Sektor kuliner dan F&B Indonesia mengalami transformasi signifikan dalam dua tahun terakhir, dengan pertumbuhan pesat pada platform pengiriman makanan online yang mencapai nilai pasar Rp 80 triliun pada 2024. Persaingan antara GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood menunjukkan dinamika menarik dengan ShopeeFood mencatatkan pertumbuhan tertinggi hingga 76% year-on-year. Penggunaan teknologi AI mulai diintegrasikan dalam operasional restoran dan platform digital, meskipun masih menghadapi tantangan dalam sistem review dan rating yang tidak selalu mencerminkan kualitas makanan sebenarnya. Laporan ini menganalisis perkembangan terkini, mengidentifikasi anomali dalam implikasi terhadap pelaku usaha, serta menawarkan solusi strategis untuk menavigasi ekosistem digital F&B.
Industri penjualan makanan secara online di Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif. Berdasarkan data dari Momentum Works, Indonesia berhasil membukukan nilai penjualan bruto (Gross Merchandise Value/GMV) sebesar USD 5,4 miliar atau sekitar Rp 80 triliun sepanjang 2024. Pencapaian ini menempatkan Indonesia sebagai pasar terbesar untuk layanan pengiriman makanan online di Asia Tenggara, dengan tingkat pertumbuhan tahunan mencapai 18%. Pertumbuhan ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan di kawasan Asia Tenggara yang sebesar 13% pada periode yang sama.
Lonjakan signifikan dalam penggunaan layanan pesan antar makanan di Indonesia tidak lepas dari perubahan perilaku konsumen yang mulai terbiasa menggunakan layanan daring, terutama sejak pandemi Covid-19 yang membatasi interaksi langsung. Layanan pengiriman makanan online kini telah menjadi bagian integral dalam gaya hidup masyarakat Indonesia sebagai alternatif praktis dan cepat dalam memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar sektor ini terus berlanjut hingga awal 2025, menandakan adopsi yang semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia.
Dinamika Persaingan Antar Platform
Persaingan di antara platform pengiriman makanan di Indonesia semakin intensif sepanjang 2024-2025, dengan perubahan signifikan dalam pangsa pasar di antara tiga pemain utama: GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood.
GrabFood masih mempertahankan posisi teratas di pasar Indonesia pada 2024 dengan nilai GMV mencapai USD 2,54 miliar, menunjukkan pertumbuhan 10% dibandingkan tahun 2023. GoFood berada di posisi kedua dengan GMV sebesar USD 1,89 miliar, tumbuh 8% year-on-year. Namun, ShopeeFood mencatatkan pertumbuhan yang paling impresif sebesar 76% dengan GMV mencapai USD 0,97 miliar pada 2024.
Tren jangka panjang selama periode 2021-2024 menunjukkan pola yang lebih dramatis. ShopeeFood mengalami lonjakan GMV hingga 164% selama tiga tahun tersebut, sementara GrabFood hanya tumbuh 13%, dan GoFood justru mengalami penurunan sebesar 4%. Momentum Works juga mencatat bahwa meskipun GMV ShopeeFood masih relatif lebih kecil dibandingkan dua pesaingnya, pangsa pasarnya terus meningkat dalam empat tahun terakhir, sementara pangsa pasar GrabFood dan GoFood cenderung menurun.
Berdasarkan data terbaru dari awal 2025, ShopeeFood bahkan telah melampaui GoFood dalam nilai GMV, dengan capaian USD 2,3 miliar dibandingkan USD 1,9 miliar milik GoFood. Pergeseran signifikan ini menandai perubahan lanskap kompetitif dalam industri pengiriman makanan online di Indonesia.
Grab sebagai salah satu pemain utama dalam ekosistem pengiriman makanan di Indonesia mencatat kinerja keuangan yang positif. Untuk keseluruhan tahun 2024, pendapatan dari segmen Deliveries Grab tumbuh 14% YoY, atau 17% YoY berdasarkan mata uang yang konstan, mencapai USD 1,493 miliar. Pada kuartal keempat 2024, GMV On-Demand Grab tumbuh 20% YoY menjadi USD 5,0 miliar, dengan laba kuartal mencapai USD 11 juta.
Perkembangan ini mencerminkan tren menuju profitabilitas yang lebih berkelanjutan dalam industri pengiriman makanan online. CEO Grab, Anthony Tan, menyatakan bahwa kuartal keempat 2024 merupakan kuartal terkuat perusahaan, dengan pertumbuhan GMV On-Demand yang mencapai 20% YoY, disertai dengan peningkatan profitabilitas secara berkelanjutan. Selain itu, Chief Financial Officer Grab, Peter Oey, menyoroti pencapaian rekor Adjusted EBITDA Grup sepanjang 2024 sebesar USD 313 juta dan Adjusted Free Cash Flow sebesar USD 136 juta.
Integrasi Teknologi AI dalam Sektor F&B
Teknologi Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi komponen penting dalam transformasi digital sektor kuliner dan F&B di Indonesia. Restoran semakin memanfaatkan teknologi canggih untuk menciptakan pengalaman berkuliner yang lebih menarik, meningkatkan efisiensi operasional, dan membangun loyalitas pelanggan.
Salah satu penerapan AI yang mulai diadopsi secara luas adalah sistem pemesanan otomatis. Pelanggan dapat memesan makanan melalui situs web atau aplikasi, dan teknologi AI membantu mengatur pesanan, melakukan konfirmasi, hingga memproses pembayaran secara otomatis. Sistem ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional restoran tetapi juga memberikan pengalaman pemesanan yang lebih lancar dan personal bagi pelanggan.
Meskipun informasi spesifik tentang tingkat adopsi AI di restoran Indonesia terbatas dalam hasil pencarian, tren global menunjukkan bahwa implementasi AI dalam industri kuliner mencakup berbagai aspek, seperti manajemen inventaris yang prediktif untuk mengurangi pemborosan bahan makanan, chatbot untuk layanan pelanggan yang dapat merespons pertanyaan dan menerima pesanan, sistem dapur yang terautomasi untuk standarisasi kualitas makanan dan analisis data pelanggan untuk personalisasi menu dan promosi.
Platform pengiriman makanan seperti GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood semakin mengintegrasikan teknologi AI untuk mengoptimalkan layanan mereka dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan dan mitra restoran. AI digunakan untuk menyempurnakan berbagai aspek operasional, termasuk algoritma prediksi permintaan yang membantu restoran mempersiapkan pesanan pada waktu-waktu sibuk. Sistem pencocokan driver yang lebih efisien untuk meminimalkan waktu pengiriman. Berikutnya adalah rekomendasi menu personal berdasarkan preferensi dan riwayat pemesanan pelanggan. Lalu, analisis geografis untuk mengidentifikasi area dengan permintaan tinggi
ShopeeFood, sebagai platform yang mencatatkan pertumbuhan paling pesat, kemungkinan memanfaatkan keunggulan teknologinya sebagai bagian dari ekosistem e-commerce Sea Group. Proyeksi menunjukkan bahwa ShopeeFood dapat menjadi “pintu masuk untuk quick commerce” ketika model bisnis ini akhirnya berkembang di Indonesia, mengikuti tren yang terlihat di pasar seperti Tiongkok dengan Meituan dan India dengan Zomato’s Blinkit.
Anomali dalam Sistem Review dan Rating
Ketidaksesuaian antara kualitas dan penilaian digital menjadi kendala tersendiri dalam platform digital. Meskipun platform pengiriman makanan online membawa banyak manfaat, sistem review dan rating dalam platform ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi pelaku usaha F&B. Salah satu anomali yang sering terjadi adalah ketidaksesuaian antara kualitas makanan sebenarnya dengan review yang diterima di platform digital.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan anomali ini meliputi, ekspektasi pelanggan yang tidak realistis terkait waktu pengiriman atau presentasi makanan setelah proses pengiriman. Faktor berikutnya adalah faktor non-kuliner seperti kesalahan driver atau masalah dalam aplikasi yang memengaruhi penilaian makanan.
Faktor yang perlu dicermati dan menjadi tantangan adalah manipulasi review oleh kompetitor atau pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini jelas merugikan dan meciptakan persaingan tidak sehat. Kemudian, faktor ketidaksesuaian preferensi subjektif pelanggan dengan konsep makanan yang ditawarkan. Kemudian ada istilah faktor “Review bombing” atau praktik memberikan penilaian negatif secara massal karena alasan yang tidak terkait dengan kualitas produk.
Meskipun hasil pencarian tidak secara spesifik menyebutkan kasus di mana makanan yang enak mendapat review jelek, fenomena ini telah menjadi perhatian pelaku usaha F&B di Indonesia yang mengandalkan platform online untuk menjangkau pelanggan.
