Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2025, Indonesia menghadapi paradoks yang mengguncang sektor pariwisata nasional, saat momentum libur akhir tahun seharusnya membawa berkah ekonomi bagi jutaan pengusaha pariwisata, cuaca ekstrem justru mengubah landscape industri ini secara dramatis. Bukan hanya tentang destinasi wisata yang ditutup atau pembatalan reservasi lebih dari itu, terdapat narasi kompleks tentang bagaimana perubahan iklim menciptakan ketidakpastian struktural bagi ekonomi Indonesia yang mengandalkan sektor ini.
Data terbaru menunjukkan situasi yang semakin kritikal. Hingga 23 Desember 2025, bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera telah menelan 1.112 nyawa, dengan 176 orang masih hilang dan 498.447 jiwa mengungsi. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, mereka menceritakan kisah transformasi dramatis tentang bagaimana cuaca ekstrem telah menghancurkan infrastruktur transportasi, akomodasi, dan operasional pariwisata dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia.

Cuaca Ekstrem Desember 2025, Konvergensi Empat Fenomena Atmosfer Tanpa Preseden
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi empat fenomena atmosfer yang berkonvergensi secara simultan pada akhir tahun 2025, menciptakan kondisi cuaca ekstrem yang lebih intens dibandingkan proyeksi awal. Pertama, Monsun Asia menguat dengan membawa massa udara lembap dari Samudra Hindia, menyebabkan hujan intens di wilayah barat dan tengah Indonesia. Kedua, transisi ENSO menuju kondisi La Niña lemah (anomali -0,66 hingga 0,0) meningkatkan suplai uap air di kawasan maritim Indonesia secara signifikan.
Ketiga, gelombang atmosfer ekuatorial termasuk Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Rossby berada dalam fase aktif di atas Indonesia, menciptakan pembentukan awan konvektif dalam skala luas. Fenomena keempat adalah potensi pembentukan siklon tropis, dengan BMKG mendeteksi tiga bibit siklon tropis (Bakung dengan kecepatan angin 60 knot, Bibit Siklon 93S, dan 95S) mengelilingi wilayah Indonesia pada periode 16-22 Desember 2025.
Ketika keempat fenomena ini menguat pada periode yang berdekatan, potensi hujan lebat hingga cuaca ekstrem meningkat drastis dengan dampak meluas ke seluruh wilayah Indonesia. BMKG memproyeksikan curah hujan tinggi hingga sangat tinggi (300-500 milimeter per bulan) di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan. Puncak musim hujan di wilayah Sumatra (kecuali Bengkulu dan Lampung) diperkirakan terjadi pada Desember 2025 ini, menciptakan timing yang paling mengancam untuk sektor pariwisata.
Bencana Bertubi-Tubi, Ketika Industri Wisata Terpaksa Berhenti
Cuaca ekstrem teramat tidak pernah hanya tetap dalam ranah meteorologi. Pada akhir November 2025, banjir bandang yang dipicu hujan ekstrem melanda wilayah Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh, menciptakan salah satu bencana hidrometeorologi terparah dalam dekade terakhir Indonesia. Bencana ini tidak terjadi tiba-tiba, ia adalah hasil dari konvergensi sempurna antara intensitas hujan ekstrem, topografi yang curam, dan degradasi lingkungan dari deforestasi berkelanjutan.

Data BNPB menunjukkan distribusi dampak yang tidak merata namun terkonsentrasi di wilayah-wilayah yang juga menjadi hub pariwisata regional. Sumatra Utara mencatat 283 korban meninggal dan 169 hilang dengan ribuan rumah rusak, sementara Aceh menanggung 156 meninggal dan 181 hilang, angka-angka yang mencerminkan intensitas banjir yang luar biasa. Sumatra Barat, meski dengan jumlah korban sedikit lebih rendah (165 meninggal, 114 hilang), juga mengalami kerusakan infrastruktur masif yang memutus akses jalan ke sejumlah destinasi wisata.
