Pada Senin (12/1/2026), Bank Indonesia melaporkan angka yang sekilas tampak menggembirakan, Indeks Penjualan Riil (IPR) November 2025 mencapai 222,9 dengan pertumbuhan 6,3 persen year-on-year, tertinggi dalam sembilan bulan terakhir dan jauh lebih tinggi dari Oktober yang hanya 4,3 persen. Namun di balik jubah statistik yang memukau ini tersembunyi paradoks ekonomi yang mengkhawatirkan, sebuah anomali yang mengungkapkan ketidaksesuaian mendasar antara apa yang ditunjukkan angka dan realitas yang dialami oleh masyarakat.
Statistik menguntung, tapi realitas mencemaskan. Pertumbuhan IPR November 2025 sebesar 6,3 persen adalah anomali yang tidak bisa diabaikan. Pertumbuhan ini tertinggi dalam sembilan bulan, terlihat mengesankan dalam tabel, dan cukup untuk memberikan berita positif kepada publik. Namun, analisis mendalam mengungkapkan bahwa angka ini menyembunyikan serangkaian kontradiksi dan kekhawatiran struktural yang lebih dalam.
Pertama, pertumbuhan ini sebagian besar didorong oleh efek basis yang lemah (November 2024 hanya tumbuh 0,9 persen), bukan dari peningkatan penjualan yang absolut yang sangat signifikan. Kedua, pertumbuhan ini digerakkan oleh stimulus pemerintah yang musiman dan sementara, bukan oleh peningkatan daya beli organik masyarakat. Ketiga, meskipun penjualan ritel tumbuh, indikator sentimen dan keyakinan konsumen justru melemah, menunjukkan bahwa pertumbuhan ini rapuh dan tidak didasarkan pada fondasi keyakinan ekonomi yang kuat.
Yang paling mengkhawatirkan adalah fenomena rohana dan rojali, pengunjung yang ramai namun tidak membeli yang mencerminkan transformasi fundamental dalam perilaku konsumen Indonesia. Masyarakat datang ke mall, tetapi dengan niat yang berbeda, untuk hiburan, sosialisasi, atau sekadar memanfaatkan fasilitas publik, bukan untuk berbelanja. Perubahan psikologis ini, ketika dikombinasikan dengan tekanan ekonomi nyata (inflasi, rupiah yang melemah, pendapatan yang stagnan), menciptakan situasi di mana konsumsi tertarik, dipaksa keluar melalui stimulus, bukan konsumsi tercipta, tumbuh dari fondasi daya beli yang kuat.
Untuk pemerintah, anomali November 2025 adalah lampu peringatan. Stimulus telah membantu mencegah kontraksi penjualan, tetapi terbukti tidak cukup untuk mengubah tren yang lebih dalam. Jika pemerintah ingin menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif, diperlukan pendekatan yang lebih struktural: peningkatan pendapatan riil masyarakat, penciptaan lapangan kerja baru, dan stabilisasi makroekonomi (inflasi dan nilai tukar) yang lebih mendalam.
Dengan proyeksi pertumbuhan Desember yang melambat ke 4,4 persen dan ekspektasi inflasi yang meningkat di awal 2026, anomali November 2025 mungkin akan dikenang sebagai lonjakan sementara dalam perjalanan yang masih penuh tantangan, bukan awal dari kebangkitan konsumsi yang sesungguhnya.
Melompat Tajam, Fenomena Pertumbuhan Ritel yang Mencurigakan
Lonjakan pertumbuhan penjualan ritel sebesar 6,3 persen ini memang spektakuler jika diukur dari pergerakan bulan ke bulan. Namun, ketika dilihat dalam konteks perjalanan ekonomi Indonesia selama 2025, angka ini justru menceritakan kisah yang lebih kompleks dan mencemaskan.
