengalihkan tekanan domestik.

Artinya, skenario 2026 mengandung paradoks, oversupply dan kapasitas cadangan besar memberikan bantalan teknis bagi pasokan, tetapi tekanan fiskal pada negara‑negara produsen bisa menjadi bahan bakar politik yang justru meningkatkan risiko konflik dan sabotase terhadap infrastruktur energi.

Secara ringkas, selama konflik Iran–AS tidak menutup Selat Hormuz dan tidak menghapus jutaan barel per hari dari pasar, surplus pasokan yang diproyeksikan 2026 masih cukup untuk mencegah krisis fisik, meski harga akan membawa premi risiko yang lebih tinggi.

Jika eskalasi menyentuh level penutupan Hormuz, hampir seluruh arsitektur pasokan minyak global, termasuk kapasitas cadangan OPEC, akan ikut terganggu, mendorong dunia masuk ke rezim harga tiga digit dan memaksa respons terkoordinasi dari produsen dan konsumen besar.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments