China telah mencatatkan pencapaian bersejarah dalam upaya dekarbonisasi global dengan berhasil menurunkan emisi karbon dioksida sebesar 1% pada semester pertama 2025. Untuk pertama kalinya, penurunan emisi ini terjadi bukan karena melemahnya pertumbuhan ekonomi, melainkan karena lonjakan pertumbuhan energi bersih yang melampaui permintaan listrik.
Menurut analisis dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA), emisi CO2 China turun 1,6% secara year-on-year pada kuartal pertama 2025 dan 1% dalam 12 bulan terakhir. Pencapaian ini menandai titik balik struktural dalam ekonomi China, di mana pertumbuhan energi bersih akhirnya berhasil mendorong turunnya penggunaan bahan bakar fosil meskipun permintaan energi terus meningkat.

Faktor Kunci Keberhasilan Penurunan Emisi
China menambahkan 268 gigawatt (GW) kapasitas energi terbarukan pada semester pertama 2025, meningkat 99,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penambahan ini menyumbang 91,5% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik baru yang dibangun.
Energi surya mendominasi dengan penambahan 212 GW, sementara tenaga angin menyumbang 51,39 GW. Pencapaian ini memecahkan rekor global, dengan China memasang hampir 100 panel surya per detik dan satu turbin angin setiap 10 menit pada Mei 2025.
Lonjakan kapasitas energi terbarukan menghasilkan dampak langsung terhadap struktur pembangkitan listrik China. Emisi sektor kelistrikan turun 3% karena pembangkitan dari turbin angin dan panel surya baru melampaui pertumbuhan permintaan listrik. Hal ini memungkinkan pembangkit listrik termal mengurangi pembakaran batu bara.
Pada kuartal pertama 2025, meskipun permintaan listrik keseluruhan naik 2,5%, pembangkitan listrik termal (terutama batu bara dan gas) turun 4,7%. Ini menunjukkan bahwa pembangkitan energi bersih dari sumber angin, surya, dan nuklir tumbuh lebih cepat daripada permintaan listrik.