Sepanjang tahun 2025, sektor ritel menghadapi perjuangan yang berkelanjutan. Pada April, bertepatan dengan libur Lebaran, penjualan ritel mengalami kontraksi sebesar 5,1 persen secara bulanan dan hanya tumbuh 0,3 persen secara tahunan, praktis stagnan. Dari periode tersebut hingga Oktober, pertumbuhan tahunan hanya berkisar antara 3,5 hingga 4,3 persen, mencerminkan momentum yang lambat dan konsumsi rumah tangga yang terbatas. Kemudian tiba November 2025 dengan lompatan tiba-tiba ke 6,3 persen, meningkat hampir 50 persen dibanding bulan sebelumnya.
Logika bertanya dengan sendirinya, apa yang menggerakkan perubahan drastis ini? Apakah ini pertumbuhan organik yang berkelanjutan, ataukah sekadar spike musiman yang dipicu oleh persiapan perayaan Natal dan Tahun Baru?
Data perbandingan tahunan memberikan petunjuk penting. Pada November 2024, IPR terukur pada 209,7 dengan pertumbuhan yang sangat rendah, hanya 0,9 persen year-on-year, hampir dua pertiga lebih rendah dari pertumbuhan November 2025. Artinya, basis perbandingan tahun lalu sangat lemah, menciptakan efek lompatan matematis yang besar namun belum tentu mencerminkan kebangkitan ekonomi yang sesungguhnya. Ini adalah apa yang disebut sebagai “base effect,” lonjakan pertumbuhan yang sebagian besar berasal dari dampak perbandingan dengan periode yang sangat lemah sebelumnya, bukan dari peningkatan penjualan yang absolut.
Kesenjangan Data, Ketika Optimisme Statistik Bertabrakan dengan Realitas Pasar
Anomali pertumbuhan November 2025 semakin dalam jika dilihat dari perspektif sentimen konsumen. Bank Indonesia mencatat bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 turun menjadi 123,5 dari 124,0 pada November. Ini berarti saat penjualan ritel mencapai puncaknya dalam sembilan bulan, kepercayaan konsumen malah melemah sebuah inversi yang tidak seharusnya terjadi dalam kondisi ekonomi normal.
Lebih lanjut, dari enam sub-indeks utama yang membentuk IKK, sebagian besar mengalami penurunan. Pandangan konsumen terhadap tingkat pendapatan saat ini turun 1,3 poin menjadi 123,5 pada Desember, prospek ekonomi turun 1 poin menjadi 135,6, dan persepsi kondisi ekonomi saat ini turun 0,1 poin menjadi 111,4. Meskipun indeks masih berada di zona optimis (di atas 100), tren penurunan ini mengindikasikan keyakinan yang semakin rapuh.
Kontradiksi ini mengungkapkan sesuatu yang fundamental, pertumbuhan penjualan ritel tidak digerakkan oleh optimisme konsumen yang mendalam atau peningkatan kapabilitas belanja riil, melainkan oleh fenomena lain yang lebih sementara dan superfisial.
Fenomena Rohana dan Rojali, Ketika Mall Ramai Tapi Tanpa Transaksi
Untuk memahami anomali ini, diperlukan investigasi ke lapangan. Dan di sana, ditemukan sebuah fenomena sosial ekonomi yang telah menjadi “barometer psikologis” kesejahteraan masyarakat, Rohana dan Rojali.
Rojali adalah singkatan dari rombongan jarang beli, sekelompok pengunjung yang datang ke pusat perbelanjaan dalam jumlah besar tetapi hanya berjalan-jalan, melihat-lihat, berfoto untuk media sosial, atau memanfaatkan fasilitas gratis seperti Wi-Fi, pendingin ruangan, dan area food court, namun sangat jarang atau tidak sama sekali melakukan pembelian. Rohana, pasangan mereka, dipahami sebagai rombongan hanya nanya-nanya atau rombongan hanya nongkrong, pengunjung yang hadir untuk pengalaman sosial bukan konsumsi.
Sepanjang 2025, fenomena ini telah merebak dengan intensitas yang mencerminkan krisis daya beli yang sesungguhnya. Data dari Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) menunjukkan bahwa jumlah pengunjung mall meningkat sebesar 10 persen pada semester pertama 2025. Namun, lonjakan pengunjung ini tidak berbanding lurus dengan peningkatan transaksi penjualan. Malahan, fenomena rohana dan rojali justru menceritakan kisah penyimpangan, mal ramai, energi hidup terasa ada, tetapi omset tenant stagnan.
