Tahun 2025 menjadi periode yang penuh anomali bagi komoditas kedelai di Indonesia. Di satu sisi, pasar global sedang “banjir” pasokan akibat panen raya di Amerika Latin yang menekan harga internasional ke level terendah dalam beberapa tahun. Namun, di dalam negeri, perajin tahu-tempe sempat menjerit karena harga tak kunjung turun signifikan sepanjang semester pertama.
Mengapa anomali ini terjadi? Sesuai dengan data yang dihimpun Enciety.co, menemukan bahwa barrier utama penurunan harga di tingkat lokal bukan lagi pasokan fisik, melainkan nilai tukar Rupiah yang melemah tajam hingga menembus Rp16.600 per dolar AS di penghujung tahun, serta ketidakpastian implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membebani psikologi pasar.
Rapor Merah Rupiah vs. Diskon Global
Data perdagangan internasional menunjukkan tren bearish (turun) yang konsisten di pasar global. Pada penutupan perdagangan 9 Desember 2025, harga kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) berada di level USD 10,87 per bushel, turun sekitar 0,59% dibandingkan hari sebelumnya. Secara tren tahunan, harga ini jauh lebih rendah dibandingkan periode krisis pangan 2022-2023 yang sempat menyentuh USD 15-17 per bushel.
Namun, “diskon” harga dunia ini tidak serta-merta dinikmati importir dan perajin lokal. Penyebab utamanya adalah pelemahan mata uang garuda.
Berdasarkan data pasar spot Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dan Trading Economics, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada awal Desember 2025 terperosok ke level Rp16.683 per dolar AS. Angka ini menunjukkan depresiasi sekitar 5,26% dalam setahun terakhir.
Hal ini adalah currency trap (jebakan mata uang). Meskipun harga FOB (Free on Board) kedelai di Amerika atau Brasil turun 10-15%, biaya untuk menebus Dolar AS naik 5-6%. Akibatnya, harga landed cost di Tanjung Priok tetap tinggi di kisaran Rp10.000-an per kilogram sepanjang pertengahan tahun.
Dinamika Harga Lokal, Roller Coaster 2025
Sepanjang 2025, harga kedelai di tingkat konsumen (perajin) mengalami volatilitas yang menguji daya tahan industri kecil. Pada Q2 2025 (April – Juni). Harga kedelai impor merangkak naik di tengah momentum Ramadan dan Lebaran. Rata-rata harga nasional menyentuh Rp10.769 per kg, dengan harga tertinggi di Papua mencapai Rp15.229 per kg. Sekjen Puskopti DKI Jakarta, saat itu menyebut kenaikan ini bukan karena stok langka, tetapi murni karena stok gudang menipis dan Dolar yang terus menguat.
Pada Q3 2025 (Juli – September). Harga bertahan tinggi di kisaran Rp10.900-an, membuat margin keuntungan perajin tahu-tempe semakin tipis. Banyak perajin terpaksa memperkecil ukuran produk alih-alih menaikkan harga jual.
Pada Q4 2025 (Oktober – Desember). Titik balik mulai terlihat. Memasuki November, harga kedelai impor di beberapa daerah seperti Yogyakarta dilaporkan turun ke level Rp9.500 per kg. Bahkan, data panel harga nasional mencatat penurunan tajam pada kedelai lokal hingga ke level Rp8.100 per kg di awal Oktober.
Penurunan harga di akhir tahun ini memberikan sedikit napas lega bagi industri, meskipun dibayangi oleh ketidakpastian ekonomi makro.
Banjir dari Selatan, Dominasi Brasil
Faktor fundamental yang menyelamatkan pasar dari lonjakan harga lebih gila adalah Brasil. Raksasa Amerika Selatan ini diproyeksikan mencetak rekor panen pada musim 2025/2026 sebesar 182,9 juta metrik ton (MMT), naik dari 173,5 MMT tahun sebelumnya.
Laporan Fastmarkets menyebutkan bahwa Brasil kini menguasai 65% pangsa pasar impor China pada paruh pertama 2025, menggeser dominasi Amerika Serikat. China, sebagai konsumen terbesar dunia, diproyeksikan mengimpor 112 juta ton kedelai tahun ini. Pergeseran peta dagang ini membuat stok kedelai AS menumpuk dan menekan harga global (CBOT) tetap rendah.
Bagi Indonesia, yang 88% pasokannya masih bergantung pada AS[9], situasi ini sebenarnya membuka peluang diversifikasi. Gakoptindo (Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia) sempat menyuarakan wacana pengalihan impor ke Brasil jika harga AS terus melambung akibat biaya logistik atau perang dagang.
Faktor “Makan Bergizi Gratis,” Antara Harapan dan Realitas Anggaran
Salah satu narasi terbesar yang membayangi pasar pangan 2025 adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintahan Presiden RI saat ini. Pasar sempat berspekulasi bahwa program ini akan memicu lonjakan permintaan kedelai (untuk tahu/tempe) secara drastis.
USDA (Departemen Pertanian AS) bahkan merevisi proyeksi impor kedelai Indonesia tahun 2025 menjadi 2,6 juta ton (naik 2%), dengan asumsi adanya kenaikan konsumsi dari program MBG.
Namun, realitas di lapangan berkata lain. Hingga Desember 2025, Asosiasi Kedelai Indonesia (Akindo) memastikan stok aman karena belum ada lonjakan konsumsi yang signifikan dari program tersebut.
Penyebabnya adalah kendala fiskal. Defisit APBN 2025 yang membengkak memaksa pemerintah melakukan penundaan (moratorium) pada banyak pengadaan barang dan jasa, serta evaluasi ulang anggaran MBG yang dinilai kurang hingga akhir tahun. Hal ini membuat “ledakan permintaan” yang ditakutkan pasar tidak terjadi, sehingga harga tidak melonjak liar di akhir tahun.
Outlook 2026
Berdasarkan data hingga 10 Desember 2025, kami menyimpulkan tiga poin krusial untuk outlook awal 2026. Harga global tetap lunak. Dengan panen raya Brasil yang akan masuk pasar pada awal 2026, tekanan ke bawah pada harga global akan berlanjut. Ini berita baik bagi Indonesia.
Rupiah adalah kunci. Jika Rupiah tidak bisa kembali ke level psikologis di bawah Rp16.000, penurunan harga global tidak akan terasa signifikan di tingkat perajin.
Waspada Q1 2026. Implementasi penuh program MBG di 2026, jika anggaran cair, berpotensi mengetatkan stok lokal secara tiba-tiba jika tidak diantisipasi dengan kontrak impor jangka panjang.
Tabel Ringkasan Data Pasar Kedelai (Per 10 Des 2025) :
|
Indikator |
Data Terkini |
Perubahan (YoY/QoQ) |
Keterangan |
| Harga Global (CBOT) | USD 10,87 / bushel | Turun (-2,58% MoM) | Tren Bearish akibat oversupply |
| Nilai Tukar (USD/IDR) | USD 10,87 / bushel | Turun (-2,58% MoM) | Tren Bearish akibat oversupply |
| Nilai Tukar (USD/IDR) | Rp 16.683 | Melemah (-5,26% YoY) | Faktor utama penahan harga tinggi |
| Proyeksi Impor RI | 2,6 Juta Ton | Naik (+2%) | Antisipasi program MBG |
| Produksi Brasil 25/26 | 182,9 Juta Ton | Naik Tajam | Rekor tertinggi baru |


