Kebangkrutan 10 perusahaan ikonik di AS sepanjang 2025 menunjukkan kombinasi racun antara inflasi berkepanjangan, perubahan perilaku konsumen pasca-pandemi, ledakan e-commerce lintas negara, dan lambatnya monetisasi teknologi baru. Fenomena ini menjadi cermin rapuhnya model bisnis lama yang terlalu bertumpu pada toko fisik, utang murah era suku bunga rendah, dan optimisme berlebihan pada narasi pertumbuhan teknologi tanpa fondasi profitabilitas.
Gelombang Kebangkrutan 2025
Sejak awal 2025, lebih dari 700 perusahaan di AS mengajukan kebangkrutan, dengan porsi signifikan berasal dari sektor consumer discretionary seperti ritel, restoran, dan gaya hidup. Tekanan suku bunga tinggi, inflasi, dan pelemahan permintaan rumah tangga menjadi kombinasi utama yang menggerus arus kas perusahaan-perusahaan ini.
Di antara ratusan kasus tersebut, 10 nama ikonik, mulai dari Joann hingga 23andMe dan Hooters, menonjol karena pernah menjadi simbol gaya hidup dan konsumsi kelas menengah Amerika. Kebangkrutan mereka memperlihatkan bagaimana perubahan struktural pasca-pandemi dan era suku bunga tinggi tidak lagi memberi ruang toleransi bagi model bisnis yang tidak adaptif.
Ritel Fisik Dihantam E-Commerce dan Utang
Joann, Forever 21, JC Penney, dan Joann Inc berada di garis depan krisis ritel fisik yang gagal bertransformasi secepat migrasi konsumen ke online. Joann mengajukan Chapter 11 pada Januari 2025 dengan beban utang lebih dari 600 juta dolar dan pada akhirnya menutup sekitar 800 toko serta mengakhiri sejarah panjang 82 tahun operasionalnya. Perusahaan ini tidak pernah pulih setelah lonjakan permintaan hobi rumahan di masa pandemi menghilang, sementara beban sewa dan biaya operasional tetap tinggi.
Forever 21 kembali bangkrut pada Maret 2025, kali ini dengan fokus restrukturisasi besar-besaran setelah sebelumnya juga pernah mengajukan pailit. Persaingannya dengan platform ultra-fast fashion seperti Shein dan Temu, yang menawarkan harga sangat murah melalui model impor langsung dari China, membuat konsep toko besar di mal menjadi semakin usang di mata konsumen muda. JC Penney, yang sudah lama dikategorikan sebagai bagian dari “retail apocalypse”, pada akhirnya tersapu arus yang sama, lalu lintas mal yang menurun, basis pelanggan menua, dan kegagalan menarik generasi baru melalui kanal digital.
Di sisi lain, beban utang masa lalu yang dibangun di era suku bunga rendah berubah menjadi jerat ketika biaya bunga melambung. Banyak perusahaan ritel ini memikul kombinasi utang obligasi dan beban sewa jangka panjang yang tidak fleksibel, sehingga setiap penurunan penjualan langsung memukul kemampuan bayar mereka.
Restoran, Inflasi Pangan dan Konsumen yang Menahan Diri
Sektor restoran cepat saji dan kasual, seperti entitas operasi Burger King tertentu di AS dan jaringan Hooters, menghadapi tekanan ganda, biaya input yang melonjak dan konsumen yang semakin sensitif terhadap harga. Inflasi harga pangan dan upah mendorong biaya produksi menu naik, sementara kelas menengah AS mulai mengurangi frekuensi makan di luar karena harga fast food tidak lagi dianggap murah.
Hooters menjadi salah satu contoh paling simbolik. Media bisnis AS mencatat jaringan ini sebagai salah satu merek besar yang mengajukan kebangkrutan sepanjang 2025, didorong lonjakan harga bahan baku, terutama sayap ayam, serta perubahan preferensi generasi muda yang kurang tertarik pada konsep restoran berbasis “gimmick gender” seperti Hooters. Di tengah meningkatnya kesadaran kesetaraan gender dan beralihnya konsumsi hiburan ke ranah digital, diferensiasi model bisnis Hooters kehilangan relevansi.
Kasus entitas Burger King di AS memperlihatkan pola serupa: struktur waralaba yang sangat terfragmentasi membuat sebagian operator lokal rentan terhadap lonjakan biaya sewa, tenaga kerja, dan bahan baku. Ketika pelanggan beralih ke opsi memasak di rumah atau mencari promosi agresif dari pesaing, arus kas restoran yang beroperasi di lokasi dengan sewa tinggi di kota besar menjadi sangat tertekan.