Meskipun pencapaian positif di sektor kelistrikan, industri kimia China menjadi sumber utama peningkatan emisi. Sektor ini mengalami lonjakan konsumsi batu bara sebagai bahan bakar dan bahan baku naik 20% dalam enam bulan pertama 2025, meningkat dari kenaikan 10% tahun sebelumnya.
Industri coal-to-chemicals (batu bara menjadi bahan kimia) menghasilkan 690 juta ton CO2 pada tahun lalu, sekitar 410-440 juta ton lebih banyak dibanding pabrik kimia tradisional berbasis minyak bumi. Proses kimia berbasis batu bara ini menghasilkan emisi 2,2 kali lebih tinggi dibanding proses yang menggunakan bahan baku gas alam.
Kontribusi sektor lainnya, seperti sektor baja dan semen turut berkontribusi pada penurunan emisi karena kemerosotan sektor properti yang berkepanjangan. Namun, penurunan emisi baja bisa lebih besar jika pabrik tidak cenderung menutup tungku busur listrik yang lebih efisien sebelum produksi berbasis batu bara yang lebih murah.
Implikasi Global dan Proyeksi Masa Depan
China saat ini bertanggung jawab atas 30% dari emisi gas rumah kaca global dan telah menyumbang 90% dari pertumbuhan emisi CO2 sejak penandatanganan Perjanjian Paris pada 2015. Dengan pencapaian penurunan emisi ini, China berpotensi mencapai puncak emisi sebelum target 2030.
Para ahli kini lebih optimis tentang kemungkinan China mencapai puncak emisi lebih awal, dengan 44% percaya emisi akan mencapai puncak pada 2025, naik dari hanya 15% pada 2022.
Untuk 2025 secara keseluruhan, China diproyeksikan akan menambahkan 500 GW kapasitas angin dan surya, termasuk 380 GW dari surya naik sebesar 35,5% dan 140 GW dari angin angkanya naik 77,1%. Ini akan menjadi pertama kalinya penambahan energi terbarukan melampaui 500 GW per tahun.
Total kapasitas pembangkitan listrik China diperkirakan mencapai sekitar 3,9 terawatt pada akhir 2025, dengan sumber energi non-fosil menyumbang sekitar 61% dari total kapasitas.
Pembelajaran untuk Indonesia: Strategi Akselerasi Transisi Energi
Indonesia menghadapi tantangan signifikan dalam pencapaian target energi terbarukan. Pangsa energi terbarukan hanya mencapai 14% pada 2024, jauh dari target 19%. Meskipun demikian, investasi energi terbarukan mencapai USD 1,6 miliar, melampaui target USD 1,4 miliar.
Untuk 2025, pemerintah Indonesia menargetkan peningkatan investasi energi terbarukan sebesar 28% menjadi USD 1,8 miliar dan pangsa energi terbarukan 23%. Dalam RUPTL 2025-2034, Indonesia menargetkan 76% dari kapasitas pembangkitan baru berasal dari energi terbarukan.
Indonesia dapat mengadopsi pendekatan China dalam membangun kapasitas energi terbarukan secara masif dan terkoordinasi. China berhasil karena, perencanaan terpusat yang terkoordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Kemudian dari sisi skala ekonomi besar yang menurunkan biaya teknologi. Kemudian, integrasi rantai pasokan domestik yang kuat.
Indonesia perlu memperkuat kerjasama dengan China sebagai mitra strategis energi terbarukan, memanfaatkan keahlian China dalam investasi, pengembangan kapasitas infrastruktur, dan teknologi energi terbarukan.
Dalam konteks penguatan infrastruktur grid dan penyimpanan energi. Tantangan utama Indonesia adalah distribusi listrik dari sumber terbarukan ke pusat beban dan transportasi peralatan ke daerah terpencil. China mengatasi masalah serupa dengan investasi masif dalam jaringan transmisi jarak jauh. Kemudian pengembangan teknologi penyimpanan energi seperti pumped hydro. Lalu, solusi grid pintar untuk mengelola intermittency.
Percepatan pensiun dini PLTU batubara, China berhasil mengurangi emisi sektor kelistrikan dengan menggantikan pembangkit batu bara dengan energi terbarukan. Indonesia perlu, mempercepat implementasi roadmap pensiun dini PLTU yang telah ditetapkan dalam Perpres 112/2022. Mengembangkan mekanisme pembiayaan transisi yang adil* dengan dukungan institusi keuangan internasional, menghindari pembangunan PLTU baru kecuali dalam kondisi sangat khusus.
Pengendalian sektor industri intensif karbon. Pembelajaran penting dari China adalah perlunya *pengendalian ketat sektor industri kimia dan manufaktur yang dapat menggagalkan upaya dekarbonisasi. Indonesia perlu mengembangkan regulasi ketat untuk industri intensif energi. Mendorong elektrifikasi proses industri menggunakan listrik dari energi terbarukan. Menerapkan carbon pricing yang efektif.
Indonesia dapat memanfaatkan posisi China sebagai pemimpin global teknologi energi bersih dengan mengundang investasi China dalam manufaktur peralatan energi terbarukan domestik. Kemudian, transfer teknologi dalam bidang panel surya, turbin angin, dan sistem penyimpanan.
Selanjutnya adalah kerjasama dalam pengembangan SDM teknis energi terbarukan.

Dalam konteks reformasi regulasi dan kelembagaan, pembentukan task force energi terbarukan dengan otoritas penuh seperti yang telah dilakukan. Lalu, penyederhanaan birokrasi dan percepatan proses perizinan. Kemudian dalam konteks harmonisasi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.
Mobilisasi pembiayaan inovatif. Pengembangan green finance dan instrumen pembiayaan berkelanjutan. Kerjasama dengan institusi keuangan multilateral untuk pembiayaan transisi. Kemudian, insentif fiskal yang mendorong investasi energi terbarukan.
Kemudian, pengembangan kapasitas domestik. Investasi R&D dalam teknologi energi terbarukan sesuai kondisi tropis Indonesia. Pengembangan rantai pasokan lokal untuk mengurangi ketergantungan impor. Program pelatihan masif untuk tenaga kerja sektor energi terbarukan.
Keberhasilan China menurunkan emisi karbon 1% pada semester pertama 2025 menunjukkan bahwa transisi energi struktural menuju dekarbonisasi adalah mungkin bahkan dalam ekonomi yang terus tumbuh. Kunci sukses China terletak pada kombinasi perencanaan strategis, investasi masif, dan koordinasi lintas sektor yang efektif.
Bagi Indonesia, pencapaian China memberikan blueprint praktis untuk mempercepat transisi energi. Dengan memanfaatkan kerjasama strategis, reformasi regulasi, mobilisasi pembiayaan inovatif, dan pengembangan kapasitas domestik, Indonesia dapat mengakselerasi pencapaian target Net Zero Emission 2060 sambil tetap mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Momentum global menuju energi bersih telah terbukti dapat menghasilkan dampak nyata terhadap penurunan emisi. Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari transformasi global ini, dengan China sebagai mitra strategis yang dapat membantu mempercepat perjalanan menuju masa depan energi yang bersih dan berkelanjutan.


