Tahun 2025 menandai periode transformatif bagi PT Pegadaian, perusahaan gadai milik negara yang beroperasi selama 124 tahun. Dengan meluncurkan aplikasi super Tring!, memperkenalkan layanan Bank Emas, dan memanfaatkan sinergi Holding Ultra Mikro (UMi), Pegadaian mencatatkan kinerja keuangan yang mengesankan sekaligus menghadapi tantangan persaingan industri yang semakin kompleks.
Kinerja finansial 2025, pertumbuhan konsisten melampaui target. Pegadaian menutup kuartal ketiga 2025 dengan pencapaian yang membanggakan. Laba bersih perusahaan tumbuh 27,7% year-on-year (YoY) menjadi Rp5,67 triliun per 30 September 2025, dibandingkan Rp4,44 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini mencerminkan momentum bisnis yang stabil dan strategi diversifikasi yang berhasil.
Aset Pegadaian mencapai Rp129,2 triliun, menunjukkan pertumbuhan 28,9% YoY dari Rp100,3 triliun. Lebih signifikan lagi, Outstanding Loan Gross (OSL), indikator utama volume pembiayaan, tumbuh 29,4% YoY menjadi Rp107,4 triliun dari Rp83 triliun.

Semester pertama 2025 juga menunjukkan performa yang solid. Pegadaian membukukan laba bersih Rp3,58 triliun (tumbuh 23,1%), dengan aset mencapai Rp121,1 triliun (naik 29,3%) dan OSL Gross sebesar Rp101,5 triliun (tumbuh 31,8%). Pertumbuhan konsisten ini melampaui proyeksi awal dan membuktikan resiliensi bisnis di tengah dinamika ekonomi yang kompleks.
Rasio profitabilitas Pegadaian juga membaik signifikan. Return on Assets (ROA) mencapai 6,21% dan Return on Equity (ROE) mencapai 17,23% pada 2024, sementara rasio BOPO (Beban Operasional Pendapatan Operasional) mencapai angka terendah selama beberapa tahun, yaitu 63,75%. Efisiensi operasional ini menunjukkan manajemen perusahaan yang semakin matang dan disiplin dalam pengelolaan biaya.
Perbandingan dengan 2024, akselerasi pertumbuhan berkelanjutan. Membandingkan kinerja 2024 dengan 2025 menunjukkan tren akselerasi yang konsisten. Pada 2024, Pegadaian mencatat laba bersih Rp5,85 triliun (tumbuh 33,7% dari 2023), aset Rp102,62 triliun (naik 24,2%), dan OSL Rp85,38 triliun (tumbuh 26,3%).
Kontras dengan pertumbuhan 2024 yang masih memanfaatkan momentum pemulihan pasca-pandemi, 2025 menunjukkan pertumbuhan yang didorong oleh inovasi produk dan ekspansi pasar. Pertumbuhan OSL di 2025 (29,4% di Q3) melampaui pertumbuhan 2024 (26,3%), mengindikasikan akselerasi penyaluran kredit. Demikian pula, pertumbuhan aset 2025 (28,9% di Q3) masih kuat meskipun sedikit di bawah rata-rata 2024 (24,2%).

Penurunan Non-Performing Loan (NPL) menunjukkan peningkatan kualitas kredit yang signifikan. NPL Pegadaian turun dari 0,85% di 2023 menjadi 0,63% di 2024, dan membaik lebih lanjut menjadi 0,80% pada Februari 2025 (turun dari 1,23% Februari 2024). Pencapaian ini mencerminkan penerapan kerangka manajemen risiko kredit yang ketat.
Strategi Transformasi, Digitalisasi dan Ekosistem Emas
Tahun 2025 menandai era baru transformasi digital Pegadaian dengan peluncuran aplikasi Tring! pada 8 Oktober 2025. Aplikasi ini merupakan super app finansial terintegrasi yang memungkinkan nasabah melakukan transaksi investasi emas, gadai tabungan emas, layanan bayar gadai, dan angsuran semua dalam satu platform.
Tring! dirancang dengan slogan “Cepat, Aman, dan Mudah” (#MulaiDariTring!) dan menawarkan fitur komprehensif termasuk tabungan emas digital, cicilan emas, gadai emas, jual-beli emas, hingga layanan pembiayaan. Aplikasi ini terintegrasi langsung dengan BRImo, super app BRI dengan 42 juta pengguna aktif, membuka potensi pasar hingga 45 juta pengguna potensial.