Anomali dalam sistem review dan rating memiliki implikasi serius bagi pelaku usaha F&B yang mengandalkan platform online. Review negatif yang tidak sesuai dengan kualitas sebenarnya dapat berdampak pada penurunan pesanan dan pendapatan karena algoritma platform cenderung menampilkan restoran dengan rating lebih tinggi. Berikutnya adalah kerusakan reputasi digital jangka panjang yang sulit untuk diperbaiki
Tekanan psikologis pada pemilik usaha dan karyawan yang merasa upayanya tidak dihargai juga dapat timbul dari anomali dalam sistem review dan rating. Sementara itu, biaya tambahan untuk insentif dan promosi guna mengatasi dampak review negatif
Kesulitan dalam membangun basis pelanggan loyal melalui platform digital
Pelaku usaha F&B yang baru memasuki ekosistem digital terutama rentan terhadap dampak review negatif, karena mereka belum memiliki basis review positif yang cukup untuk mengimbangi penilaian negatif yang mungkin tidak adil atau tidak akurat.
Strategi pengelolaan reputasi digital
Pendekatan proaktif dalam manajemen review dapat dilakukan. Untuk mengatasi tantangan ketidaksesuaian antara kualitas makanan dan review, pelaku usaha F&B perlu mengadopsi pendekatan proaktif dalam mengelola reputasi digital mereka. Diantaranya, melakukan monitoring review secara aktif dan memberikan respons profesional terhadap setiap umpan balik, baik positif maupun negatif, untuk menunjukkan komitmen terhadap kepuasan pelanggan.
Berikutnya, mengembangkan sistem feedback internal yang memungkinkan pelanggan untuk menyampaikan keluhan langsung kepada restoran sebelum menulis review publik. Lalu, mendorong pelanggan yang puas untuk meninggalkan review positif melalui insentif atau program loyalitas. Bekerja sama dengan platform untuk menangani review yang diduga palsu atau tidak beralasan
Penting bagi pelaku usaha untuk memahami bahwa respons terhadap review negatif sama pentingnya dengan kualitas makanan itu sendiri. Respons yang profesional dan konstruktif dapat membantu memitigasi dampak review negatif dan bahkan mengubahnya menjadi kesempatan untuk menunjukkan komitmen terhadap layanan pelanggan.
Memanfaatkan AI untuk analisis sentimen dan manajemen reputasi dapat dilakukan untuk mencari solusi bagi para pelaku usaha. Teknologi AI dapat menjadi alat yang efektif dalam mengelola reputasi digital restoran. Ada beberapa langkah implementatif, pertama implementasi sistem analisis sentimen untuk memantau dan menganalisis review pelanggan secara real-time. Kedua, penggunaan AI untuk mengidentifikasi pola dalam feedback pelanggan dan mendeteksi area yang memerlukan perbaikan. Ketiga, otomatisasi respons awal terhadap review untuk memastikan ketepatan waktu tanggapan, yang kemudian dapat dipersonalisasi oleh tim manajemen. Lalu yang keempat adalah penerapan sistem prediktif yang dapat mengidentifikasi potensi masalah sebelum muncul dalam review publik.
Dengan memanfaatkan teknologi AI, restoran dapat mengubah big data dari review pelanggan menjadi insight yang actionable, memungkinkan perbaikan berkelanjutan dalam kualitas makanan dan layanan.
Pengembangan strategi omnichannel dapat dilakukan agar dapat menciptakan diversifikasi saluran penjualan. Untuk mengurangi ketergantungan pada satu platform dan sistem review tunggal, pelaku usaha F&B perlu mengembangkan strategi omnichannel yang komprehensif. Hal ini dilakukan supaya dapat membangun kehadiran di berbagai platform pengiriman makanan untuk menjangkau basis pelanggan yang lebih luas dan mendiversifikasi sumber pendapatan.
Selain itu, mengembangkan kanal pemesanan langsung melalui situs web atau aplikasi sendiri yang memungkinkan kontrol lebih besar atas pengalaman pelanggan. Lantas, para pelaku usaha F&B dapat mengintegrasikan program loyalitas lintas platform untuk mendorong pembelian berulang dan membangun hubungan langsung dengan pelanggan. Memanfaatkan media sosial sebagai kanal pemasaran dan engagement yang tidak tergantung pada platform pengiriman makanan dapat juga dilakukan untuk dapat menciptakan peluang pasar baru bagi para pelaku usaha F&B.
Strategi omnichannel yang efektif tidak hanya mengurangi risiko terkait review negatif pada platform tertentu tetapi juga memberikan fleksibilitas lebih besar dalam merespons perubahan kondisi pasar dan preferensi konsumen.