Farmasi, Hobi, dan Jejak Krisis Opioid
Rite Aid menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana beban hukum bisa menghancurkan neraca perusahaan sekaligus memaksa restrukturisasi melalui pengadilan. Perusahaan apotek besar ini mengajukan kebangkrutan dengan membawa masalah ganda: tekanan margin akibat perang harga obat resep melawan raksasa seperti Walmart dan Amazon Pharmacy, serta tagihan hukum dan potensi ganti rugi terkait ribuan gugatan krisis opioid.
Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan-perusahaan farmasi dan apotek di AS memang menghadapi gelombang gugatan yang menyalahkan praktik pemasaran dan distribusi obat penghilang rasa sakit yang memicu kecanduan.
Joann Inc, sebagai peritel perlengkapan kerajinan, mengalami “aftershock” pasca-pandemi yang khas. Booming proyek kerajinan dan DIY selama masa lockdown mendorong penjualan, tetapi lonjakan tersebut tidak berkelanjutan ketika aktivitas di luar rumah kembali normal.
Perusahaan keluar dari restrukturisasi pertama dengan beban utang masih besar, sementara pemasok mulai memperketat syarat pembayaran dan terjadi gangguan pasokan sehingga rak-rak toko sering kosong. Dengan biaya sewa sekitar puluhan juta dolar per bulan dan utang ratusan juta dolar, kegagalan mempertahankan volume penjualan membuat Joann tak punya ruang untuk bertahan.
Teknologi, Mobilitas, dan Runtuhnya Narasi Pertumbuhan
Di sektor teknologi, setidaknya tiga nama menggambarkan sisi gelap euforia inovasi, iRobot, Luminar Technologies, dan Nikola. iRobot, produsen “Roomba”, kehilangan momentum ketika rencana akuisisi oleh Amazon kandas karena regulator antimonopoli di AS dan Eropa semakin agresif menahan ekspansi raksasa teknologi.
Tanpa dukungan modal dan ekosistem Amazon, iRobot tersudut oleh serbuan produk robot vacuum asal China yang menawarkan fitur serupa dengan harga jauh lebih rendah, sebuah pola yang juga memukul banyak merek perangkat rumah tangga lain.
Luminar Technologies, pengembang sensor LiDAR untuk mobil otonom, menghadapi kenyataan pahit bahwa adopsi kendaraan otonom berjalan jauh lebih lambat dari narasi optimistis investor. Produsen otomotif global menunda penggunaan sensor mahal tersebut demi menjaga harga jual kendaraan tetap terjangkau di tengah pasar yang melambat dan konsumen yang sensitif harga.
Model bisnis Luminar yang bertumpu pada ekspektasi kontrak besar jangka panjang pun tercekik ketika pipeline pendapatan tidak kunjung terealisasi, sementara biaya R&D dan manufaktur tetap tinggi.
Nikola Corporation, yang pernah diposisikan sebagai pesaing Tesla di segmen truk listrik dan hidrogen, memasuki 2025 dengan warisan skandal masa lalu, kebutuhan investasi modal yang masif, dan pasar kendaraan listrik yang melambat.
Biaya produksi truk listrik dan infrastruktur hidrogen yang sangat mahal tidak sebanding dengan volume penjualan, sementara kepercayaan investor pada kemampuan perusahaan mencetak laba sudah tergerus. Di tengah suku bunga tinggi, pasar modal menjadi jauh lebih selektif terhadap perusahaan teknologi yang belum menghasilkan arus kas positif.
Sementara itu, 23andMe, yang pernah menjadi ikon demokratisasi tes DNA, menunjukkan sisi rapuh model bisnis berbasis satu kali transaksi. Perusahaan ini menghadapi basis pelanggan yang sudah jenuh, karena tes DNA umumnya hanya dilakukan sekali seumur hidup dan kesulitan mendorong pendapatan berulang yang cukup besar.
Selain itu, kekhawatiran publik terkait privasi dan keamanan data genetik meningkat, terutama setelah beberapa insiden dan perdebatan mengenai bagaimana perusahaan mengelola dan memonetisasi data DNA pelanggan.
E-Commerce Global, Tarif Baru, dan Lanskap Konsumen 2025
Lanskap konsumsi AS 2025 ditandai oleh pergeseran dramatis dari mal dan department store ke aplikasi belanja dan platform digital lintas negara. Platform seperti Shein dan Temu mendominasi segmen fast fashion dan barang murah berkat model pengiriman langsung dari China dengan memanfaatkan celah aturan impor kecil (de minimis), hingga pemerintah AS memperketat tarif dan regulasi di tengah perang dagang baru.
Bahkan ketika tarif baru mulai mengguncang model bisnis mereka, dampak awal tetap terasa berat bagi peritel tradisional yang sudah lebih dulu kehilangan pangsa pasar.