Bersamaan dengan bencana banjir, Gunung Semeru mengalami erupsi signifikan pada 19 November 2025, naik status menjadi Level IV (Awas) dengan awan panas meluncur lebih dari 13 kilometer. Erupsi ini memaksa evakuasi 1.156 warga dari kawasan sekitarnya, termasuk para wisatawan yang sedang berada di area dengan akomodasi terbatas. Gempa bumi berkekuatan 5,0 di Nias Selatan pada 2 Desember 2025 dan tanah longsor di Bandung pada 5 Desember 2025 semakin menambah daftar bencana yang mengguncang infrastruktur pariwisata nasional.
Dampak Langsung Destinasi Wisata Tutup, Pelayaran Terganggu, Penerbangan Terancam
Dampak cuaca ekstrem terhadap sektor pariwisata tidak bersifat abstrak. Pada 20 Desember 2025 tepat pada awal libur akhir tahun ketika jutaan wisatawan merencakan kunjungan kawasan wisata pemandian air panas Guci di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, tertimpa banjir bandang yang menggerus fasilitas utamanya. Kolam pemandian air panas Pancuran 13 Guci, yang merupakan ikon utama destinasi ini dan biasanya mengalami peningkatan kunjungan signifikan menjelang Natal, terpaksa ditutup untuk pembersihan dan perbaikan.
Kerusakan material mencakup robohnya tugu Guci bersejarah dan rusaknya parah pipa saluran air panas yang mendistribusikan sumber geothermal ke hotel-hotel dan penginapan sekitarnya. Meski tidak ada korban jiwa berkat evakuasi tertib, penutupan ini berdampak langsung pada okupansi hotel dan penginapan di kawasan Guci selama periode paling menguntungkan tahun ini. Pengelola wisata memperkirakan pembukaan kembali akan memerlukan waktu perbaikan yang cukup signifikan.
Pengendalian cuaca ekstrem juga memaksa penutupan destinasi wisata lain yang lebih besar dalam skala. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) di Lombok mengumumkan penutupan sementara enam jalur pendakian resmi mulai 1 Januari hingga 31 Maret 2026. Alasan resmi adalah mitigasi risiko bencana hidrometeorologi dan pemulihan ekosistem, tetapi keputusan ini dibuat dalam konteks cuaca ekstrem yang sedang berlangsung. Booking penutupan ditetapkan pada 28 Desember 2025, pukul 23.59 WITA, dengan check-in terakhir pada 31 Desember 2025 dan check-out pada 3 Januari 2026.
Imbauan BMKG kepada operator pariwisata bahari di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, mencerminkan tingkat kekhawatiran terhadap potensi bahaya cuaca ekstrem. Wisata bahari dan pelayaran diimbau meningkatkan kewaspadaan saat hujan lebat dan angin menguat, sementara pengguna rute laut tetap diminta memantau informasi cuaca terkini dari BMKG.
Gangguan Transportasi, Jantung Industri Pariwisata Terguncang
Sementara destinasi wisata mengalami penutupan, sektor transportasi yang merupakan vena kehidupan industri pariwisata, menghadapi gangguan serius. Pada periode Desember 2025 hingga Januari 2026, BMKG memprediksi pertumbuhan awan Cumulonimbus di sejumlah rute penerbangan kritis untuk pariwisata Indonesia. Rute penerbangan yang diidentifikasi sebagai berpotensi terdampak meliputi Laut Natuna, Selat Karimata bagian selatan, Selat Makassar, Laut Sulawesi, Laut Banda, dan Papua bagian utara pada Desember 2025.
Gelombang laut dengan kategori sedang (1,25-2,5 meter) diprakirakan terjadi di beberapa lokasi strategis, menciptakan risiko serius bagi wisata bahari dan penyeberangan antar pulau. Pembatalan penerbangan mulai terjadi beberapa jam sebelum jadwal keberangkatan, seperti yang dilaporkan dari Sumatera Barat, saat cuaca ekstrem memaksa otoritas penerbangan mengutamakan keselamatan penerbang atas kenyamanan jadwal.