Sementara itu, identitas merek yang kuat dapat membantu pelaku usaha F&B mengatasi dampak review negatif yang tidak adil. Untuk dapat membangun identitas merek yang kuat, mengembangkan narasi merek yang autentik dan konsisten di seluruh platform digital dapat dilakukan.
Lalu memanfaatkan konten visual berkualitas tinggi untuk menampilkan produk dan pengalaman kuliner secara menarik. Kemudian, berkolaborasi dengan influencer kuliner yang memiliki kredibilitas untuk membangun reputasi positif. Tidak hanya itu saja, menekankan nilai unik dan diferensiasi produk yang tidak dapat dinilai semata-mata melalui sistem rating.
Pelaku usaha yang berhasil membangun identitas merek yang kuat akan lebih tangguh menghadapi fluktuasi dalam sistem rating platform dan dapat mempertahankan pelanggan loyal meskipun menghadapi review negatif sesekali.
Evolusi Platform Pengiriman Makanan dan Quick Commerce
Berdasarkan perkembangan terkini, industri pengiriman makanan online di Indonesia diproyeksikan akan mengalami evolusi signifikan dalam beberapa tahun mendatang. Pertama, konvergensi layanan pengiriman makanan dengan quick commerce, di mana platform tidak hanya menawarkan makanan tetapi juga kebutuhan sehari-hari dengan pengiriman cepat. Kedua, integrasi yang lebih dalam antara layanan pengiriman makanan dan ekosistem e-commerce yang lebih luas, seperti yang ditunjukkan oleh pertumbuhan pesat ShopeeFood sebagai bagian dari ekosistem Shopee.
Ketiga, konsolidasi pasar di mana platform yang lebih kecil mungkin diakuisisi oleh pemain yang lebih besar untuk mencapai skala ekonomi yang lebih efisien. Keempat, peningkatan fokus pada keberlanjutan lingkungan, termasuk penggunaan kemasan ramah lingkungan dan optimasi rute untuk mengurangi emisi karbon.
Rekomendasi untuk Pelaku Usaha F&B
Berdasarkan analisis perkembangan sektor kuliner dan F&B dalam konteks digitalisasi, berikut ada beberapa rekomendasi strategis yang dapat dijadikan referensi bagi para pelaku usaha F&B. Pertama, investasi pada teknologi AI untuk mengoptimalkan operasional dan meningkatkan pengalaman pelanggan, termasuk sistem pemesanan otomatis dan analisis data pelanggan. Kedua, pengembangan strategi omnichannel yang memanfaatkan berbagai platform pengiriman makanan sekaligus membangun kanal penjualan langsung. Ketiga, penerapan sistem manajemen reputasi digital yang proaktif dan responsif terhadap feedback pelanggan. Keempat, membangun identitas merek yang kuat yang tidak sepenuhnya bergantung pada rating platform. Kelima, persiapan untuk beradaptasi dengan tren quick commerce dengan mengoptimalkan menu dan operasional untuk pengiriman cepat.
Dapat disimpulkan, jika perkembangan sektor kuliner dan F&B di Indonesia dalam konteks aplikasi online dan penggunaan AI menunjukkan transformasi signifikan dengan pertumbuhan nilai pasar mencapai Rp 80 triliun pada 2024. Dinamika persaingan antara GrabFood, GoFood, dan ShopeeFood memperlihatkan pergeseran lanskap kompetitif dengan ShopeeFood mencatatkan pertumbuhan paling impresif. Teknologi AI mulai diintegrasikan dalam berbagai aspek industri kuliner, dari sistem pemesanan hingga manajemen reputasi digital.
Meskipun platform pengiriman makanan online membawa banyak peluang bagi pelaku usaha F&B, anomali dalam sistem review dan rating menghadirkan tantangan tersendiri. Ketidaksesuaian antara kualitas makanan sebenarnya dengan review yang diterima memerlukan pendekatan strategis dalam mengelola reputasi digital. Dengan mengadopsi teknologi AI, mengembangkan strategi omnichannel, dan membangun identitas merek yang kuat, pelaku usaha F&B dapat menavigasi ekosistem digital dengan lebih efektif dan memanfaatkan peluang pertumbuhan di masa depan.
Seiring dengan evolusi industri menuju integrasi yang lebih dalam dengan quick commerce dan ekosistem e-commerce yang lebih luas, pelaku usaha F&B perlu terus beradaptasi dan berinovasi untuk mempertahankan daya saing dalam lanskap digital yang dinamis.