Laporan pasar menunjukkan bahwa konsumen AS pada 2025 semakin memadukan pencarian harga termurah dengan kenyamanan digital, sementara sensitivitas terhadap inflasi mendorong mereka memangkas pengeluaran non-esensial seperti makan di luar atau belanja mode di toko fisik.
Bagi perusahaan yang bertumpu pada pengalaman fisik di mal atau restoran, kombinasi kenaikan biaya dan menurunnya traffic menjadi pukulan telak, terutama ketika mereka tidak memiliki kanal digital yang kuat atau proposisi nilai yang berbeda jelas dari raksasa online.
Berikut 10 Perusahaan asal Amerika Serikat yang mengalami kebangkrutan sepanjang Tahun 2025.
|
No |
Perusahaan |
Keterangan |
| 1 | JC Penney (Ritel) | Raksasa department store legendaris ini mengajukan kebangkrutan pada Desember 2025. Perusahaan tidak mampu lagi menahan beban operasional toko fisik yang sangat besar di tengah sepinya pengunjung mal. |
| 2 | Luminar Technologies (Otomotif) | Pengembang sensor canggih untuk mobil otonom (LiDAR) ini bangkrut pada Desember 2025. Luminar menghadapi kenyataan pahit bahwa adopsi teknologi otonom berjalan lambat. |
| 3 | iRobot (Teknologi) | Produsen penyedot debu populer “Roomba” ini resmi bangkrut pada Desember 2025. Kehancuran iRobot dipicu oleh kegagalan rencana akuisisi oleh Amazon akibat hambatan regulasi antimonopoli. |
| 4 | Rite Aid (Farmasi) | Jaringan apotek besar ini mengajukan kebangkrutan pada Mei 2025 karena terjepit masalah ganda. Selain kalah dalam perang harga obat resep melawan pesaing raksasa seperti Walmart dan Amazon Pharmacy, kas keuangan Rite Aid terkuras habis untuk membayar biaya hukum dan denda terkait ribuan tuntutan hukum atas krisis opioid di Amerika Serikat. |
| 5 | Burger King (Restoran) | Salah satu entitas operasional Burger King di AS mengajukan perlindungan pailit pada April 2025. Bisnis restoran ini tertekan hebat oleh inflasi bahan baku pangan dan kenaikan upah pekerja. Di sisi lain, konsumen kelas menengah AS mulai mengurangi frekuensi makan di luar karena harga menu makanan cepat saji dinilai sudah tidak lagi ekonomis bagi kantong mereka. |
| 6 | Forever 21 (Fashion) | Peritel busana ini kembali masuk jurang kebangkrutan pada Maret 2025 karena kalah telak dalam persaingan melawan aplikasi belanja impor. Konsumen AS di tahun 2025 lebih memilih berbelanja pakaian murah lewat aplikasi ponsel seperti Shein dan Temu daripada mengunjungi gerai fisik di mal, menyebabkan penumpukan stok barang yang tak terjual. |
| 7 | 23andMe (Bioteknologi) | Perusahaan tes DNA yang sempat menjadi primadona pasar saham ini runtuh pada Maret 2025. Model bisnis mereka dinilai tidak berkelanjutan karena pelanggan hanya perlu melakukan tes DNA satu kali seumur hidup, sehingga tidak ada pendapatan berulang. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya kepercayaan publik pasca insiden keamanan data pelanggan. |
| 8 | Hooters (Restoran) | Jaringan restoran ikonik ini tercatat bangkrut pada Maret 2025. Perusahaan menghadapi tantangan berat berupa lonjakan harga bahan baku, terutama sayap ayam, serta perubahan demografi konsumen. Generasi muda AS saat ini dianggap kurang berminat dengan konsep restoran yang ditawarkan Hooters, menyebabkan penurunan omzet yang signifikan. |
| 9 | Nikola Corporation (Otomotif) | Produsen truk listrik dan hidrogen ini bangkrut pada Februari 2025 akibat krisis likuiditas parah. Biaya riset dan produksi truk listrik yang sangat tinggi tidak sebanding dengan pemasukan penjualan. Investor cenderung menahan pendanaan karena skeptis terhadap kemampuan perusahaan mencetak laba di tengah pasar kendaraan listrik yang melambat. |
| 10 | Joann Inc. (Hobi) | Peritel perlengkapan kerajinan tangan ini menjadi korban awal gelombang kebangkrutan pada Januari 2025. Perusahaan tidak mampu mempertahankan kinerja penjualan setelah berakhirnya tren hobi rumahan pasca-pandemi. Dengan beban utang masa lalu yang menumpuk dan daya beli konsumen yang melemah akibat inflasi, Joann gagal menyelamatkan operasionalnya. |
*Sumber Tabel: cnbcindonesia.com