Respons logistik menunjukkan betapa berat beban bencana pada sistem transportasi. BNPB melaporkan bahwa pemerintah telah mendistribusikan rata-rata 100 ton logistik per hari untuk masyarakat terdampak melalui penerbangan militer dari Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta. Sejauh ini, pemerintah telah mengirimkan 1.266 ton logistik ke wilayah Sumatera terdampak, dengan pengiriman dioptimalkan melalui sortie penerbangan militer dan jalur darat yang masih dapat diakses. Citilink sendiri telah mengangkut 13 ton bantuan untuk korban banjir Sumatera dengan rute Jakarta-Kualanamu menggunakan pesawat Airbus A320.
Dampak Ekonomi Pariwisata: Pergeseran Spatial dan Pembatalan Reservasi
Saat cuaca ekstrem mengguncang destinasi tertentu, sektor pariwisata mengalami pergeseran spatial yang dramatis, wisatawan yang semula merencanakan liburan di satu tempat terpaksa mengalihkan ke destinasi lain. Fenomena ini terjadi paling nyata antara Bali dan Yogyakarta menjelang liburan Natal dan Tahun Baru 2025.
Bali, pulau yang biasanya menjadi magnet utama wisatawan internasional dan domestik, mengalami pembatalan pemesanan yang signifikan menjelang Nataru. Anggota Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA) melaporkan adanya pembatalan mencapai 15 persen untuk periode liburan akhir tahun 2025. Tingkat okupansi vila anggota BVRMA diprediksi hanya berkisar 55 hingga 60 persen, angka yang jauh lebih rendah dari proyeksi normal untuk periode yang dianggap paling menguntungkan dalam industri pariwisata.
Penyebab pembatalan ini jelas: kekhawatiran akan banjir dan cuaca ekstrem. Ketika berita tentang banjir bandang di Sumatra dan imbauan BMKG tentang potensi cuaca buruk menyebar di media sosial dan platform pemesanan, wisatawan domestik dan internasional mulai membatalkan paket liburan Bali mereka. Bukan pertanyaan tentang apakah Bali akan benar-benar dilanda banjir—pertanyaannya adalah tentang risiko dan ketidakpastian dalam liburan yang sudah direncanakan berbulan-bulan sebelumnya.
Yogyakarta, sementara itu, memanfaatkan momentum ini. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengkonfirmasi bahwa banyak wisatawan yang awalnya merencanakan perjalanan ke Bali mengurungkan niat dan memilih Yogyakarta sebagai alternatif. Pada 22 Desember 2025, tingkat okupansi hotel di Yogyakarta telah mencapai 61 persen, dengan proyeksi melampaui target 80 persen untuk periode liburan. Deddy mengungkapkan optimisme bahwa target tersebut dapat tercapai, bahkan terlampaui, karena banyak wisatawan yang datang secara offline langsung ke hotel untuk memesan kamar tanpa reservasi sebelumnya.
Namun kesempatan ini disertai dengan peringatan etis. PHRI DIY menerapkan batas atas dan bawah untuk tarif kamar hotel selama liburan Nataru, dengan batas atas ditetapkan maksimal 40 persen di atas rate normal. Tujuannya adalah menjaga reputasi Yogyakarta sebagai destinasi wisata yang aman dan ramah bagi wisatawan, menghindari praktik “aji mumpung” (memanfaatkan momentum untuk untung semaksimal mungkin) yang dapat merusak citra jangka panjang.
Data okupansi nasional mencerminkan tekanan yang lebih luas pada industri pariwisata Indonesia sepanjang 2025. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada September 2025 mencapai 50,16 persen, mengalami penurunan 4,52 persen dibandingkan September 2024. Secara kumulatif Januari hingga September 2025, TPK hotel bintang mencapai 47,58 persen, turun 3,75 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Penurunan ini paling besar di Provinsi Aceh, Kalimantan Timur, dan Gorontalo wilayah-wilayah yang juga mengalami dampak bencana alam sepanjang 2025.