Pencapaian Tring! sangat impresif. Dalam waktu singkat setelah peluncuran, aplikasi ini telah menarik 2 juta pengguna hingga November 2025, jauh melampaui proyeksi awal 4 juta pengguna pada akhir tahun. Pertumbuhan ini menunjukkan antusiasme pasar terhadap solusi investasi emas digital yang praktis dan terpercaya.
Layanan Bank Emas Pegadaian, diresmikan pada Februari 2025, juga menunjukkan performa gemilang. Produk andalan, Deposito Emas, mencatat saldo 1,57 ton hingga 30 September 2025, meningkat dari 1,28 ton per 1 Juli 2025. Produk ini menawarkan fleksibilitas investasi emas kepada nasabah dengan persyaratan yang lebih mudah dibandingkan sistem gadai konvensional.
Pegadaian menerapkan sistem 1:1 untuk layanan transaksi emas, artinya setiap transaksi Cicil Emas atau Tabungan Emas didukung oleh persediaan emas fisik yang setara, tersimpan di vault berstandar internasional. Transparansi dan keamanan ini menjadi diferensiator utama dibandingkan kompetitor.
Kolaborasi Holding Ultra Mikro, Memperkuat Inklusi Keuangan
Sinergi antara BRI, Pegadaian, dan PNM melalui Holding Ultra Mikro (UMi) menjadi elemen krusial dalam strategi pertumbuhan Pegadaian. Hingga triwulan II 2025, Holding UMi telah melayani 34,7 juta debitur aktif dengan total pembiayaan mencapai Rp631,9 triliun, di mana Pegadaian menyumbang Rp101,5 triliun.
Kolaborasi ini memungkinkan Pegadaian untuk memperluas jangkauan ke segmen ultra mikro yang sebelumnya kurang mendapat akses pembiayaan formal. Melalui cross-selling dan integrasi produk, ketiga lembaga keuangan BUMN ini menciptakan ekosistem pembiayaan yang komprehensif untuk mendukung ekonomi kerakyatan.
Tantangan industri, persaingan membengkak dan regulasi dinamis. Kepemimpinan Pegadaian di industri pergadaian tidak lagi unggul tanpa tandingan. Hingga Agustus 2025, terdapat 214 perusahaan pergadaian yang telah berizin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dengan 200 di antaranya adalah pemain swasta. Jumlah ini terus bertambah seiring dengan kebijakan deregulasi OJK yang menyederhanakan persyaratan izin usaha gadai.
Persaingan industri yang semakin ketat ini mendorong perusahaan, baik Pegadaian maupun pemain swasta, untuk meningkatkan kualitas layanan dan inovasi produk. Asosiasi Pergadaian Indonesia (PPGI) mengidentifikasi kunci kompetitif sebagai kualitas layanan, penawaran harga yang wajar, dan perlindungan hak-hak nasabah.
Pegadaian merespons dengan strategi kolaborasi dan kompetisi sekaligus. Direktur Utama Pegadaian, menyatakan bahwa Pegadaian memilih untuk berkolaborasi dalam ekspansi pasar dan edukasi, namun tetap berupaya memberikan penawaran terbaik agar menjadi pilihan utama nasabah.
Regulasi industri juga mengalami transformasi signifikan. OJK meluncurkan Roadmap Pengembangan dan Penguatan Industri Pergadaian 2025–2030 pada Oktober 2025, mengidentifikasi empat pilar utama: permodalan, tata kelola, manajemen risiko, dan SDM, pengaturan, pengawasan, dan perizinan; edukasi dan perlindungan konsumen; serta pengembangan elemen ekosistem.
Roadmap ini akan diimplementasikan dalam tiga fase: penguatan fondasi dan konsolidasi (2025–2026), penciptaan momentum (2027–2028), dan penyesuaian serta pertumbuhan (2029–2030). Kebijakan ini dirancang untuk membuat industri pergadaian lebih profesional, sehat, dan inklusif, sekaligus meningkatkan perlindungan konsumen terhadap pegadaian ilegal.
Dinamika Harga Emas, Tailwind untuk Bisnis Emas Pegadaian
Performa bisnis emas Pegadaian sangat diuntungkan oleh tren kenaikan harga emas global di 2025. Harga emas spot telah melonjak lebih dari 54% sepanjang tahun ini, menembus sejumlah rekor tertinggi termasuk puncak USD 4.381,21 per ounce pada 20 Oktober 2025.
