Selasa, April 21, 2026
spot_img
BerandaMarketRevolusi Pembiayaan BEI di 2030, Rp 81,27 Triliun Untuk Perempuan & UMKM

Revolusi Pembiayaan BEI di 2030, Rp 81,27 Triliun Untuk Perempuan & UMKM

Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Impact Investment Exchange (IIX) telah meluncurkan inisiatif ambisius yang berpotensi mengubah lanskap pembiayaan berkelanjutan di Indonesia. Orange Capital Markets, sebuah platform inovatif yang menggabungkan perspektif gender dalam pembiayaan berkelanjutan, menargetkan mobilisasi modal hingga USD 5 miliar atau setara Rp 81,27 triliun pada tahun 2030.

Inisiatif ini menandai langkah transformasional Indonesia dalam memposisikan diri sebagai pemimpin regional dalam keuangan berkelanjutan yang berperspektif gender. Dengan fokus utama pada pemberdayaan perempuan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Orange Capital Markets dirancang untuk menjawab kesenjangan pembiayaan yang signifikan dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs).

Fondasi Kuat: Kerangka Kerja Orange Bond dan Orange Sukuk

Kerangka kerja orange bond Indonesia. Orange Capital Markets dibangun di atas dua kerangka kerja nasional yang solid. Kerangka Kerja Orange Bond Indonesia menyediakan panduan komprehensif dalam perancangan, penerbitan, dan verifikasi obligasi yang sensitif gender.

Kerangka ini berlandaskan pada tiga prinsip utama. Pertama, alokasi modal positif gender. Memastikan dana diarahkan untuk proyek-proyek yang memberdayakan perempuan. Kedua, kapasitas dan kepemimpinan berwawasan gender. Penguatan kemampuan dan peran kepemimpinan perempuan. Ketiga, transparansi dalam proses dan pelaporan. Keterbukaan informasi mengenai dampak gender dari pembiayaan.

Sedangkan untuk kerangka kerja orange sukuk Indonesia. Kerangka Kerja Orange Sukuk Indonesia mengadaptasi prinsip-prinsip serupa ke dalam konteks pembiayaan berbasis syariah. Selaras dengan Maqasid al-Shariah, prinsip pendukung aset (asset-backing), dan regulasi keuangan syariah nasional, kerangka ini memberikan jalur yang jelas untuk mengintegrasikan tujuan kesetaraan gender dan inklusi sosial dalam strukturisasi sukuk.

Dalam konteks pasar, hal ini merupakan salah satu momentum pembiayaan berkelanjutan Indonesia. Indonesia telah membangun fondasi kuat dalam pembiayaan berkelanjutan dengan berhasil menghimpun lebih dari USD 11 miliar melalui instrumen hijau, syariah, dan pembiayaan berorientasi SDGs. Data Asian Development Bank menunjukkan bahwa pasar obligasi berkelanjutan Indonesia mencapai USD 13,7 miliar pada akhir September 2024, dengan pertumbuhan akselerasi 10,2% year-on-year.

Sebagai pasar keuangan hijau terbesar kedua di ASEAN, Indonesia telah menerbitkan delapan sukuk hijau sovereign sejak 2018. Green bonds mendominasi pasar dengan dua pertiga dari penerbitan obligasi berkelanjutan perusahaan Asia, menunjukkan minat yang kuat dari investor terhadap instrumen berkelanjutan.

Peran Strategis UMKM Perempuan dalam Ekonomi Indonesia

Data menunjukkan bahwa perempuan mendominasi sektor UMKM Indonesia dengan 64,5% kepemilikan dari total 65 juta UMKM. Angka ini setara dengan 41,9 juta UMKM yang dimiliki perempuan, jauh melampaui rata-rata global yang hanya satu dari tiga UMKM dimiliki perempuan.
Kontribusi UMKM terhadap ekonomi nasional sangat signifikan, mencapai 61% dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atau setara Rp 9,58 triliun. Dengan dominasi perempuan yang begitu kuat, pemberdayaan UMKM perempuan menjadi kunci strategis dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Perlu diketahui, ada beberapa poin untuk menggambarkan profil dan karakteristik UMKM perempuan. Berdasarkan penelitian SIRCO Group terhadap 500 womenpreneur Indonesia, mayoritas perempuan pengusaha menjalankan usaha mikro dengan karakteristik, 56% menjalankan usaha tanpa karyawan, 26% memiliki 1-2 karyawan dan 10% memiliki 3-5 karyawan. Dalam konteks sektor usaha, yang paling populer di kalangan perempuan pengusaha meliputi fashion (32%), kuliner (27%), retail (26%), dan kecantikan (17%).

Terobosan PNM sebagai Pionir Orange Bond Indonesia

PT Permodalan Nasional Madani (PNM) telah menjadi pionir penerbitan Orange Bond pertama di Indonesia dengan nilai total Rp 16 triliun, terdiri dari obligasi senilai Rp 6 triliun dan sukuk senilai Rp 10 triliun. Penerbitan ini mendapat respons positif dari pasar dengan peringkat tinggi dari Pefindo (idAAA untuk obligasi dan idAAAsy untuk sukuk).