Direktur Ekonomi Digital dari Center of Economic and Law Studies (Celios), menggambarkan 2025 sebagai “titik kelam pusat perbelanjaan” yang dipicu oleh merosotnya daya beli masyarakat. Dia menekankan bahwa masalah bukanlah pada harga atau promosi, melainkan pada kapabilitas ekonomi nyata masyarakat yang terus melemah. “Ketika pendapatan masyarakat turun, mereka tidak mampu untuk beli barang,” ujarnya.
Pergeseran perilaku belanja ini tercermin dalam pola yang semakin nyata, konsumen datang ke toko fisik untuk membandingkan produk, mencoba ukuran, atau melihat kualitas secara langsung, tetapi kemudian melakukan pembelian di platform e-commerce yang menawarkan harga lebih kompetitif. Fenomena ini menunjukkan rasionalisasi ekstrem dari konsumen kelas menengah yang mengalami tekanan ekonomi, dan pada gilirannya menciptakan apa yang disebut “retail paradox,” keramaian tanpa profit.
Stimulus Pemerintah, Paket Besar Tapi Efek Terbatas
Mengapa pertumbuhan ritel mencapai puncak November 2025 padahal daya beli dan optimisme konsumen justru melemah? Jawabannya terletak pada intervensi aktif pemerintah.
Sejak kuartal ketiga 2025, pemerintah meluncurkan serangkaian stimulus ekonomi yang dirancang untuk mendorong konsumsi. Paket Q4 2025 mencakup insentif pajak penghasilan (PPh 21) untuk sektor pariwisata dan padat karya, bantuan pangan berkelanjutan, diskon untuk transportasi massal menjelang Natal dan Tahun Baru, serta dukungan untuk event belanja seperti Harbolnas yang diproyeksikan menghasilkan transaksi hingga Rp35 triliun.
Upaya pemerintah ini memang tidak sia-sia. Stimulus telah membantu menjaga momentum ekonomi dan mencegah kontraksi yang lebih parah. Konsumsi rumah tangga pada kuartal IV 2025 diperkirakan akan tumbuh sekitar 4,98 persen year-on-year, hasil dari kombinasi stimulus fiskal, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia, dan insentif musiman.
Namun, efektivitas stimulus ini memiliki batasan. Ketika fenomena rohana dan rojali masih marak pada akhir tahun 2025, seiring dengan pertumbuhan ritel yang tertinggi, ini menunjukkan bahwa stimulus telah berhasil mendorong kunjungan dan aktivitas, tetapi gagal mengkonversi momentum itu menjadi peningkatan pembelian yang substansial. Dengan kata lain, stimulus telah membuat “anggaran psikologis” masyarakat mencukupi untuk keluar rumah dan mengunjungi mal, tetapi tidak cukup untuk mengisi keranjang belanja mereka.
Konteks Inflasi dan Rupiah, Tekanan Eksternal yang Berkelanjutan
Untuk memahami mengapa kapabilitas belanja riil tetap terbatas meski ada stimulus, diperlukan pemahaman tentang konteks makroekonomi yang lebih luas.
Tingkat inflasi Indonesia pada Desember 2025 mencapai 2,92 persen year-on-year, tertinggi sejak April 2024. Meskipun masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia (1,5-3,5 persen), tren peningkatan inflasi ini menciptakan tekanan pada daya beli riil masyarakat. Pendorong utama adalah kelompok makanan dengan inflasi 1,66 persen, yang menyumbang 0,48 persen terhadap total inflasi keseluruhan.
Di sisi lain, rupiah mengalami tekanan berkelanjutan. Awal Desember 2025, nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp16.650 per dolar Amerika, melemah dari level yang lebih kuat sebelumnya. Tekanan ini berasal dari ketidakpastian ekonomi global dan dampak antisipasi dari kebijakan perdagangan Amerika yang tidak stabil. Rupiah yang melemah berarti harga produk impor menjadi lebih mahal, dan efek ini merambat ke inflasi harga barang-barang konsumsi baik domestik maupun impor.