Kabupaten Sleman, sebagai salah satu hub pariwisata di Yogyakarta, mencatat kunjungan wisatawan turun 2,40 persen sepanjang 2025 dibandingkan tahun lalu. Penurunan ini dikombinasikan dengan dua faktor tekanan utama: kebijakan efisiensi anggaran dari Pemerintah Pusat dan kebijakan pelarangan karya wisata atau study tour oleh Pemerintah Daerah Jawa Barat yang diikuti pemda lain. Dampak ekonomi dapat dilihat dari pencapaian pajak hotel yang mencapai Rp132,519 miliar dari target Rp176,396 miliar, pajak restoran Rp159,977 miliar dari target Rp202,124 miliar, dan pajak hiburan Rp22,317 miliar dari target Rp26 miliar.
Konteks Global, Indonesia dalam Krisis Iklim Ekskalasinya
Untuk memahami dampak cuaca ekstrem pada pariwisata Indonesia secara komprehensif, penting menempatkannya dalam konteks global. Tahun 2025 telah menjadi salah satu tahun terburuk dalam hal bencana iklim global. Kerugian ekonomi dari sepuluh bencana iklim terbesar di dunia sepanjang 2025 diperkirakan melampaui USD 120 miliar (Rp1.800 triliun).
Dalam konteks ini, banjir dan longsor yang melanda Asia Tenggara dan Selatan pada November 2025 termasuk Indonesia menempati peringkat kedua berdasarkan kerugian ekonomi, dengan nilai USD 25 miliar dan 1.750 kematian di Thailand, Indonesia, Sri Lanka, Vietnam, dan Malaysia. Khusus untuk Indonesia, diperkirakan biaya rekonstruksi dari kerusakan akibat banjir di Sumatra melebihi USD 3 miliar, sebuah angka yang sangat signifikan untuk ekonomi negara berkembang dengan alokasi anggaran terbatas.
Fenomena ini bukan anomali acak. Organisasi Christian Aid memperingatkan bahwa bencana-bencana iklim ini bukanlah peristiwa alami biasa, tetapi hasil langsung dari amplifikasi perubahan iklim antropogenik. Perubahan iklim meningkatkan kemungkinan terjadinya kondisi cuaca ekstrem yang lebih dari sekedar probabilitas statistik, ia mengubah baseline normal menjadi situasi krisis yang berulang dengan periode yang lebih pendek.
Di sini muncul pertanyaan kritis yang sering terabaikan dalam narasi bencana: apakah dan bagaimana sektor pariwisata itu sendiri berkontribusi pada perubahan iklim yang menciptakan cuaca ekstrem ini? Hubungan ini bersifat dua arah dan kompleks.
Sektor pariwisata global menghasilkan sekitar 8-10 persen emisi karbon global, dengan Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas dengan destinasi wisata tersebar memiliki carbon footprint pariwisata yang tidak kecil. Transportasi udara untuk wisatawan internasional, akomodasi dengan konsumsi energi tinggi, dan aktivitas wisata di ekosistem sensitif seperti terumbu karang dan hutan hujan semuanya berkontribusi pada perubahan iklim global yang kemudian datang kembali sebagai cuaca ekstrem lokal.
Indonesia telah menetapkan target ambisius untuk pengurangan emisi di sektor pariwisata sebesar 50 persen pada 2030 dan mencapai nol emisi pada 2045 melalui inisiatif dekarbonisasi pariwisata. Namun, dalam waktu singkat Desember 2025, dampak dari dekade-dekade emisi tinggi sudah terasa sangat nyata dalam bentuk banjir, longsor, dan cuaca ekstrem yang menutup destinasi wisata.
Lebih spesifik, degradasi lingkungan dari pembangunan infrastruktur pariwisata yang tidak terencana dengan baik seperti pembukaan tempat pemandian air panas di kawasan hutan konservasi yang rawan bencana telah meningkatkan kerentanan wilayah terhadap bencana alam. Kementerian Kehutanan bahkan melakukan penutupan terhadap sejumlah tempat pemandian dan usaha ilegal di Taman Wisata Alam (TWA) Mega Mendung, Sumatra Barat pada Juni 2025, karena lokasi tersebut berada di kawasan hutan konservasi dengan risiko tinggi terhadap banjir bandang.