Dana hasil penerbitan Orange Bond PNM dialokasikan untuk program Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera (Mekaar) yang telah melayani lebih dari 14,4 juta debitur perempuan prasejahtera. Program ini telah mengucurkan pinjaman dengan total nilai Rp 323,8 triliun sejak diluncurkan pada 2016 hingga Maret 2025.

Program Mekaar dianggap telah berjalan, lantas hal ini menunjukkan bahwa, ada 87% perempuan pemilik UMKM mengalami dampak positif selama pandemi. Lalu, 90% UMKM perempuan membutuhkan dukungan pendanaan. Sedangkan ada 25% UMKM milik perempuan berhasil mempertahankan setengah pendapatannya selama krisis.

Saat ini Indonesia menghadapi kesenjangan pendanaan program SDGs mencapai Rp 24.000 triliun. Orange Capital Markets dengan target Rp 81,27 triliun pada 2030 dapat berkontribusi signifikan dalam mengatasi kesenjangan ini, meskipun masih memerlukan sumber pendanaan tambahan yang masif.

Untuk mencapai target 2030, Indonesia memerlukan mobilisasi dana rata-rata Rp 16,25 triliun per tahun. Dengan penerbitan PNM yang baru mencapai 0,02% dari target total, diperlukan akselerasi signifikan dan partisipasi lebih banyak emiten untuk mencapai target tersebut.

BEI dan IIX akan meluncurkan Orange Bond Ecosystem Readiness Training untuk membekali pelaku pasar modal dengan pengetahuan tata kelola, strukturisasi, pengukuran dampak, dan strategi penempatan investor yang sensitif gender dan iklim. Program ini didukung Ford Foundation Indonesia dan dirancang khusus sesuai konteks regulasi Indonesia.

Dampak Global dan Regional

Indonesia menjadi negara kedua di dunia yang mengimplementasikan Women Entrepreneurs (WE) Finance Code, sebuah inisiatif global untuk menutup kesenjangan pembiayaan bagi perempuan pengusaha. Komitmen ini disampaikan Menteri Keuangan dalam sidang World Bank Group – IMF Annual Meeting di Marrakesh, Maroko, pada Oktober 2023.

Partnership antara IIX dan PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) di bawah platform SDG Indonesia One memperkuat ekosistem Orange Movement™ di Indonesia. Kolaborasi ini bertujuan mengintegrasikan prinsip-prinsip kesetaraan gender ke dalam pembiayaan infrastruktur dan pembangunan berkelanjutan.

Prospek dan Rekomendasi Strategis

IIX menargetkan mobilisasi USD 10 miliar hingga 2030 melalui Orange Movement™ global untuk memberdayakan 100 juta perempuan dan kelompok minoritas gender. Target Indonesia senilai USD 5 miliar merupakan kontribusi signifikan dalam gerakan global ini.

Untuk mencapai target ambisius ini, Indonesia perlu melakukan diversifikasi emiten. Mendorong lebih banyak perusahaan untuk menerbitkan Orange Bond dan Sukuk. Berikutnya adalah penguatan kapasitas. Melanjutkan program pelatihan untuk pelaku pasar modal. Lalu, melakukan inovasi produk. Mengembangkan instrumen keuangan baru yang selaras dengan prinsip Orange Bond. Selanjutnya adalah, kemitraan internasional. Memperkuat kolaborasi dengan lembaga internasional dan regional.

Orange Capital Markets telah diselaraskan dengan regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Indonesia Taxonomy for Sustainable Finance (TKBI). Integrasi ini memastikan bahwa inisiatif ini tidak hanya inovatif tetapi juga comply dengan kerangka regulasi nasional.

Orange Capital Markets merepresentasikan paradigma baru dalam pembiayaan berkelanjutan yang menempatkan kesetaraan gender sebagai inti strategi pembangunan ekonomi. Dengan target mobilisasi Rp 81,27 triliun pada 2030, inisiatif ini berpotensi mentransformasi lanskap UMKM perempuan Indonesia dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin regional dalam keuangan berkelanjutan.

Keberhasilan inisiatif ini akan bergantung pada kolaborasi lintas sektor, komitmen berkelanjutan dari pemerintah dan swasta, serta dukungan ekosistem yang kondusif bagi perempuan pengusaha. Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan melalui penerbitan Orange Bond pertama oleh PNM, dan kini saatnya untuk memperluas momentum ini ke seluruh industri.

Dengan 64,5% UMKM dimiliki perempuan dan kontribusi sektor ini terhadap 61% PDB nasional, pemberdayaan melalui Orange Capital Markets bukan hanya tentang kesetaraan gender, tetapi juga tentang akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan dan inklusif. Indonesia berpotensi menjadi model global dalam menggabungkan tujuan finansial dengan dampak sosial yang transformatif.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Most Popular

Recent Comments