Dengan kombinasi inflasi yang meningkat dan rupiah yang melemah, daya beli riil masyarakat mengalami erosi berkelanjutan. Produk yang sama akan memakan porsi lebih besar dari anggaran konsumen, memaksa masyarakat untuk memprioritaskan kebutuhan dasar dan mengurangi belanja untuk barang-barang diskresioner.
Ekspektasi yang Semakin Suram, Proyeksi Ramadan dan Desember
Meskipun November 2025 mencatat pertumbuhan yang terkesan kuat, proyeksi ke depan menunjukkan perlambatan yang sudah terlihat jelas. Bank Indonesia memproyeksikan IPR Desember 2025 akan tumbuh sebesar 4,4 persen year-on-year, turun hampir 30 persen dari pertumbuhan November. Ini adalah sinyal pertama yang kuat bahwa lonjakan November kemungkinan besar adalah spike musiman yang terkait dengan persiapan Natal dan Tahun Baru, bukan perubahan struktural dalam pola konsumsi.
Lebih jauh ke depan, Bank Indonesia memproyeksikan bahwa tekanan inflasi akan meningkat pada Februari 2026, diproyeksikan mencapai 168,6 pada Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH), naik dari 163,2 pada periode sebelumnya. Peningkatan ekspektasi inflasi ini didorong oleh antisipasi kenaikan harga menjelang periode Ramadan 1447 H, yang akan memicu kenaikan harga bahan baku, upah, dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
Dengan kata lain, meskipun pemerintah berhasil mendorong konsumsi pada November-Desember melalui stimulus musiman, efek tersebut diproyeksikan akan meredam signifikan pada kuartal pertama 2026 ketika masyarakat menghadapi tekanan inflasi dan pengurangan stimulus.
Membedah Pertanyaan yang Belum Terjawab
Anomali pertumbuhan IPR November 2025 mengungkapkan beberapa pertanyaan krusial tentang kesehatan ekonomi Indonesia. Pertama, seberapa berkelanjutan adalah pertumbuhan ritel yang didorong oleh stimulus? Ketika stimulus mulai dikurangi atau berakhir, akan terjadi apa pada penjualan ritel? Data menunjukkan bahwa pertumbuhan organik (tanpa stimulus) telah berada di sekitar 3,5-4,3 persen sepanjang tahun 2025, jauh lebih rendah dari 6,3 persen November. Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa stimulus telah menciptakan semacam “artificial demand” yang akan memudar.
Kedua, apakah fenomena rohana dan rojali adalah gejala sementara atau indikasi perubahan struktural dalam pola konsumsi? Para analis melihat ini sebagai cerminan dari transformasi yang lebih dalam: dari mal sebagai pusat perdagangan tradisional, menjadi ruang publik multifungsi di mana orang datang untuk hiburan, sosialisasi, dan konten media sosial, bukan hanya untuk berbelanja. Jika ini adalah tren struktural, maka model bisnis retail tradisional memerlukan overhaul fundamental.
Ketiga, bagaimana pemerintah seharusnya merespons ketika indikator pertumbuhan penjualan ritel naik tetapi indikator keyakinan konsumen turun? Ini menunjukkan bahwa tidak ada satuan pengukuran tunggal yang bisa digunakan untuk menilai kesehatan konsumsi. Diperlukan analisis multidimensional yang mempertimbangkan tidak hanya pertumbuhan nominal penjualan, tetapi juga kualitas pertumbuhan tersebut (apakah berkelanjutan atau musiman), komposisi demografi konsumen (apakah segmen mana yang menurun atau naik), dan distribusi pendapatan.
Keempat, seberapa dalam adalah krisis daya beli yang tersembunyi di balik statistik pertumbuhan positif? Fenomena rohana dan rojali menyarankan bahwa sebagian signifikan dari masyarakat mengalami tekanan ekonomi yang cukup berat untuk mengubah perilaku belanja mereka secara fundamental. Namun, masih belum ada data komprehensif tentang tingkat penetrasi fenomena ini atau demografi pastinya dari kelompok ini.