Fenomena ini menciptakan lingkaran setan, pariwisata berkontribusi pada perubahan iklim → perubahan iklim menciptakan cuaca ekstrem → cuaca ekstrem menghancurkan infrastruktur pariwisata dan ekosistem → perlunya rekonstruksi dan pemulihan ekosistem yang memerlukan sumber daya besar, termasuk dari sektor pariwisata itu sendiri.
Menjelang akhir 2025, gambaran yang muncul bagi sektor pariwisata Indonesia adalah satu ketidakpastian yang berlapis-lapis. Tidak lagi cukup hanya merencanakan kapasitas akomodasi, pemasaran destinasi, atau diversifikasi produk wisata. Operabilitas destinasi itu sendiri kini menjadi variabel yang tidak dapat diprediksi dengan pasti, bergantung pada dinamika atmosfer yang semakin ekstrem dan tidak linear.
Wisatawan internasional yang mempertimbangkan perjalanan ke Indonesia tidak hanya mempertimbangkan harga dan daya tarik destinasi, tetapi juga tingkat risiko cuaca ekstrem. Data kunjungan wisatawan mancanegara pada September 2025 mencapai 1,39 juta, naik 9,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya, namun tetap menghadapi ketidakpastian untuk periode-periode berikutnya.
Sektor pariwisata Indonesia perlu menghadapi fakta bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, ini adalah kondisi operasional saat ini. Investasi dalam infrastruktur tahan bencana, sistem peringatan dini yang responsif, dan asuransi pariwisata komprehensif menjadi keharusan, bukan pilihan. Pembatalan dan pergeseran spatial wisatawan, seperti dari Bali ke Yogyakarta bukanlah anomali satu kali, tetapi pattern yang akan terulang dengan intensitas dan frekuensi yang meningkat.
Cuaca Ekstrem Sebagai Pencetus Transformasi Fundamental
Dampak cuaca ekstrem akhir tahun 2025 terhadap sektor pariwisata Indonesia bukan sekadar tentang destinasi wisata yang ditutup sementara atau pembatalan reservasi yang bisa dipulihkan dalam musim berikutnya. Lebih dari itu, ia merupakan signal bahwa industri pariwisata Indonesia salah satu pilar ekonomi nasional, menghadapi transformasi fundamental yang dipicu oleh perubahan iklim.
Dengan 1.112 korban meninggal, 176 hilang, dan ratusan ribu pengungsi dari bencana hidrometeorologi akhir November 2025, kesehatan manusia dan ekosistem jauh lebih penting daripada pertimbangan ekonomi pariwisata. Namun, secara ekonomi, kerugian yang ditanggung industri pariwisata dari penutupan destinasi hingga pembatalan reservasi dan pergeseran spatial wisatawan mencerminkan biaya nyata dari perubahan iklim yang tidak lagi dapat diabaikan.
Cerita Bali yang kehilangan 15 persen pembatalan, Yogyakarta yang mendapat peluang emas, Gunung Rinjani yang ditutup untuk pemulihan ekosistem, dan Wisata Guci yang roboh semuanya adalah bukti bahwa cuaca ekstrem telah menjadi bagian dari realitas operasional sektor pariwisata Indonesia. Industri ini sekarang harus beradaptasi tidak hanya dengan perubahan preferensi wisatawan atau tren teknologi, tetapi dengan ketidakpastian fundamental tentang apakah destinasi wisata dapat beroperasi dengan normal pada musim tertentu dalam tahun.
Tanpa tindakan mitigasi perubahan iklim dan adaptasi struktural yang serius, proyeksi ekonomi pariwisata Indonesia untuk dekade mendatang akan terus didominasi oleh ketidakpastian cuaca ekstrem sebuah realitas yang jauh lebih menantang daripada persaingan pasar konvensional.