Kenaikan harga emas didorong oleh beberapa faktor: ketegangan geopolitik berkelanjutan, ekspektasi pemangkasan suku bunga, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, dan aliran dana masuk ke ETF berbasis emas. Data menunjukkan lebih dari 50% masyarakat Indonesia memilih emas sebagai instrumen investasi utama, dengan nilai transaksi emas digital nasional diperkirakan menembus Rp 70 triliun pada akhir 2025.
Momentum positif ini memberikan dampak langsung pada bisnis Pegadaian. Kenaikan harga emas meningkatkan nilai kolateral, mendorong lebih banyak nasabah untuk melakukan transaksi gadai emas atau investasi emas melalui produk-produk Pegadaian. Deposito Emas, misalnya, menjadi produk yang increasingly diminati karena menawarkan returns yang kompetitif di tengah inflasi.
Prospek 2026, Pertumbuhan Berkelanjutan dengan Tantangan Baru
Proyeksi untuk 2026 menunjukkan landasan yang menguntungkan bagi pertumbuhan Pegadaian. Goldman Sachs memperkirakan harga emas untuk Desember 2026 akan mencapai USD 4.900 per ounce, meningkat dari proyeksi sebelumnya USD 4.300. Morgan Stanley memprediksi harga emas bisa mencapai USD 4.500 per ounce pada pertengahan 2026, sementara Bank Dunia memproyeksikan rata-rata harga emas naik 5% menjadi USD 3.575/troy ounce pada 2026.
Kenaikan harga emas yang konsisten akan terus mendukung pertumbuhan bisnis emas Pegadaian di 2026. Permintaan dari bank sentral global diperkirakan akan rata-rata 70 ton pada 2026, sementara ETF berbasis emas diharapkan terus menerima aliran dana.
Namun, pertumbuhan Pegadaian di 2026 akan dihadapkan pada beberapa tantangan. Pertama, persaingan industri akan semakin intensif seiring dengan pertambahan pemain baru pasca-deregulasi OJK. Kedua, risiko kredit tetap menjadi perhatian, terutama mengingat sensitivitas bisnis gadai terhadap fluktuasi daya beli masyarakat dan siklus ekonomi. Ketiga, regulasi yang semakin ketat akan menuntut Pegadaian untuk meningkatkan standar GCG dan manajemen risiko.
Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan, Pegadaian perlu fokus pada pengembangan lebih lanjut ekosistem digital melalui Tring! dan integrasi dengan BRImo, perluasan jangkauan layanan emas kepada segmen menengah dan bawah, penguatan kontrol risiko kredit terutama pada produk non-gadai, dan peningkatan edukasi literasi finansial masyarakat tentang investasi emas yang aman dan menguntungkan.
Strategi kolaborasi dalam Holding Ultra Mikro juga perlu dioptimalkan. Target melayani 45 juta debitur ultra mikro pada 2024 menunjukkan ambisi Pegadaian sebagai akselerator inklusi keuangan. Ekspansi ini harus dikombinasikan dengan penguatan kapasitas SDM dan sistem manajemen risiko untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan tanpa mengorbankan kualitas kredit.
Momentum Transformasi yang Perlu Dipertahankan
Pegadaian 2025 menunjukkan performa finansial yang impresif dengan pertumbuhan laba 27,7%, aset 28,9%, dan OSL 29,4% year-on-year. Transformasi digital melalui Tring! dan ekspansi bisnis emas melalui Bank Emas telah membuka peluang pertumbuhan baru dan memperkuat positioning perusahaan sebagai leader dalam ekosistem emas dan akselerator inklusi keuangan.
Namun, kesuksesan 2025 ini harus dipandang dalam konteks yang lebih luas. Industri pergadaian Indonesia sedang mengalami pertumbuhan eksponensial dengan 214 perusahaan berizin dan terus bertambah. Persaingan yang semakin ketat akan memaksa Pegadaian untuk terus berinovasi dan meningkatkan efisiensi operasional.
Prospek 2026 terlihat menjanjikan dengan proyeksi harga emas yang terus menanjak. Namun, pertumbuhan ini tidak dijamin dan bergantung pada kemampuan Pegadaian untuk, mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar di tengah persaingan, mengelola risiko kredit dengan ketat terutama pada segmen ultra mikro, mengoptimalkan transformasi digital untuk memberikan value tambahan kepada nasabah, dan terus berinovasi dalam mengembangkan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan pasar yang terus berubah.
Dengan strategi yang tepat dan eksekusi yang solid, Pegadaian memiliki potensi untuk melanjutkan tren pertumbuhan positif di 2026 dan seterusnya, sekaligus berkontribusi signifikan terhadap inklusi keuangan dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan di Indonesia.


